
Setelah mendengarkan cerita Lita, Raka mengerti gadis di samping nya benar-benar trauma dengan sebuah hubungan karena suatu penghianatan.
" Lita, tak semua pria seperti itu. Ada juga yang bisa menjaga kepercayaan." Ucap Raka pada Lita, tapi Lita hanya diam saja tak menanggapi ucapan Raka.
" Kakak juga pernah di hianati seperti Lita, tapi kakak berusaha melupakan nya saja. Kita harus melanjutkan hidup." Ucap Raka lagi.
" Benarkah?" Tanya Lita, mungkin saja dia tak percaya pria setampan dan se sempurna Raka pernah di hianati.
" Iya, bahkan kakak sudah bertunangan dengan nya. Kakak melihatnya sedang melakukan hubungan terlarang dengan pria lain, itu sekitar 4 tahun lalu."
" Kakak masih 22 tahun waktu itu, masih muda dan terlalu terburu-buru karena alasan cinta. Tapi buktinya, cinta juga yang membuat kakak kecewa." Ucap Raka lagi.
" Jadi, mulai lah buka hati mu untuk pria lain. Lupakan masa lalu mu Lit, kamu berhak bahagia dengan pria yang baik." Ucap Raka memberi nasihat.
" Heemmm, sejauh ini Lita gak punya temen deket laki-laki kak." Jawab Lita, seketika senyum terbit di bibit Raka mendengar jawaban Lita sungguh membuat hati nya berbunga.
" Kamu juga harus memilih pria yang baik, jangan terlalu mencintai pria yang salah seperti di masa lalu." Ucap Raka lagi.
" terimakasih kak." Ucap Lita dengan senyum manis nya, seketika Raka jadi salting karena senyuman itu.
Sejenak, hanya ada keheningan di dalam mobil itu. Kedua nya bungkam, hanya terdengar sesekali menghela nafas.
Tak lama terdengar bunyi ponsel Raka dalam saku nya, karena takut membahayakan akhirnya mobil menepi di pinggir jalan yang cukup ramai oleh pedagang.
Kenapa Raka tak memilih menepi di jalan sepi? Tau lah jawaban nya, nanti orang ngira kalau mereka pasangan mesoom ya kan?
" Hallo Ris, kenapa?" Rupanya telpon itu dari Haris.
" Lu dimana? Udah mau pulang?" Tanya Haris balik.
" Iya, ini lagi di jalan. Kenape sih?"
" Gue ada kerjaan mendadak bro, Lu temenin dulu Lita di rumah ye." ucap Haris di telpon.
" Yaelah, lu mah. Oke, tapi lu kapan pulang?" Tanya Raka.
" *Paling tengah malem, dah ya gue matiin dulu."
" Denger Raka, gue nitipin adek gue sama Lu berarti gue percaya sama Lu. Awas lu ngapa-ngapain adek gue, gue gorok Lu*." Peringat Haris dengan tegas.
" Iye.. Iyee.. lu percaya aja ama gue. Gue gak bakal macem-macem kok. Lu fokus kerja aje." jawab Raka. Haris pun mematikan sambungan telpon nya,
" Kenapa kak?" tanya Lita.
__ADS_1
" Haris ada kerjaan mendadak jadi kakak disuruh nemenin kamu di rumah sebelum abang kamu pulang." Jawab Raka.
" ohh gituu ya, oke deh." Ucap Lita, dia memalingkan wajah nya ke arah jalan.
" Mau jajan dulu gak nih?" Tanya Raka, dia tau pasti Lita ingin jajan tapi tidak membawa uang.
" hehee, boleh kak." Ucap Lita sambil cengengesan.
Raka yang sudah gemas pun tak dapat mengendalikan tangan nya, dia menguyel-uyel pipi Lita hingga sang Empu mengaduh kesakitan.
" Sakit oyyy." Ucap Lita dengan kesal.
" Kamu lucu banget Lita, yaudah deh jangan marah. sebagai permintaan maaf, kamu jajan yang banyak ya, nih uang nya." Ucap Raka, cara ini sangat efektif untuk membuat mood Lita kembali.
" Makasih kakak." Ucap Lita, dengan senyum cerah nya dia keluar mobil dan menghampiri pedagang cemilan.
" Lita.. Litaa.. Kamu ini udah besar tapi kelakuan polos banget kayak anak kecil, di kasih jajan aja langsung seneng. Tapi aku menyukai semua yang ada di dirimu, entah kenapa. Seperti nya aku mulai jatuh cinta padamu." Gumam Raka sambil melihat Lita sedang membeli beberapa cemilan itu.
Setelah memborong cemilan pinggir jalan, Lita masuk kembali ke dalam mobil dengan tangan yang membawa beberapa bungkusan kresek.
" Uang nya habis kak, gapapa ya?" Ujar Lita sambil menatap Raka.
" Oke yang penting kamu gak marah, kita pulang ya." Ucap Raka, lalu mengacak-acak rambut Lita dengan gemas. Tapi kali ini, Lita tak merespon karena dia sibuk dengan cemilan di tangan nya.
" Emmm, lupa kak. Kakak mau?" Tanya Lita.
" Kamu tuh suka lupa diri kalo udah makan, nyakitin tau gak di anggap." Ucap Raka lebay.
" Ihh kok baper sihh. Yaudah Nih Lita kasih." Ucap Lita, menyodorkan bungkusan cemilan nya ke hadapan Raka.
" Susah Lit, kan kakak lagi nyetir." Ucap Raka, Lita yang mengerti pun berinisiatif untuk menyuapi Raka.
" Buka mulut kakak." Perintah Lita, dan Raka hanya menurut saja.
Lita memasukan cemilan itu ke dalam mulut Raka.
" enak gak?" Tanya Lita.
" Enak, cuma minyak nya banyak." Jawab Raka.
" Emang kenapa?" Tanya Lita kepo.
" Selain gak sehat, itu juga bisa menyebabkan jerawat Lit." Jawab Raka apa ada nya.
__ADS_1
" Lita gak masalah kok kalau jerawatan, biarin aja yang penting perut kenyang." Jawab Lita sambil nyengir.
" Kamu nih di bilangin kok ngeyel." gerutu Raka.
" Lah kakak kenapa nge gas?" Tanya Lita dengan kesal. Raka pun diam, tak menjawab lagi. Dia kalah telak, harus jawab apa coba?
Setelah cukup lama, akhirnya mobil yang di kendarai Raka sampai di halaman Rumah Haris.
Terlihat sangat sunyi dan sepi, di tambah lampu nya padam menambah kesan horor.
" Lit, kok serem gini sih." Ucap Raka.
" Ckkk, penakutt." Lita berdecak sambil berjalan mendahului Raka yang masih diam mematung.
Ada rasa ragu dalam hati nya untuk masuk ke dalam, tapi mengingat sang sahabat sudah mempercayai nya untuk menemani Lita.
" Kak disini aja dulu, Lita mau mandi dulu di atas. Kalo mau makan tinggal ke dapur aja." Ucap Lita, tanpa menunggu jawaban Raka dia sudah naik ke atas.
Karena bosan, Raka mengambil remot televisi dan menonton siaran di sana. Saat tengah asik menonton siaran sepak bola tiba-tiba lampu padam di iringi teriakan dari lantai atas.
Dengan terburu-buru Raka menaiki tangga menuju kamar Lita, dengan berbekal senter ponsel dia akhirnya sampai di depan kamar Lita.
" Litt... Litaa, ini kakak. Kamu gapapa kan? Buka pintu nya." Ucap Raka dengan panik.
" Kakak, masuk aja tolongin Lita." Teriak Lita, suara nya bergetar.
Dengan yakin Raka membuka pintu dan menyorotkan senter ke arah ranjang, Lita sedang berjongkok dengan memeluk lututnya.
" Lita, kamu gapapa?" Tanya Raka Lagi.
" Kakak, Lita takut gelap kak." Ucap Lita, lagi-lagi dia memeluk Raka dengan erat.
" Sudah-sudah jangan menangis, disini ada kakak. Kamu tenang ya." Ucap Raka, dengan mengelus punggung Lita. Lita sudah menangis sesenggukan dalam pelukan Raka, dia sangat ketakutan saat ini.
🌻🌻🌻🌻
Ketauan, Lita takut gelap ya😁
**maaf kalo banyak typo, harap di maklumi 😁
jangan lupa kasih dukungan dan semangat buat author dengan like, komen, vote dan follow akun author. happy reading❤️**
__ADS_1