
" Lita mana Ris?" Tanya Raka.
" Di kamar nya, tadi turun cuma buat ngambil coklat, terus itu dia masuk lagi." Jawab Haris.
" Lu ngerasa ada yang aneh gak sama adek Lu? Sejak pulang dari rumah sakit, dia jadi pendiem. Tadi juga pas nyuruh gue pulang, dia ketus banget." Jelas Raka.
" Dia masih lemes kali."
" Gue cuma takut Lita ketemu sama Catherine, terus dia salah paham. Gue cuma gak mau ada masalah lagi sama Lita, masalah orang tua gue aja beluk selesai." Ucap Raka lagi.
Haris tercenung, pemikiran Raka bisa benar juga.
" Jangan-jangan iya Raka, Lita ketemu Catherine atau dia datang ke rumah sakit gitu?"
" Iya gue juga ngira gitu, mengingat dia wanita licik. Dia bisa aja pengaruhin Lita supaya dia benci gue, bisa aja kan?" tanya Raka, meminta pendapat Haris.
" Kita harus selidiki dulu, ruangan Lita di rawat itu VIP, pasti di lengkapi CCTV kan?" Tanya Haris.
" Iya, gue nyuruh anak buah gue buat nyelidikin sekarang juga."
Sejak kapan Lu punya anak buah?" Tanya Haris.
" Udah lama Ris, gue gak enak lah minjem terus sama bos El." Jawab Raka santai.
" Wihhh Raka keren."
" Biasalah, anak buah gue cuma bisa bela diri sama hacker, make pistol mereka kurang ahli." Jelas Raka.
" Tetep aja Lu keren." Puji Haris.
" Jangan puji gue, nanti gue terbang ke tinggian terus jatuh ke dasar jurang." Ucap Raka.
" Gue pulang dulu dah, sebentar lagi malem."
" koper Lu? Gak mau liatin Lita dulu?" Tanya Haris.
" Biarin dulu lah, dia butuh waktu sendiri buat nenangin diri, kalo gue punya salah. Gue pulang dulu yak, koper simpen dulu disini aja gue muak liat tuh koper." Ucap Raka.
" Yaudah, hati-hati di jalan bro."
" Thanks kakak ipar." Jawab Raka sambil tersenyum.
" Kesini cuma buat curhat, huhhhh." Sindir Haris, saat Raka sudah membuka pintu mobil nya.
__ADS_1
Raka hanya cekikikan dan masuk ke dalam mobil nya. Setelah mobil Raka pergi dari halaman rumah nya, Haris langsung masuk ke dalam rumah udara nya cukup dingin.
" Kak Raka udah pulang?" Tanya Lita yang baru saja turun dari kamar nya.
" Udah, kamu kenapa dek? Kenapa gak keluar pas ada pacar mu?." Tanya Haris.
" Males bang." Jawab Lita.
" Lohh, biasa nya juga nempel kayak perangko."
" Dia tuh gak terbuka sama Lita, Lita tau dari sorot mata nya dia sedang punya masalah, tapi gak mau cerita sama Lita." Jawab Lita, insting nya tau keadaan kekasih nya.
" Fositif thingking dek, mungkin dia belum siap buat cerita. Semua ada masa nya, jangan mendiamkan dia. Kasian, kalo pun memang dia lagi punya masalah, bukan nya kamu malah nambah pikiran Raka?" Tanya Haris.
" Iya kak, Lita cuma kesel aja." Jawab Lita sambil tersenyum.
" Nah gitu dong, dari dulu Raka suka memendam masalah nya sendiri gak terbuka sama siapa pun, termasuk sama kakak, cuma makin kesini dia jadi suka curhat."
" Lita cuma pengen dia terbuka sama Lita, kalau punya masalah cerita sama Lita, lalu kita bisa cari solusi nya bareng-bareng." Ucap Lita.
" Sabar ya, Raka mungkin belum siap."
Lita tersenyum dan mengangguk, karena hari sudah malam dia kembali ke kamar nya untuk mempelajari materi untuk kuliah besok. Keadaan nya sudah membaik, jadi dia akan kuliah besok.
Sementara Raka, sepanjang perjalanan dia terus mengumpat karena baru saja mobil nya di salip oleh pengendara motor gede yang ugal-ugalan, hingga spion mobil nya copot dan body samping nya baret.
" Sial banget gue hari ini, mana di cuekin pacar, di teror makhluk astral, sekarang spion copot body baret, untung masih ada uang." Gerutu Raka.
Saat melewati pos keamanan, terlihat kerumunan orang.
" Ada apa yak? Rame banget." gumam Raka, dia segera memarkirkan mobil nya dan melihat ke pos satpam yang ramai itu.
Terdengar juga kata-kata kasar, dan teriakan warga. Juga wajah mereka yang terlihat marah.
" Permisi, ada apa pak?" Tanya Raka sopan pada salah satu warga.
" Ada yang kepergok lagi mesum di mobil Pak." Jawab nya.
Degg..
Apa jangan-jangan itu Catherine? Dia pun menembus kerumunan untuk memastikan siapa itu, dia juga menggunakan masker hitam agar Catherine tak mengenali nya.
Jika dia mengenali nya, pasti Catherine akan mengaku dia adalah kekasih Raka dan itu akan membuat kegaduhan , bisa-bisa dia di paksa nikah dengan Catherine.
__ADS_1
Benar saja, dia melihat Catherine tanpa busana hanya di baluti seprai. Dia tengah menangis, wajah nya lebam dan rambut nya cumpang-camping.
" Miris sekali nasib mu Cath." Gumam Raka pelan.
Warga berteriak mengusulkan agar mereka berdua di arak keliling kompleks apartemen, Tiada ampun bagi orang yang berzina. Di Indonesia peraturan nya berbeda dengan di luar negeri, disini hukuman nya sangat memalukan, sesuai dengan perbuatan nya.
Tampak juga lelaki itu bertelanjang dada, hanya memakai celana boxer. Keadaan nya juga tak beda jauh dengan Catherine, rambut nya berantakan mungkin bekas jambakan, dan ada sedikit darah di ujung bibir nya.
" Darimana juga tuh cewek bisa kenal sama cowok ini, Cath kan baru disini." Gumam Raka.
" Telanjngi mereka dan arak keliling komplek."
" Kelakuan mereka sangat memalukan, saya setuju arak mereka."
" Mereka tak ubah nya binat*ng."
" Memalukan, kelakuan mereka mencemar kan daerah kita."
" Bule gatel*."
Begitulah teriakan-teriakan mereka kekesalan mereka.
Raka merinding melihat kejadian ini, begitu kejam nya mereka pada pendosa. Padahal kita tidak tau, bagaimana kelakuan mereka juga. Bisa juga lebih parah dari ini.
Raka mengeluarkan ponsel nya dan memvideokan peristiwa ini, dan mengirimkan nya pada ayah nya, dia ingin tau bagaimana ekspresi pria itu jika mengetahui selingkuhan nya jadi bulan-bulanan warga.
Tak butuh waktu lama, ayah nya langsung memanggil Raka dengan panggilan video. Dengan senang hati, Raka mengangkat nya dan mengarahkan kamera nya ke arah Catherine dan pria yang berbuat tidak senonoh itu.
Terlihat wajah ayah nya memerah menahan amarah, Raka sangat tahu kalau ayah nya sangat mencintai Catherine, terlihat dari ekspresi nya. Tapi entah itu benar cinta atau hanya obsesi dan ambisi nya.
Raka mematikan sambungan telpon nya setelah puas melihat kekesalan di wajah ayah nya.
" Lebih baik, kita bawa mereka ke kantor polisi atau kita nikahkan mereka saja?" Usul seorang warga, dia ketua RT di kompleks perumahan dekat dengan unit apartemen ini.
" Saya setuju, dari pada kita main hakim sendiri." Usul salah satu warga yang lain.
Catherine dan laki-laki itu terlihat menunduk, mungkin malu dengan kelakuan mereka sendiri.
" Miris sekali nasib mu Catherine, itulah akibat jadi cewek kayak ulat bulu, mana kagak ada malu-malu nya lagi. Semoga lu tobat Cath." Gumam Raka, dia pun pergi dari tempat itu ke unit apartemen nya.
🌻🌻🌻
Jangan lupa kasih dukungan dan semangat buat author dengan like, komen, vote dan follow akun author. happy reading❤️
__ADS_1
tap favorit juga yaww😍