
Raka pulang ke apartemen nya dengan wajah kuyu nya, dalam satu malam hubungan nya dan Lita di ambang kehancuran karena salah paham. Andai saja malam itu, Raka tak melakukan itu pada Lita dan tak masuk ke kamar Lita, semua ini pasti takkan terjadi.
Raka masuk ke dalam apartemen nya, dan menyandarkan tubuh nya di sofa ruang tamu. Pikiran nya menerawang jauh, mengingat momen kebersamaan nya dan Lita.
" Kakak harus berjuang lagi demi kamu Sayang, kakak janji hubungan kita akan tetap baik-baik saja. Jangan khawatir." Gumam Raka, dia mengusap wajah nya kasar.
Dreeeettt.. drettt...
Ponsel dalam saku Raka bergetar, tanda panggilan masuk.
" Hallo Raka, gak masuk kerja?" tanya Pak El, atasan nya.
" Saya kurang enak badan Pak, saya izin dulu hari ini."
" Baiklah, beristirahat agar cepat membaik." Ucap Elgar. Begitulah dia, sangat perhatian dengan pegawai nya.
" Baik Pak, terimakasih." Jawab Raka, Elgar menutup telpon nya setelah mendengar jawaban Raka.
Raka bangkit, dan naik menuju kamar nya. Apartemen Raka terbilang cukup mewah, karena memiliki fasilitas VIP dan berlantai dua.
Dia menghempaskan tubuh nya ke ranjang empuk milik nya, terasa nyaman. Andai Lita ada disini, pasti suasana hati nya akan semakin baik.
Sudah beberapa hari ini juga orang tua Raka dan Helena kembali meneror dirinya dengan berbagai cara, menelpon, mengirim pesan. Bahkan Helen mengirim PAP seksi nya ke akun berwarna hijau milik Raka.
Raka sudah memblokir nomor Helena, tapi tetap saja besok nya dia akan kembali mengirimi pesan atau menelpon dengan nomor baru, gila memang.
Raka berdecih ketika mengingat bagaimana penghianatan Helena waktu itu. Sejak saat itu dia menganggap Helena adalah wanita yang menjijikan, meski dulu nya dia sangat mencintai Helena dan orang yang pertama kali menyentuh nya, tapi entahlah. Bagi nya penghianatan adalah kesalahan fatal yang tak termaafkan.
" Bagaimana aku bisa menghabiskan waktu tanpa mu, Arlita." Gumam Raka lesu.
Tapi seketika dia mendapat ide, dia akan menemui Lita nya di kampus. Pasti saat ini Lita sedang kuliah, dia segera mengirim pesan pada Bella agar mengatur pertemuan nya.
Dengan semangat, dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri untuk bertemu dengan pujaan hati nya, meski kini harus sembunyi-sembunyi.
🥀
Setengah jam kemudian, Raka sudah sampai di kampus Lita.
" Lita, itu siapa?" Tanya Bella, pura-pura tak mengetahui kalau Raka akan datang menemui Lita.
" Ini bukan halusinasi kan Bell?" Tanya Lita.
" Buka mata Lu Lita, itu pangeran Lu. Cepat sana kasian nungguin." Ucap Bella, mendorong tubuh Lita pelan agar mendekati Raka.
" Sayang." Panggil Raka, dia merentangkan tangan nya menunggu Lita masuk dalam dekapan nya. Lita langsung mengerti, dan memeluk erat tubuh Raka.
" Kakak, aku rindu. Aku gak mau kita putus." Gumam Lita dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
" Jangan menangis, kakak akan lakuin apa pun buat kamu yang. Hubungan kita harus baik-baik saja, kakak takkan melepaskan mu." Jawab Raka, dia mengusap mata basah Lita dengan lembut.
" Kakak gak bisa lama-lama sayang, kakak hanya memastikan keadaan mu baik-baik saja. Jika sesuatu terjadi, hubungi kakak. Kamu prioritas kakak sekarang." Ucap Raka.
" Aku masih merindukan kakak." Ucap Lita lirih.
" Kita akan sering bertemu, meski tak seperti kemarin-kemarin. Kakak berjanji jika ada waktu, kakak pasti kesini. Atau Kamu bisa main ke apartemen kakak."
" Baiklah, Lita setuju. Sering telpon dan kirim pesan ya kak?" Pinta Lita,
" Iya sayang, jangan lupakan kakak yang berjuang untuk mu."
" Tidak akan pernah, aku juga akan berjuang dengan cara ku sendiri kak." Ucap Lita meyakinkan. Raka tersenyum dan kembali memeluk tubuh mungil Lita dengan erat. Raka juga mengacungkan jempol nya ke arah Bella, tanda kalau pekerjaan nya bagus.
🥀
Setelah melepas rindu dengan Lita, Raka pun pergi karena Lita juga ada kuliah lagi.
" Ke kantor atau pulang?" Gumam Raka.
" Ngantor aja lah, suasana hati juga lebih baik." Gumam Raka lagi, dia melajukan mobil nya ke perusahaan.
Setelah sampai di perusahaan, Raka langsung masuk ke dalam kantor. Saat di lobi, tanpa sengaja dia berpapasan dengan Haris yang baru keluar dari ruangan Andi.
Raka tersenyum ke arah nya, tapi Haris tak membalas nya, dia melewati Raka dengan wajah datar nya.
Dia mulai mengerjakan tugas-tugas kantor yang cukup menumpuk, dengan fokus dia akhirnya bisa menyelesaikan beberapa berkas hanya dengan hitungan menit.
Itulah kualitas kerja seorang Raka Perwira, hingga Elgar sangat cocok dengan kinerja Raka yang rajin dan pekerja keras.
" Ini butuh tanda tangan Pak El." Gumam nya, dia meneliti dan memahami isi berkas itu. Setelah yakin tidak ada yang janggal atau mencurigakan, dia pun pergi ke ruangan Atasan nya.
Raka mengetuk pintu dengan pelan, takut mengganggu.
" Masuk" Teriak dari dalam, setelah itu dia masuk dengan sedikit menunduk hormat.
" Lahh, kata nya gak enak badan . Kok masuk kerja?" Tanya Elgar.
" Sudah mendingan Pak, kerjaan pasti menumpuk kalau saya gak masuk." Jawab Raka, dia masih cukup sungkan dengan atasan nya ini.
" Wajah mu bonyok gitu, kenapa?" Tanya Elgar, dia bertanya sambil memeriksa berkas yang di berikan Raka.
" Ahh ini... Saya terbentur pintu tadi pagi" Jawab Raka sekena nya.
" Terbentur? Seperti nya bukan, itu terlihat seperti bekas pukulan. Kamu menyembunyikan sesuatu dari saya, Raka?" Tanya Elgar, kepekaan nya memang sangat baik.
" E-enggak pak, saya hanya terbentur pintu. Itu saja." Jawab Raka dengan gugup.
__ADS_1
" Mata mu tak bisa berbohong Raka Perwira." Ucap Elgar, sedari tadi dia memerhatikan gelagat aneh Raka.
" Kamu di hajar seseorang?" Tanya Elgar lagi.
" Tidak Pak."
" Jawab yang jujur, jika bicara tatap mata saya." Ucap Pak El, dengan tegas.
" Saya di tonjok Haris tadi pagi pak." jawab Raka, kali ini Elgar tau itu alasan di sudut bibir Raka terdapat luka lebam.
" Pasti masalah gadis itu kan? Atau kau terciduk meniduri nya?"
" Tidak pak, hanya saja dia memergoki saya tidur di kamar Lita." Jawab Raka, dia tak ingin memberi tahu masalah yang sebenar nya terjadi, dia malu.
" Baiklah, saya sudah selesai tandatangan. kamu bisa keluar, dan obati luka mu." Perintah Elgar, Raka pun mengangguk dan keluar dari ruangan sang atasan.
🥀
Saat pulang kantor, Lagi-lagi Raka berpapasan dengan Haris. Tapi seperti tadi siang, dia tak menghiraukan keberadaan Raka, dan melewati nya tanpa bertegur sapa.
" Raka, kamu akhirnya keluar juga. Aku menunggu mu, karena gak di bolehin masuk. Panas tau gak."
Raka memutar mata nya kesal, bisa-bisa nya wanita ini ada lagi di depan nya.
" Siapa yang suruh menunggu ku, bodo amat mau kepanasan atau kebakar sekalian gue gak peduli." Jawab Raka ketus.
" Ketus amat sih Raka, aku kesini tuh pengen ketemu kamu."
" Tapi gue nggak mau," Sarkas Raka.
" Bibir mu kenapa?" Tanya Helena sok perhatian.
" Gak usah sok perhatian ama gue, Helen. Dulu aja saat punya hubungan, Lu kemana aje? Ehh lupa, Lu kan sibuk selingkuh." Ucap Raka menyindir Helena.
" Jangan terus mengusik hal yang sudah terjadi Raka."
" Jangan terus menggangguku dengan alasan yang tidak penting, kalo begitu. Aku sudah melupakan nya, tapi karena kau sering muncul di depan ku aku jadi mengingat nya lagi." Jawab Raka dengan tegas.
Dia tertawa miris, bagaimana Bisa dia mencintai wanita model Helena. Benar kata Lita, dia seperti tante-tante. Make up tebal, lipstick yang merah menyala, pakaian dengan belahan dada rendah, juga mini. Dia baru sadar dengan penampilan Helena.
Itu lah cinta, bisa membuat orang buta!
🌻🌻🌻
Di maklumi ya readers, Helena nya baru bangun tidur. jadi dia baru sadar kalo babang Raka itu ganteng kebangetan, jadi ngejar-ngejar terus🤣
__ADS_1
jangan lupa kasih dukungan dan semangat buat author dengan like, komen, vote dan follow akun author. happy reading❤️