
Brandon sampai di rumah nya saat malam, dia memarkirkan mobil abang nya dengan rapi di halaman rumah.
"Bang.." Panggil Brandon, saat melihat abang nya tengah duduk di sofa.
"Wehh, dah balik? Gimana Marsya?" Tanya Raka.
"Udah baik bang, barusan nganterin dia dulu." Jawab Brandon, lalu duduk berhadapan dengan abang nya itu.
"Bagus dah, jadi besok dia udah bisa masuk kantor kan?" Tanya Raka lagi.
"Iya bang, tadi aja masih nanyain kerjaan padahal ini kan hari minggu."
"Pasti Pak El udah siapin kejutan buat Marsya, sama wanita itu." Ucap Raka, dengan seringai tipis di bibir nya.
"Apa pak El bisa jamin kalo tuh cewek kagak kabur bang?"
"Hehh, Lu nyepelein kemampuan bos gue ya? Perlu Lu tau, anak buah nya ada di mana-mana." Kesal Raka, karena Brandon meragukan kemampuan bos nya itu.
"Kagak perlu marah bang, gue kan cuma nanya."
"Tunggu aja besok, yang pasti Pak El gak akan diam aja saat pegawai teladan nya di perlakukan begitu." Ucap Raka.
"Aku percaya bang, semoga aja tuh cewek dapet pelajaran yang setimpal." Brandon berkata dengan raut wajah datar nya, itu artinya dia sedang marah.
"Mandi sono, terus makan. Lita masak enak tadi."
"Kakak ipar sama Mom kemana?" Tanya Brandon.
"Lita udah tidur, Mama di rumah sakit nungguin Bella."
"Ohh, Bella belum pulang dari rumah sakit ya?" Tanya Brandon lagi.
"Habis melahirkan harus nunggu minimal 3 hari, supaya jahitan nya gak kebuka lagi."
"Jahitan? Di jahit bagian mana sih?" Tanya Brandon dengan wajah bodoh nya, membuat Raka kesal bukan main karena Brandon banyak tanya.
"Lu tau gak bayi keluar dari mana?"
"Ya, dari anu lah." Jawab Brandon, sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
"Secara logika, mana mungkin bayi sebesar itu keluar dari lubang kecil kan? Ya pasti robek lah, jadi di jahit. Sampai sini ngerti kagak?" Tanya Raka lagi.
"Hehehe, maklum lah bang gue kan belum berpengalaman."
"Mikir pake logika Brand, di masukin burung aja cewek pasti kesakitan apalagi yang pertama. Apalagi bayi yang segede itu." Ucap Raka sinis.
Makanya Lu cepetan kawin." Ledek Raka.
"Kawin sama siapa? Gue dah nembak Marsya, tapi jawaban nya dia butuh waktu." Jawab Brandon pelan.
"Apa? Jadi secara gak langsung Lu di tolak gitu? Hahahaa, pesona lu udah luntur Brand."
"Diam lah, ngeselin lu bang. Gue bilangin kakak ipar, kalo lu main suka pake.." Ucapan Brandon terpotong karena Raka melempar nya dengan bantal.
"Pake apa Brand?" Tanya Lita yang sedang menuruni tangga.
Membuat Raka dan Brandon menoleh bersamaan,
"Ehh sayang, kok bangun lagi?" Tanya Raka, dengan senyum canggung nya.
__ADS_1
"Iya, soalnya berisik."
"Tadi, pake apa Brand?" Tanya Lita lagi.
"E-ehh.. Nggak kak, gue ke kamar dulu mau mandi. Selamat di interogasi ." Ledek Brandon, lalu berlari ke kamar nya.
"Awas aja lu nanti, Branded." Gumam Raka.
"Jelasin." Pinta Lita dingin, dia menyedekapkan tangan nya di dada.
"Hehee, obat yang.." Jawab Raka, dengan senyum yang di paksakan.
"Obat apa? Obat kuat?" Tanya Lita lagi, dia tak habis fikir dengan suami nya itu. Gak pakai begituan aja, durasi nya bisa berjam-jam apalagi pake obat ya kan?
"Pantesan aja rasa nya beda, nakal ya. Pokok nya gak ada jatah malam, seminggu." Ucap Lita tegas.
"Ayang, gak boleh gitu. Melayani suami itu kewajiban, dosa lho." Bujuk Raka, lebih tepat nya merengek.
"Aku tau kewajiban setelah menikah itu apa aja, tapi kalo ngerusak istri gimana hm? Gak ada negosiasi, kamu gak aku kasih jatah seminggu."
"Yaudah, aku janji gak pake obat gituan lagi." Ucap Raka lemas.
"Harus nya tuh kamu mikir dua kali sebelum pake Mas, gak pake aja udah bikin aku kewalahan ,apalagi sekarang aku lagi hamil. Kamu ini gak ada takut-takut nya ya, gimana kalo aku mati gara-gara kelelahan hah?" Ucap Lita, dia menjewer telinga Raka hingga memerah.
"S-sayangg, sakittt.." Lita melepaskan tangan nya, dan pergi kembali ke kamar.
"Ini semua gara-gara si Branded." Gerutu Raka.
"Jangan nyalahin orang karena kesalahan sendiri, aku malah bersyukur Brandon ngasih tau aib kamu itu."
"Iya sayang.." Raka menaiki tangga dengan lemas, tak dapat jatah selama seminggu membuat nya lesu.
Raka menatap sinis adik menyebalkan nya itu, dan mengacungkan jari tengah nya. Tapi Brandon hanya tertawa melihat kelesuan abang nya itu.
Brandon makan malam sendiri, biasa nya akan ada mama Renata yang menemani nya, tapi saat ini dia sedang menemani Bella di rumah sakit.
🌻
Pagi hari nya, Brandon berangkat dengan motor matic nya. Dia akan menjemput pujaan hati nya, Marsya.
Dari jauh, sudah terlihat Marsya menunggu dengan seragam nya. Tapi hari ini, dia terlihat sangat berbeda.
"Sudah lama menunggu ku?" tanya Brandon.
"A-ahh tidak, aku baru saja keluar kak." Jawab Marsya.
"Baiklah, ayo berangkat. Sudah pamit sama ibu mu?" Marsya hanya mengangguk mengiyakan.
Brandon memasangkan helm di kepala Marsya, dan Marsya naik ke atas motor nya, tapi tanpa memeluk pinggang Brandon.
"Peluk." Pinta Brandon.
"Enggak kak.."
"Cepatlah, jangan menolak keinginan ku sayang." Ucap Brandon.
"Huhh, kakak selalu saja mengancam ku."
"Kalau tidak begini, aku tak mendapat pelukan mu sayang. Jadi cepatlah." Brandon tersenyum setelah merasakan tangan Marsya melingkar di pinggang nya.
__ADS_1
Mereka pun berangkat setelah selesai dengan perdebatan ala sepasang kekasih itu,
Skip, setengah jam kemudian.
Brandon memarkirkan motor nya, dan melepaskan helm di kepala Marsya. Hari ini suasana Kantor tampak berbeda, tak ada gadis-gadis genit yang menyambut Kedatangan mereka dengan tatapan iri dengki seperti biasa nya.
Setelah selesai, mereka berdua pun masuk ke dalam kantor, ternyata semua pegawai sudah berbaris rapi, dengan CEO dan para asisten nya.
"Maaf, kami terlambat." Ucap Brandon pelan, dengan kepala menunduk.
"Masuk ke barisan." Ucap Elgar tegas.
Brandon dan Marsya masuk ke barisan masing-masing, tapi jam di tangan Brandon masih menunjukan pukul tujuh lebih dua puluh menit, jam kantor di mulai jam delapan tepat. Apa ini peraturan baru di kantor? Setelah CEO nya di gantikan oleh Elgar Wijaya.
"Jam kantor belum di mulai, aku ingin memberikan peringatan kepada kalian semua."
"Saya sebagai CEO baru di kantor ini, jujur saja merasa sangat malu karena ada kasus bully di perusahaan ini."
"Kalian bertiga, saya pecat tanpa pesangon, tanpa hormat." Ucap Elgar, menunjuk ketiga wanita yang terlibat dalam aksi kejahatan tempo hari.
"T-tapi salah kami apa?"
"Raka.." Ucap Elgar, Raka pun memutar video rekaman milik Brandon dan CCTV di layar besar, menunjukan bahwa mereka bersalah dan perusahaan punya bukti yang kuat.
"Masih ingin mengelak? Kalian sudah melakukan tindak kriminal dengan menjual Marsya pada laki-laki hidung belang, kalian mengakui nya?" Mereka bertiga menunduk.
"Saya anggap jawaban nya 'Ya', segala perbuatan harus di pertanggung jawabkan." Ucap Elgar, lima anggota kepolisian datang dan segera memasang borgol di tangan ketiga nya. Mereka di seret keluar oleh polisi, karena terus meronta.
"Kalian tau konsekuensinya, jadi jangan berani melakukan hal serupa. Kalian tau akibat nya, dan kalian akan tau siapa saya jika melanggar. Sekian dari saya, bubar."
"Marsya, ikut ke ruangan saya." Ucap Elgar, dan langsung pergi di ikuti dua kakak dan dua asisten nya masing-masing.
Singkat nya, mereka pun masuk ke ruangan CEO di lantai paling atas.
"Marsya, saya sebagai CEO di perusahaan ini meminta maaf sebesar-besarnya, karena kejadian dua hari yang lalu."
"Saya tidak apa-apa pak, terimakasih sudah memberi keadilan untuk pegawai seperti saya." Ucap Marsya, sangat jarang di jaman ini perusahaan yang memperhatikan hak pegawai.
"Kamu bekerja di perusahaan saya, jadi ini sudah tugas saya. Jika terjadi hal serupa, jangan ragu-ragu untuk melapor pada saya."
"Baik pak." Jawab Marsya.
"Kamu boleh keluar, dan ambil uang tips di bagian receptionist."
"Apa saya di pecat pak?" Tanya Marsya.
"Tentu tidak, itu hanya uang tips untuk mu karena rajin bekerja."
"Benarkah? Terimakasih pak." Ucap Marsya, lalu pergi keluar dari ruangan CEO.
CEO perusahaan AM Group di gantikan oleh Elgar, karena Pak Dani ingin pensiun dan menikmati masa tua nya di rumah, berkumpul dengan anak-anak nya dan para cucu nya.
🌻
Waduh, Bang Raka naik jabatan jadi asisten CEO dong🤭
selamat untuk kenaikan jabatan nya, Pak El☺️😁
__ADS_1
Kopi dong🤭🤭