Mencintai Adik Sahabatku

Mencintai Adik Sahabatku
Punya Ibu


__ADS_3

Pagi hari nya, Lita masih bergelung di dalam selimut nya, lengkap dengan tangan Raka yang masih melingkar erat di pinggang nya.


Mereka masih tertidur lelap padahal hari sudah pagi, sampai ketukan di pintu membuat Lita perlahan membuka mata nya.


"Iya sebentar." Teriak Lita. Dia langsung memungut pakaian nya dan segera memakai nya.


Lita segera membuka pintu dan melihat siapa yang sudah mengetuk pintu pagi-pagi sekali.


Catherine berdiri dengan bersedekap dada, tatapan nya tajam saat melihat beberapa tanda merah di leher Lita.


"Jam berapa ini? Kenapa belum ada makanan, menantu macam apa yang membiarkan mertua nya datang tapi tuan rumah malah belum bangun." Ucap Cath dengan nada mengejek.


"Ahh maaf, aku nggak tau kalo ayah bakal pulang sepagi ini. Sebentar aku cuci muka dulu."


"Cepetan, aku lapar. Menantu pemalas." Cetus nya lagi. Setelah mengatakan itu, dia pun pergi.


Lita merasa seperti menjadi pembantu disini, ayah mertua nya tak menganggap nya ,dan istri muda nya itu selalu menatap rendah diri nya. Padahal dia adalah istri Raka.


Lita berjalan lemas ke kamar mandi, membasuh wajah nya dan keluar dari kamar.


🥀


Raka perlahan membuka mata nya, dia meraba-raba ranjang di sebelah nya. Tempat dimana dia dan Lita berbagi kehangatan semalam, tapi sekarang tempat itu sudah dingin. Berarti Lita sudah lama pergi.


Raka buru-buru masuk ke kamar mandi, dia khawatir istri nya di perlakukan tak baik oleh orang tua nya.


Raka setengah berlari saat menuruni tangga, disana sudah terdengar keributan dan suara tawa yang membahana.


Pranggg...


Suara benda terjatuh terdengar begitu nyaring di ruangan makan.


"Makanan apa yang kau sajikan hah? Kau ingin membunuh ku?" Teriak laki-laki yang Raka kenal, suara nya tak asing, apalagi teriakan nya. Siapa lagi kalau bukan ayah nya.


"Bereskan pecahan piring nya, jangan sampai ada yang tersisa. Gadis pemalas, mantra apa yang kau gunakan untuk menundukan Raka hah? Hingga dia berani menentang orang tua nya, dan memilih menikah dengan gadis kampung seperti kau."


"Hahaa, lihat saja penampilan nya. Persis seperti asisten rumah tangga, dia bahkan tak melirik ku karena dirimu." Ucap Catherine membanggakan diri.

__ADS_1


Lita menurut, dia memunguti pecahan piring itu, dengan air mata yang tak berhenti menetes. Sedangkan ibu Renata, dia hanya diam dan menatap Lita dengan sendu.


"Arghhhh.. "


Tangan Lita tertusuk pecahan piring itu, jari nya berdarah hingga mengucur karena luka nya cukup dalam.


"Dia lebay pah, lihat dia menangis hanya karena tertusuk pecahan piring." Ucap Catherine.


Tiba-tiba saja, tangan Catherine di tarik oleh Ibu Renata.


Plakk.. Plakk..


Dia menampar pipi Catherine dengan keras, hingga membuat nya terhuyung. Dan cap lima jari tercetak jelas, bahkan ada darah di ujung bibir nya.


"Cukup Catherine, kau sudah merebut suamiku, dan sekarang kau menghina menantu kesayangan ku hah? Punya hak apa kau mengata-ngatai Lita?" Ucap Ibu Renata dengan sorot mata kemarahan nya.


"Kau sudah mulai berani melawan padaku hah?" Teriak Catherine, juga balik menatap Ibu Renata dengan tajam.


"Wahh wahh.. Madu sialan itu berteriak di depan istri tua ya?" Ucap Raka dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


Dia berjalan pelan mendekati Lita yang masih memunguti pecahan piring, walau tangan nya sudah berdarah karena tersayat pecahan tajam piring itu.


"Masalah makanan yang tak cocok di lidah mereka, biarkan saja. Aku menikahi mu untuk melayani ku, bukan mereka. Kamu bukan chef sayang, jangan menangis air mata mu terlalu berharga."


Tangan Catherine mengepal, dia marah melihat cara Raka memperlakukan istri nya dengan sangat lembut, berbeda saat kepada nya.


"Siapa mereka yang berani menyuruh-nyuruh istriku ini? Mereka tak punya hak apapun sayang, ayo kita pergi." Ajak Raka, dia merangkul pundak Lita dengan mesra nya.


"Ayo Bu, kita sarapan di luar. Biarkan suami dan gundik mu itu membereskan kekacauan yang mereka buat."


"Tapi, aku tak mau.. " Ucapan Catherine terpotong.


"Bereskan atau kepala mu putus?" Tanya Raka memberi penawaran.


"Kau tak bisa bersikap seperti itu pada ibu tiri mu Raka!"


"Kenapa? Dia bisa bersikap seenak nya pada istri ku, lagi pula aku tak menganggap nya sebagai ibu tiri dia hanya jal*ng yang naik derajat menjadi gundik. Selama nya, ibu ku hanya satu." Ucap Raka tegas.

__ADS_1


"Jangan banyak omong, lebih baik kalian bereskan itu semua. Jika saat aku kembali, semua masih berantakan akan ku pastikan pisau dapur itu menancap di leher kalian."


"Haha, kau takkan berani melakukan itu pada ayah mu sendiri Raka!"


"Kata siapa aku tak berani? Mau sekarang atau nanti hmm? Aku takkan pandang bulu, siapa pun itu jika menyakiti istri ku, kuanggap musuh." Ucap Raka tegas.


"Jangan berani kabur, sampai lubang semut pun aku pasti akan menemukan kalian."


Dia pergi sambil menggandeng tangan Ibu dan istri nya, setelah memakaikan nya obat merah dan sedikit perban di luka Lita.


🥀


Disini lah mereka sekarang, di cafe terdekat untuk sarapan. Dia tau, Ibu dan istri nya belum sempat sarapan karena melayani orang tua itu.


"Ibu tinggal saja disini saja." Ucap Raka tegas.


"Masalah bisnis disana, aku akan mengirimkan orang yang bisa ku percaya untuk mengurus nya."


"Bagaimana?" Tanya Raka lagi, dia menatap ibu nya dengan sendu. Dia mencoba mengalahkan ego nya agar Ibu nya tetap disini.


"Ibu ikut saja kalau begitu, aku ingin lebih mendekatkan diri dengan anak dan menantu ku." Ucap Ibu. Sontak saja, Lita yang dari tadi menunduk langsung mendongak dan tersenyum manis.


"Benarkah?" Tanya Lita. Ibu mengangguk dan tersenyum dengan tulus.


Dia mengusap pelan puncak kepala Lita dengan lembut.


"Rasanya sama saat Ibu ku melakukan hal ini, aku merasa punya ibu sekarang." Gumam Lita.


"Aku kan Ibu mu cantik, jangan bersedih ya." Ucap Ibu Renata. Dia memeluk Lita dengan penuh kasih sayang, dia memberikan kehangatan seorang Ibu pada Lita.


"Terimakasih sudah mau menerima Lita Bu."


"Pilihan Raka tak pernah salah, hanya saja Ibu yang keterlaluan."


Raka tersenyum simpul saat melihat kedua wanita di depan nya saling memberi kehangatan dan kasih sayang. Lita begitu menikmati moment ini, sudah lama dia tak merasakan kehangatan seorang Ibu.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Jejak nya jangan lupa ya wakk😘😘


__ADS_2