Mencintai Adik Sahabatku

Mencintai Adik Sahabatku
Brandon Action #2


__ADS_3

Setelah Brandon pulang, Marsya masuk kembali ke rumah, dan duduk berdekatan dengan ibu nya.


"Aca, pria tampan tadi kekasihmu?" Tanya Asih, Mama nya Marsya. Aca adalah panggilan kesayangan dari ibu nya.


"Bukan Ma, kak Brandon cuma temen sekantor aja. Cuma dia baik, dia yang udah nyelamatin Aca, waktu Nia di ganggu preman pemalak juga Kak Brandon yang nolongin." Jawab Marsya.


"Mama kira dia kekasih mu, Mama udah bahagia. Selain tampan, dia juga baik dan sopan."


"Mana mungkin dia mau sama Aca Ma? Dia itu inceran gadis satu kantor tempat Aca kerja." Jelas Marsya.


"Jodoh gak ada yang tau, Aca. Kita gak bisa tau hati orang lain."


"Ya tetap aja Ma, Aca gak mau terlalu berharap. Takut kecewa lagi, kayak yang udah-udah." Ucap Marsya, memang sudah berkali-kali dia menjalin hubungan, tapi semua nya kandas saat tau kalau Marsya adalah orang tak mampu, apalagi setelah melihat rumah nya. Mereka memilih mundur.


"Cari lelaki itu gak perlu yang tampan Aca, cukup yang nerima apa ada nya, baik sama keluarga, sayang sama kamu, kamu udah dewasa."


"Aca belum siap jatuh cinta lagi Ma, takut patah hati lagi. Jalanin aja dulu, kalau jodoh gak bakal kemana."


"Sekarang, Aca cuma mau fokus sama Mama dan Nia." Jawab Marsya. Dia tersenyum sambil menatap ibu nya.


"Baiklah, jangan sampai kelelahan dan mengorbankan masa depan mu ya Ca." Marsya hanya mengangguk mengiyakan. Sudah tugas nya mencari uang untuk biaya pengobatan Ibu nya, sebagai anak tertua dia punya tanggung jawab atas ibu dan Adik nya.


Ayah nya? Dia pergi entah kemana, entah masih hidup atau tidak, Marsya tidak tau. Tak ada lagi kabar berita tentang pria itu, setelah dulu di arak keliling kampung karena terciduk sedang berbuat yang tidak senonoh di kandang sapi.


Kini hanya ada Marsya, anak sulung perempuan yang bertugas mencari uang, ibu dan adik nya bergantung pada diri nya. Hanya berbekal ijazah SMA, dia melamar pekerjaan di kantor besar, dan akhirnya di terima.


Brandon sampai di rumah abang nya, saat hari sudah gelap.


"Ciee yang habis ngapel." Ledek Raka ,yang sedang duduk di kursi teras di temani secangkir kopi.


"Diam lah bang, gak ngapel sih. Cuma mampir doang, gak etis lah ngapel kagak bawa apa-apa."


"Di suguhin apa?" Tanya Raka, mode kepo.


"Secangkir teh hanget, nape?" balik tanya Brandon.


"Btw tuh cewek yang lu bonceng terus Lu anter, siapa nama nya?"


"Marsya bang." Jawab Brandon, dia mendudukan bokongg nya di kursi samping Raka.


"Marsya yang OG baru?" Brandon mengangguk.


"Selera lu tinggi juga, cantik dan imut banget."


"Iya, sayang nya belum resmi bang." Keluh Brandon.


"Jalanin aja dulu, pendekatan dulu saling kenal satu sama lain."

__ADS_1


"Pulang ngapel malah duduk di luar, masuk sana terus mandi. Bau asap." Ucap Lita.


"Iya kakak ipar ku yang cantik." Ketus Brandon, lalu segera masuk ke rumah sebelum Nyonya Raka itu mengamuk.


🌻


Pagi hari nya, seperti ucapan nya kemarin Brandon benar-benar menjemput Marsya di rumah nya.


Saat sampai di depan rumah nya, terlihat Nia yang sedang memakai sepatu nya di bangku kecil.


"Kak Aca, ada abang ganteng nihh."


"Iya sebentar." Teriak nya. Nia mendekati Brandon, dan mencium tangan nya.


"Mau sekolah dek?" Tanya Brandon.


"Iya kak."


"Bawa uang saku?" Tanya Brandon lagi.


"Nia gak pernah bawa uang saku, cuma bawa bekal nasi aja sama sayur, nanti jam istirahat Nia makan." Jawab Nia. Hati Brandon terenyuh mendengar penuturan gadis kecil di hadapan nya, ada rasa sesak yang terasa di hati nya.


Brandon merogoh saku nya ,dan memberikan selembar uang biru pada Nia.


"Buat jajan.."


"Kakak gak punya uang gitu, ini ambil ya. Di pake jajan, nanti ada kembalian nya."


Dengan ragu, Nia mengambil uang dari tangan Brandon. Dan berterimakasih, lalu pergi karena teman nya sudah menunggu.


Tak bisa di bayangkan, cukup beli apa uang lima ribu di jaman seperti ini? Beli ciki aja udah abis, gak bakal cukup buat makan.


Setelah cukup lama, Marsya keluar dari rumah nya dengan seragam nya.


"Maaf lama kak, nyetrika celana dulu biar cepet kering."


"Gapapa, yuk berangkat keburu siang." Ucap Brandon, dia memakaikan helm ke kepala Marsya dan seperti biasa, Marsya akan memeluk pinggang nya.


Setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di parkiran kantor. Tentu di sambut dengan tatapan iri dengki dari gadis-gadis yang mengaku lebih cantik dari Marsya, tak terkecuali wanita yang kemarin membuly Marsya.


Mereka berkumpul di parkiran, hanya untuk melihat Marsya yang datang bersama Brandon, berboncengan, berpelukan mesra juga.


"Marsya, ini ponsel lama ku. Sudah ada sim card dan nomor ponsel ku di dalam nya, jika ada apa-apa hubungi aku." Ucap Brandon, menyodorkan ponsel lama nya, tak kalah mahal dari ponsel yang sekarang di pakai nya.


"Maaf, tapi aku gak bisa terima ini kak. Kakak udah terlalu banyak bantu aku."


"Ambil atau aku marah?" Ancam Brandon.

__ADS_1


"Tolong jangan marah dengan ku kak, baik lah aku ambil. Terimakasih." Ucap Marsya dengan senyum yang di paksakan.


"Gadis yang penurut, aku menyukai nya." Brandon mengacak rambut Marsya dengan gemas, hingga membuat pipi Marsya memerah seperti kepiting rebus. Dan mengundang tatapan tak suka dari gadis-gadis yang berkerumun di belakang mereka, menyaksikan ke romantisan sepasang manusia itu.


"Masuk lah duluan, aku punya tugas yang harus aku kerjakan terlebih dulu." Marsya mengangguk dan berjalan meninggalkan Brandon di parkiran, dengan sekumpulan gadis-gadis genit.


Hingga saat mobil manager datang, Brandon langsung mendekati nya.


"Selamat pagi pak.." Sapa Brandon, pada Elgar. Dia hanya akrab dengan atasan abang nya itu.


"Pagi, ada apa?"


"Ada yang ingin saya bicarakan Pak." Ucap Brandon tegas, hingga membuat kening ketiga manager itu berkerut. Tak biasa nya, Brandon berkata seperti ini.


"Ikut ke ruangan ku, Brand."


Brandon pun mengekor di antara tiga serangkai AM Group itu. Jujur saja, dia merasa canggung dan sungkan berada di antara tiga orang paling berpengaruh di perusahaan ini, tapi dia harus mencari keadilan untuk gadis pujaan nya.


Mereka pun sampai di ruangan Elgar, tapi kedua kakak nya ternyata ikut masuk ke ruangan Elgar, seperti nya mereka juga ingin tau hal apa yang membuat seorang Brandon terlihat serius.


"Kau adik nya Raka, Asisten ku kan?" tanya Elgar, setelah duduk di kursi kebesaran nya.


"Emm, lebih tepat nya adik angkat pak." Jawab Brandon, sesuai fakta. Meski Raka tak pernah menganggapnya adik angkat.


"Lalu masalah apa yang ingin kau bicarakan dengan ku?"


"Ini tentang gadis OG yang di buly pak, bahkan saya melihat nya sendiri. Bagaimana mereka menjambak, menampar gadis itu." Ucap Brandon serius.


"Apa? Tak mungkin ada masalah seperti ini di perusahaan ku." Ucap Elgar dengan nada terkejut nya.


"Saya punya video nya pak, bahkan bukan sekali atau dua kali gadis ini di buly pak, sering." Ujar Brandon, memberikan ponsel yang berisi rekaman video kemarin sore.


Mata Elgar membulat sepenuh nya saat melihat betapa kejam nya wanita dalam video itu menyiksa gadis yang tak bersalah.


"Ya tuhan, keamanan perusahaan kita di pertanyakan kak." Ucap Elgar, mengusap wajah nya kasar.


"Begini Brand, saya akan turun tangan sendiri tentang masalah ini. Jangan khawatir, gadis itu akan mendapat keadilan, dan wanita yang melakukan itu juga akan mendapat hukuman yang sesuai dengan perbuatan nya." Ucap Adam, pria yang paling menakutkan di antara mereka bertiga.


"Baik pak, terimakasih. Saya permisi dulu." Pamit Brandon, dia pun pergi setelah mendapat anggukan dari ketiga petinggi perusahaan.


"Rasakan kau wanita sialan, siapa suruh mengganggu gadis kecil ku. Aku tak sabar melihat mu di permalukan di depan semua karyawan lain, ckk memalukan." Batin Brandon, sambil tersenyum smirk. Dia sangat menunggu moment dimana wanita itu di pecat tanpa hormat oleh perusahaan.


🌻🌻



tinggalkan jejak❤️

__ADS_1


__ADS_2