Mencintai Adik Sahabatku

Mencintai Adik Sahabatku
Istri Sederhana


__ADS_3

"Kenape sih Lu Ris? Dari tadi diem mulu." Tanya Raka, melihat Haris yang dari tadi menjadi pendiam.


"Gue ke toilet dulu." Pamit Haris, dia melangkah dengan lemas ke kamar mandi di ruangan itu.


Raka melirik ke arah Bella dan Lita, dia ingin bertanya.


"Kenapa suami Lu Bell?"


"Kayak nya dia masih bete karena bakal lama puasa, karena aku masih dalam masa nifas." Jawab Bella.


"Karena itu?" Tanya Raka.


"Sepertinya sih iya."


"Iya lah, laki-laki mah kalo gak dapet jatah tuh suka uring-uringan ya kan? Itu kan kegiatan favorit mereka." Ucap Lita menyindir Raka.


"Ya kalo udah nikah mah gak masalah." Jawab Raka santai.


"Tapi kalo cewek nya kagak mau, ya jangan di paksa juga kali." Ucap Lita lagi, dengan mata yang mendelik sebal ke arah Raka.


Raka diam, dia merasa terpojok lagi. Menjawab pun percuma, melawan dua perempuan sekaligus rasa nya tidak mungkin.


Haris keluar dari kamar mandi, dengan wajah yang lebih segar dan rambut yang basah.


"Ngobrolin apaan?"


"Enggak tuh, udah hampir malem nih. Pulang yuk?" Ajak Raka.


"Yaudah, jangan lupa mampir di tukang sate."


"Aku pulang dulu ya, semoga cepat sembuh dan segera memberi abang aku jatah malam, biar gak bad mood gitu." ucap Lita sambil tersenyum jahil.


"Doain aja ya dek." Jawab Bella.


Raka dan Lita keluar dari ruang inap Bella, dengan tangan yang saling menggenggam.


"Jadi nya mau beli dua-duanya yang?" Tanya Raka lagi.


"Gini aja deh ya, kalo beliin satu bonus nya cuma di pijit doang. tapi kalo beli dua, aku kasih plus-plus nya." Tawar Lita.


"Oke deh beli dua-duanya aja." Ucap Raka, kapan lagi dia mendapatkan penawaran yang mudah ya kan?.


🥀


Benar saja, saat melewati tukang sate mereka berhenti dan membeli tiga porsi sate, karena di rumah juga ada ibu Renata.

__ADS_1


Setelah pesanan mereka selesai, mereka langsung pulang. Karena Lita mengeluh dingin, dan tak jadi membeli es krim.


Setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di apartemen dan langsung di sambut oleh senyuman dari Ibu Renata yang sedang menonton televisi.


"Ibu udah makan? Makan dulu ya, Lita beliin sate." Ajak Lita.


"Belum sayang, tadi Ibu udah masak sayur doang soalnya di kulkas cuma ada itu aja." Ucap Ibu Renata.


"Besok kita belanja bulanan ya bu, sekalian jalan-jalan."


"Boleh kan Mas?" Tanya Lita pada Raka yang sudah duduk manis, menunggu Lita menyajikan sate nya.


"Boleh, pergi aja. Tapi jangan sore-sore pulang nya, setelah selesai belanja langsung pulang." Peringat Raka. Dan Lita hanya mengangguk mengiyakan.


"Ini kartu debit, buat belanja besok." Ucap Raka, menyerahkan kartu itu di depan Ibu Renata.


"Raka, kamu udah nikah. Jadi masalah per uangan kamu kasih ke istri kamu, jangan sama Ibu."


"Kenapa gitu Bu?" Tanya Lita.


"Ibu gak ada hak sekarang, karena dia sudah menjadi suami. Tugas suami adalah bertanggung jawab pada istri nya, jadi kamu yang lebih berhak memegang kartu ini."


"Nanti kalo semisal ibu perlu sesuatu, Ibu pasti minta sama kamu bukan sama Raka."


"Iya deh terserah Ibu aja, tapi ingat ya bu. Kalo perlu atau menginginkan sesuatu Ibu harus bilang sama Lita."


" Iya sayang, kamu istri yang baik. Ibu tau, kamu tak haus akan harta." Ucap Ibu Renata, dia mengusap puncak kepala Lita dengan sayang.


" Harta gak di bawa mati Bu, itu hanya titipan. Maka nya Lita selalu nyuruh Mas Raka buat nabung, kita gak tau sampai kapan kita hidup enak seperti ini, bisa saja dalam sehari kita bangkrut dan jatuh miskin kan?"


"Kamu tak salah memilih istri Raka." Ibu Renata mengembangkan senyum merekah nya.


"Aku memang tak salah menjadikan nya istri, dia sederhana, tak suka barang-barang mewah atau branded, kasih aja seblak dia pasti suka."


"Dia hanya suka makan Bu, jadi ajak aja dia jajan. Kalo di ajakin belanja mah dia gak bakalan suka." Ucap Raka sambil terkekeh.


"Menurut ku kalo beli barang gitu sayang uang nya, lebih baik di tabung atau di sumbangkan. Lagian masih banyak barang yang lebih murah, barang mahal atau murah kalo udah di pake kan sama aja ,gak keliatan beda nya."


"Kalo nurutin gengsi, sampai kapan pun gak bakal ada habis nya. Lagian aku gak suka beli semacam tas, nanti cuma jadi penunggu lemari."


"Mending beli makanan, mahal juga gak masalah kan masuk ke perut." Jelas Lita, sambil tersenyum.


Ibu Renata juga ikut tersenyum, dia sangat kagum dengan menantu nya itu. Saat para wanita di luaran sana, sibuk mengejar dunia. Tapi tak berlaku pada menantu nya, dia sosok wanita yang sederhana dan memilih membeli makanan dari pada barang-barang yang tak berguna.


Mereka terus berbincang di sela makan malam nya, terlihat seperti keluarga yang hangat.

__ADS_1


🥀


Setelah selesai makan malam, Lita dan Raka segera pergi ke kamar nya. Ibu Renata juga sudah masuk ke kamar nya untuk beristirahat.


"Aku menagih janji mu."


"Boleh, tapi cuma pijit aja kan beli es krim nya gak jadi." Jawab Lita, sambil mengancingkan kemeja piyama bermotif kartun kucing biru itu.


"Kok gitu, kan kamu yang gak mau beli." Raka merengek.


"Jangan merengek seperti anak kecil lah, kalo mau yaudah, enggak juga gak masalah. Aku juga ngantuk, kekenyangan."


"Gak bisa gitu dong yang, ayolah satu kali aja. Besok pulang kerja Mas beliin tas." Bujuk Raka. Dia tau Lita sedang menginginkan tas, tapi tak mau bilang.


"Tas apa?"


"Tas gendong buat bawa buku ke kampus, Mas lihat itu udah buluk." Ucap Raka.


"Tas itu buluk juga tapi aku beli dengan hasil kerja keras aku sendiri, gak minta sama abang Haris juga."


"Kamu pernah kerja sayang?"


"Pernah, jadi pelayan di cafe. Tapi sembunyi-sembunyi, dan akhirnya ketahuan sama abang, harus keluar deh." Jelas Lita.


"Yaudah kamu mau apa, Mas beliin besok yang penting kamu kasih Mas jatah."


"Heemmm, beliin tteokbokki yang pedas ya, pake eomuk, telur setengah mateng, sama kimchi." Ucap Lita.


"Deal.. "


"Yaudah ayo." Ajak Lita.


Raka pun segera mengikuti Lita dan memulai aksi nya.


Di malam yang dingin itu, mereka melakukan penyatuan dengan penuh gairah. Hingga terdengar suara desaahan yang bersahutan dari kamar sepasang insan yang sedang di mabuk cinta.


Hingga mereka berhenti di tengah malam, bohong jika hanya satu kali saja. Buktinya Raka menghajar istri nya hingga berkali-kali, membuat Lita lemas dan langsung tertidur setelah penyatuan itu terlepas.


"Terimakasih sayang, aku mencintaimu." Bisik Raka di telinga Lita yang sudah terlelap karena kelelahan dengan ulah nya. Dia pun ikut memejamkan mata nya, mengembalikan energi nya yang terkuras habis setelah pergulatan hebat barusan.


🌻🌻🌻


tinggalkan jejak nya jangan lupa, tap favorit☺️


Salam hangat Lita&Raka❤️

__ADS_1


__ADS_2