
Sampai di rumah sakit, Marsya segera di tangani oleh perawat dan di bawa ke ruangan bersalin.
"Pergi saja, urus pemakaman ayah mu Brand. Biar kakak yang jaga disini, nanti Bella kesini juga."
"T-tapi.."
"Jangan khawatir Brand, Marsya akan baik-baik saja. Percaya sama kakak, Marsya juga pasti mengerti kenapa kamu tak menemani persalinan nya." Jelas Lita, dia tau ada kebimbangan di dalam tatapan adik nya itu.
Di sisi lain dia harus segera memakamkan ayah nya, tapi sekarang istri nya juga akan melahirkan. Kedua nya penting di dalam kehidupan nya, tapi kini kedua nya sedang mengalami kesulitan. Yang satu nya pergi untuk selama nya, dan satu lagi sedang berjuang demi kehidupan baru.
Brandon nampak berfikir, dia menimang-nimang perkataan kakak ipar nya.
"Aku titip Aca ya kak, kalau ada apa-apa segera telepon aku."
"Serahkan pada kakak, hati-hati di jalan. Jangan terus bersedih karena kehilangan ya, kamu harus sabar, ikhlas." Ucap Lita sambil menepuk pelan pundak adik nya.
"Iya kak, terimakasih selalu ada. Aku pergi dulu, nanti Mama nya Marsya aku suruh kesini." Brandon pergi meninggalkan Lita di rumah sakit.
Di rumah, semua orang sibuk menyiapkan pemakaman untuk Tuan Roberts, sesuai wasiat nya beliau ingin di makamkan di negara kelahiran nya.
Brandon datang dengan wajah kusut nya, dia khawatir pada istri nya di rumah sakit, tapi dia juga tak mau melewatkan bakti terakhir nya sebagai anak.
...
Tepat pukul 5 sore, semua orang berangkat ke pemakaman umum yang ada di dekat perumahan Brandon.
Disana juga tempat Farhan beristirahat panjang.
"Brandon, kamu turun?" Tanya Raka, karena biasa nya anak nya akan turun ke liang lahat saat orang tua nya meninggal.
"Tentu saja, abang juga." Raka menganggukan kepala nya, dia melipat celana kain nya hingga ke lutut, begitu juga dengan Haris. Sebelum nya Haris sudah mandi, numpang di rumah Raka.
Saat jenazah papa nya mulai di timbun tanah, disana lah tangis Brandon kembali pecah, dia tak kuasa melihat nya.
Raka yang tau Brandon kembali menangis, segera mendekat dan memeluk nya.
"Menangis lah, jika itu membuat mu tenang Brand." Mendengar itu, semakin pecah lah tangisan Brandon.
__ADS_1
"Kamu harus kuat, harus tabah, ikhlas, terima kenyataan dengan lapang dada Brand. Kamu harus ingat perkataan terakhir papamu."
Mendengar itu, Brandon mendongakan kepala nya. Raka tersenyum dan menghapus air mata adik nya, dia menggelengkan kepala nya mengisyaratkan agar Brandon jangan menangis lagi.
"Jangan terus menangisi kepergian papa mu Brand, beliau akan bersedih jika kamu tak mampu menerima kepergian nya." Ucap Haris, dia mengelus pelan pundak pria yang sudah dia anggap sebagai adik, sama seperti Raka.
"Apakah benar itu bang?"
"Tentu saja, aku dan Lita juga pernah mengalami nya, bahkan disaat usia kami masih sangat muda Brand. Itu membuat kami harus terbiasa mandiri tanpa kehadiran mereka, tapi kami mampu menjalani nya dengan lapang dada, menerima kenyataan, berdamai dengan keadaan. Mungkin itu juga yang harus kamu lakukan sekarang, Brand."
"Menjadi kuatlah, istri dan anak mu membutuhkan dirimu. Kamu tau istri mu sedang berjuang kan? Lalu bagaimana kamu akan menguatkan nya jika kamu juga lemah begini?"
"Baiklah, terimakasih bang." Ucap Brandon, dia menyunggingkan senyum kecut nya.
Pemakaman sudah selesai, Brandon, Raka, Haris, Danu dan Jo masih disana. Mereka menaburkan bunga mawar di atas tanah basah yang menggunung dengan pusara kayu.
"Pa, tidurlah dengan tenang. Papa sudah tak merasakan sakit lagi kan? Aku akan melakukan permintaan papa di saat terakhir, aku akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk menantu dan cucu Papa."
"Papa bahagia kan? Marsya di rumah sekarang, dia sedang berjuang bertaruh nyawa untuk melahirkan cucu papa. Sayang sekali papa tak sempat melihat nya, harus nya papa masih disini dan bermain dengan cucu papa nanti nya."
"Papa dan kami berbeda dunia sekarang, semoga papa mendapat tempat yang terbaik di sisi nya, papa orang baik pasti mendapat yang terbaik juga." Ucap Brandon, tak ada lagi air mata yang menetes dari mata nya, dia sudah sepenuhnya mengikhlaskan kepergian papa nya.
...
Suara ponsel nyaring yang berasal dari saku jas Raka.
My Lovely Wife❤️
"Hallo, kenapa sayang?"
"Mas, apa pemakaman nya sudah selesai?" Tanya Lita di seberang sana, suara nya terdengar khawatir.
"Sudah sayang, baru saja. Ada apa?"
"Segera lah ke rumah sakit, Marsya membutuhkan suami nya sekarang."
"Apa dia belum melahirkan?" Tanya Raka lagi.
__ADS_1
"*Sudah, bayi nya perempuan cantik dan sehat. Hanya saja..."
"Aku tak bisa menjelaskan nya di telepon, jadi cepatlah kemari*." Ucap Lita. Suara nya bergetar seperti menahan tangisan.
"Ya kami kesana sekarang."
Klik..
Raka mematikan sambungan telepon nya sepihak, dia segera mengajak para pria itu untuk pergi ke rumah sakit.
....
Kelima pria itu sampai di rumah sakit dan langsung menemui Lita dan Bella yang sedang duduk, kedua nya menunduk dengan tangan yang saling bertaut seperti saling menguatkan.
"Bagaimana keadaan istri ku kak?" Tanya Brandon, pria itu bahkan belum mengganti pakaian nya yang penuh dengan tanah merah bekas pemakaman.
Lita dan Bella refleks mendongakan kepala nya, mereka saling pandang sejenak, seperti menentukan siapa yang akan menjawab pertanyaan Brandon.
Lita menghela nafas nya berat, rasa nya sangat berat untuk nya menjelaskan, tapi Brandon adalah suami nya dan dia berhak tau keadaan suami nya.
"Kamu harus kuat, seperti nya tuhan sedang memberi mu cobaan yang sangat berat hari ini."
"Maksud kakak apa?" Tanya Brandon dengan wajah penasaran nya.
"Marsya mengalami pendarahan hebat sesaat setelah melahirkan, dan itu menyebabkan nya kehilangan banyak darah. Sudah ada yang mendonorkan darah untuk nya, tapi sepertinya terlambat dan sekarang Marsya koma."
Brandon mematung setelah mendengar penjelasan kakak nya, dia ambruk di lantai dengan air mata yang mengalir deras dari kedua mata nya.
"Brand, kakak tau ini sangat berat. Tapi bayi mu butuh ayah nya sekarang, kamu harus kuat. Bangkitlah." Ucap Lita berusaha menguatkan, meski sebenarnya dia juga tak mampu.
"Marsya.." Gumam Brandon lirih di sela tangis pilu nya.
Sedetik kemudian pria itu tergeletak tak sadarkan diri, kesabaran nya benar-benar di uji hari ini. Tadi siang dia baru saja kehilangan sosok papa nya, dan sekarang dia di uji lagi dengan istri nya yang koma. Apa kesalahan nya hingga Tuhan memberikan cobaan yang begitu berat untuk nya hari ini?
....
🌻🌻🌻
__ADS_1
Sabar ya bang, Marsya pasti bakal bangun kok😭😭