
Sedangkan di rumah sakit, Marsya tengah menyuapi Mama nya, baru saja beliau bangun dan mengeluh perut nya lapar.
"Mama makan yang banyak ya, biar cepat sembuh."
"Iya Ma, nanti kalau sudah sembuh Kak Lita undang Mama sama Marsya untuk menghadiri acara syukuran tujuh bulanan nya." Ucap Brandon, Ibu Asih meminta nya agar menyebut nya Mama sama seperti Marsya.
Mama nya Marsya hanya mengangguk sambil tersenyum, dia dapat melihat bahwa Brandon adalah pria yang baik, dia terlihat sangat mencintai anak gadis nya.
"Nah, sudah selesai. Aca cuci piring dulu ya, Mama sama Kak Brandon dulu, sebentar kok." Pamit Marsya.
Marsya pergi ke kamar mandi yang ada di ruangan rawat Ibu Asih, Brandon mendekat dan menarik selimut agar calon mertua nya tak kedinginan karena AC.
"Nak, terimakasih sudah menemani Marsya menunggui Mama."
"Jangan berterima kasih Ma, dia kekasihku. Jadi ini sudah tugas ku, sebaiknya Mama istirahat." Ucap Brandon, dia memegang tangan Ibu Asih yang pucat dengan jarum infus di punggung tangan nya.
"Mama tak yakin apakah akan bertahan lama."
"Apanya? Mama harus sembuh, Brandon bakal usahain yang terbaik buat mama. Jadi mama jangan putus asa ya, mama pasti bisa sembuh." Jawab Brandon, dia sedikit kesal mendengar ucapan Mama nya Marsya.
"Bisa kah kamu menjaga Marsya untuk Mama?"
"Ada apa dengan Mama ini, kenapa bicara seperti ini? Tentu saja Brandon bakalan jagain Marsya, Mama harus sembuh supaya bisa lihat Brandon sama Marsya menikah nanti." Jawab Brandon.
"Bisa kah di percepat, setidaknya bertunangan dulu?" Tanya Mama Marsya pelan, bahkan sangat pelan.
"Baik, Brandon akan mengusahakan yang terbaik buat Aca. Mama jangan khawatir, lebih baik Mama istirahat dulu."
Marsya keluar dari kamar mandi dengan menenteng piring dan sendok, lalu meletakan nya di meja nakas dekat brankar.
"Jangan di ganggu, Mama baru aja tidur." Ucap Brandon pelan.
Marsya mengangguk dan memilih duduk di samping Brandon, kali ini duduk nya agak berjauhan.
"Sya, apa kamu siap kalau aku melamar kamu?" Tanya Brandon lirih, meski dia sangat menginginkan nya, tapi dia juga harus meminta persetujuan dari gadis nya.
"Apa kakak yakin sama Marsya?"
"Tentu saja, aku serius.." Jawab Brandon.
"Jika memang kakak serius, ada baiknya menikah muda, memang nya kenapa? Kita baru saja menjalin hubungan beberapa minggu."
"Aku hanya bertanya saja sayang.." Ucap Brandon, padahal ibu nya Marsya meminta nya agar segera meresmikan hubungan nya.
"Jangan berfikiran aneh sayang, ayo tidur.." Brandon menarik Marsya ke dalam pelukan nya, dengan senang hati Marsya menyandarkan kepala nya di dada bidang lelaki nya.
Lagi-lagi, mereka tertidur dengan saling memeluk. Ibu Asih tersenyum melihat pemandangan di depan nya, sebenarnya dia belum tertidur pulas. Dia semakin yakin kalau pria itu adalah yang terbaik untuk Anak gadis nya.
🌻
Pagi harinya, Marsya terbangun karena suara yang gaduh dari dalam ruangan. Dia mengerjapkan mata nya berulang kali, dia sudah tak merasakan Brandon memeluk nya.
__ADS_1
Dia membuka mata nya dan terkejut saat melihat dua orang perawat dan dokter yang sedang memeriksa kondisi ibu nya.
"Kondisi nya sudah mulai membaik, sudah bisa pulang. Tapi, tetap harus minum obat teratur ya."
"Baik dokter.." Jawab Brandon.
"Selesaikan administrasi nya, dan setelah itu akan ada perawat yang membuka infus nya. Saya permisi." ucap dokter itu, lalu keluar ruangan di ikuti dua orang perawat.
"Kenapa tak membangunkan aku?" Tanya Marsya.
"Lah kamu tidur nya pules banget sayang, aku gak tega bangunin nya. Kata dokter, Mama sudah bisa pulang."
"Aku keluar dulu ngurus administrasi nya.." pamit Brandon, dia pun keluar ruangan setelah mendapat jawaban dari kedua orang itu.
🌻
Lima hari kemudian,
Semu orang tengah sibuk menyiapkan berbagai keperluan untuk acara syukuran tujuh bulanan nanti malam, akan ada pengajian yang di laksanakan bersama anak-anak panti asuhan.
Tak lupa, Raka juga mengundang para petinggi AM Group.
"Tuan rumah diem aja, jangan kelelahan ingat kehamilan kamu." Ucap Bella, dia datang kesini kemarin sore, bersama suami dan ibu nya, jangan lupakan baby Dev yang semakin aktif.
"Cuma ngerangkai bunga, gak cape kok."
"Iya lah terserah bumil aja.." Ucap Bella, dia tengah memasukan beberapa lembar uang ke dalam amplop.
"Baru bisa tengkurap, tapi gak bisa balik lagi."
"Wahh, pasti sangat lucu sekali. Apalagi dia sangat gendut." puji Lita.
"Iya lah, minum susu nya banyak."
Sedangkan Marsya, Nia dan ibu nya, masih berdiri di depan rumah mewah milik keluarga Raka. Mereka ragu untuk masuk.
"Rumah nya besar banget ya Ma." Celoteh Nia.
Hingga satpam komplek yang berjaga datang, dan menanyai tujuan mereka.
"Permisi, ada perlu apa kalian di depan rumah ini?" Tanya satpam yang berdiri tegap dengan tubuh kekar nya. Membuat Marsya takut, dan bersembunyi di belakang ibu nya.
"A-apa ini rumah milik tuan Raka dan Nyonya Arlita?" Tanya Ibu Asih.
"Ya benar, lalu kenapa berdiri disini? Apa kalian kerabat nya?"
"K-kamii.."
"Mereka keluarga saya pak, terimakasih." Ucap Brandon yang keluar karena mendengar keributan di luar.
"Ohh baiklah, saya kira mereka siapa karena dari tadi hanya berdiri disini."
__ADS_1
"Terimakasih pak." Satpam itu pun pergi setelah mendengar ucapan Brandon, satpam komplek ini memang akrab dengan Brandon, mereka mengenal nya sebagai adik dari Raka.
"Kenapa gak masuk sih yang, Ma?"
"Malu kak, lihat penampilan kami." Jawab Marsya, memang pakaian yang di kenakan nya sangat sederhana, hanya kaos lengan pendek dan rok panjang hingga mata kaki, juga dengan Ibu Asih, dia hanya memakai gamis lusuh dengan hijab yang menutupi kepala nya.
"Ya ampun kalian ini, ayo masuk kak Lita udah nungguin." Ajak Brandon, dia menggamit tangan Marsya dengan mesra, hingga membuat Ibu Asih tersenyum penuh arti.
"Marsya, sudah datang. Ayo masuk." Sapa Lita, dia menyambut Marsya dengan sumringah.
"Kata satpam yang berjaga udah dari tadi, tapi malah berdiri aja di luar rumah."
"Loh kenapa?" Tanya Lita.
"Gak tau.." Jawab Brandon sambil mengendikan bahu nya acuh. Hingga membuat Lita gemas dan menepuk lengan adik nya dengan keras.
"Sana bantuin Abang mu, disini area wanita." Usir Lita ketus.
"Yaelah, gak tau adek nya kangen sama Marsya. Baru aja ketemu." Keluh Brandon.
"Gak usah drama, pergi sana." Brandon memberikan kiss bay pada Marsya, dan langsung pergi sebelum harimau itu mengamuk.
🌻
Sore hari nya, semua pekerjaan sudah selesai hanya tinggal menunggu kedatangan anak-anak panti.
Brandon berdiri di tengah ruangan dengan gitar nya, dia memang anak band yang suka bermain gitar.
Dengan merdu, dia menyanyikan lagu cinta luar biasa milik penyanyi Andmesh Kamaleng. Dia begitu menghayati setiap bait nya, lagu ini begitu mewakili setiap perasaan nya untuk Marsya.
Lita mendorong Marsya agar mendekati Brandon, dan setelah selesai bernyanyi, Brandon meletakan gitar nya dan berjongkok di depan Marsya.
Marsya menutup mulut nya dengan kedua tangan saat melihat Brandon mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari saku kemeja nya.
"Seperti lagu yang ku nyanyikan untuk mu, aku jatuh cinta saat kita bertemu pertama kali. Hanya dirimu yang mampu membuat hati ku berdebar, setiap malam aku selalu membayangkan dirimu menjadi miliku."
"Kamu membuat ku jatuh cinta setiap hari nya, sebelumnya aku tak pernah setulus ini dengan wanita, hanya padamu. Kesederhanaan mu membuat aku sangat tertarik pada mu, kamu berani tampil apa ada nya."
"Begitu banyak hal yang ingin aku sampai kan tentang semua rasa ku yang begitu besar untuk mu, tapi aku hanya ingin mengucapkan inti nya saja.."
"Di depan semua yang hadir disini, mereka yang jadi saksi bahwa rasa ku tak pernah main-main untuk mu. Marsya Sabilla, mau kah kamu menikah dengan ku? Menjadi istri ku dan menjadi ibu dari anak-anak ku?"
Marsya masih menutup mulut nya, dia begitu terharu dengan ungkapan cinta laki-laki di depan nya, mata nya berkaca-kaca, dia begitu emosional dengan hal seperti ini.
Brandon tersenyum pada nya, dia menunggu jawaban dari gadis nya dengan penuh harap.
🌻
Gantung dulu lah, kali aja rame🤭🤭
jangan lupa jejak, tap favorit ya❤️
__ADS_1