
Setelah berbincang dengan Haris, Raka pun memutuskan untuk menyusul sang putri tidur yang saat ini masih lelap dalam tidurnya padahal hari sudah mulai petang.
Perlahan Raka masuk dengan hati-hati takut membangunkan istri nya.
Raka menatap wajah damai Lita yang bergelung dalam selimut tebal, karena sepanjang hari ini mendung dan saat ini tengah hujan cukup lebat.
Raka mengusap rambut Lita dengan lembut, berharap takkan mengganggu tidur lelap wanita nya.
Tapi Raka salah, Lita terbangun dan malah memunggungi nya. Dia masih merajuk rupa nya.
"Ngapain disini?" tanya Lita, masih memunggungi Raka.
"Aku kesini menyusul istri kesayangan ku, dia marah karena aku kurang tegas dalam bersikap." Jawab Raka, dia duduk di pinggir Ranjang.
"Mandi sana."
"Yang jangan ketus-ketus dong bicara nya, Mas kan gak nyaman." Bujuk Raka. Jujur saja, dia tak tahan jika harus di diamkan atau di cuekin oleh Lita.
Lita diam, tak menjawab lagi. Dia malah mengeratkan selimut di tubuh nya dan menenggelamkan kepala nya ke dalam selimut.
"Sayang, ayolah. Jangan lama-lama marah sama Mas, kita ini masih penganten baru lohh." Bujuk Raka dengan nada manja nya.
"Lagian itu gak sengaja sayangku."
"Diamlah, berisik. Mandi sana, badan mu bau wanita gatal itu." sindir Lita.
"Kalau Mas mandi, ayang gak marah lagi?"
"Enak aja." Ucap Lita.
"Yaudah Mas gak mau mandi ah.." Goda Raka.
"Terserah, tidur di luar. Tidak menerima laki-laki yang bau wanita lain." Ucap Lita sinis.
"Mas mandi sekarang yang." Raka menjawab dengan panik, takut kalau harus tidur di luar. Setidaknya dia masih bisa memeluk Lita meski tak di respon, dengan posisi Lita yang membelakangi Raka tentu nya, kan sedang marahan ya.
Raka buru-buru masuk ke dalam kamar mandi, Lita melihat itu karena dia mengintip di balik selimut nya. Dia tersenyum, saat melihat wajah panik suami nya itu.
Lita bangun dari posisi nya, dia menyiapkan pakaian santai untuk suami nya nanti. Memang Lita menyimpan beberapa pakaian Raka di rumah ini, karena dia akan sering menginap disini mungkin. Dan tau lah jawaban nya, Raka akan menguntit kemana pun Lita pergi.
Setelah selesai menyiapkan segala perlengkapan Raka, Lita pun keluar dari kamar dan turun menuju dapur, tenggorokan nya terasa sangat kering.
Sedangkan di kamar, Raka yang baru selesai mandi, keluar dengan rambut basah dan handuk sepinggang nya berjalan santai sambil mengeringkan rambut nya dengan handuk kecil yang tergeletak di ranjang, siapa lagi kalau bukan Lita yang menyimpan nya.
Raka menyunggingkan senyuman di bibir nya, meski sedang marah tapi Lita selalu menyiapkan segala kebutuhan nya dengan teliti.
Raka segera memakai pakaian nya, dia juga menyisir rambut nya. Biasa nya Lita yang akan menyisirkan rambut nya, tapi kali ini dia melakukan nya sendiri karena Lita sudah pergi dari kamar.
__ADS_1
🥀
Lita sedang asik menikmati semangkuk es krim di ruang tengah, sedangkan ibu mertua nya sedang berbincang di teras dengan Mama Bella. Secepat itu mereka bisa akrab.
Raka turun dengan penampilan santai nya ,dia melihat Lita sedang duduk di sofa ruang tengah.
"Mau dong."
"Di kulkas." Jawab Lita singkat, dan terus menyuapkan es krim ke dalam mulut nya.
"Mau itu." Ucap Raka lagi. Lita melirik ke arah Raka yang sudah tersenyum manis sambil menatap nya, Lita bangkit dari duduk santai nya.
"Nih." Ucap Lita menyerahkan es krim dan sendok nya ke tangan Raka. Sedangkan dia pergi ke dapur dan mengambil lagi yang baru.
Raka menggelengkan kepala nya, lucu juga Lita merajuk seperti ini. Tapi membosankan juga, karena tak bisa bermesraan dengan istri nya itu.
Lita kembali mendudukan tubuh nya di sofa, masih dengan gaya santai nya, dan menganggap seolah tak ada Raka yang berdiri sejak tadi.
Raka duduk di samping Lita dengan perlahan, dia tak ingin membuat mood istrinya berubah buruk lagi. Tapi lagi-lagi Lita mengacuhkan nya, dan tak menganggap kehadiran nya, dia asik dengan dunia nya sendiri.
🥀🥀
Setelah menghabiskan es krim nya, Lita bergegas pergi ke kamar nya. Mengingat besok adalah hari bersejarah bagi Abang dan sahabat nya yang akan mengikat janji suci di hadapan tuhan.
Tak lama, Raka menyusul dan ikut merebahkan tubuh nya di samping Lita.
"Hemmm.. " Lita hanya berdehem tanpa menjawab.
"Udahan ya ngambek nya."
"Siapa yang ngambek, aku cuma kesal karena kamu gak bisa tegas sama pelakor. Sama Helena aja galak nya kayak singa, giliran sama ulat bulu jadi meleleh kayak mentega." Sindir Lita dengan pedas.
"Ya gak gitu juga sayang, Mas cuma terkejut doang. Gak lebih."
"Dan gak nolak, mana ada harimau yang gak mau di kasih daging. apalagi daging nya montok gitu, tapi sayang itu bekas." Ucap Lita pedas.
"Sadis amat sih yang."
"Bodo amat lah, aku di suruh-suruh kayak pembantu juga kamu mah diem-diem bae." Gerutu Lita.
"Ya maaf, Mas nya kan belum bangun."
"Tidur aja terus, sampai Jimin nikah." Ucap Lita lagi.
Raka tersenyum, setidak nya Lita banyak bicara hari ini meski perkataan nya pedas dan tajam, setajam singlet.
"Yangg.. "
__ADS_1
"Tidur, jangan berisik atau aku tendang keluar." Ucap Lita ketus.
Raka pun memilih diam daripada di tendang, setidak nya dia masih bisa memeluk Lita kalau diam. Diam adalah pilihan terbaik.
🥀
Pagi hari nya, Lita sudah sibuk dengan make up dan pakaian bridesmaid berupa kebaya berwarna pastel, senada dengan kebaya pengantin nya.
Lita juga di hias oleh MUA yang di sewa oleh Haris, khusus untuk hari bahagia nya ini.
Lita menatap penampilan Bella, dia terlihat sangat cantik dan anggun, dengan balutan kebaya modern agar kehamilan nya tak terlalu terlihat menonjol.
"Gilaaa, cantik banget kakak ipar aku." Ucap Lita, setelah dia selesai di sanggul ala ibu-ibu pejabat.
"Ahh makasih, kamu juga cantik."
Bella tersenyum manis ke arah Lita, dia tak menyangka bahwa sahabat nya kini berganti status menjadi adik ipar nya, padahal usia mereka tak berbeda jauh, hanya satu tahun saja.
"Ayo, sudah waktunya." ajak Mama Bella dengan mata yang berkaca-kaca, melihat penampilan putri nya yang cantik bak ratu dari negeri dongeng.
Bella mengangguk dan menggandeng tangan kedua wanita yang sudah membuat nya merasa spesial hari ini.
🥀
Haris sudah menunggu dengan gugup di depan penghulu, dia merasakan kegugupan yang di alami Raka waktu itu, bahkan keringat dingin sudah mengucur deras dari dahi nya.
"Santai, tenang broo."
Haris hanya mendelik ke arah Raka, dan seketika pandangan nya teralihkan saat melihat tiga wanita turun dari lantai atas.
Senyuman terbit dari bibir Haris, dia berhasil memiliki Bella, gadis impian nya.
Bella duduk di samping Haris, dia juga gugup hingga meremat jari-jari tangan nya yang sudah basah karena keringat.
"Kedua mempelai sudah siap?"
Mereka berdua pun mengangguk sebagai jawaban, penghulu pun memeriksa data-data pengantin, sudah sesuai atau belum.
Dan setelah memastikan semua nya sesuai, maka ijab qobul pun di mulai.
Haris mengucapkan ijab qobul dengan tegas dan lantang dalam satu tarikan nafas, maka terdengar riuh semua orang berkata 'Sahh'.
Mereka pun menengadahkan tangan untuk berdoa, agar pernikahan ini langgeng sampai maut memisahkan, sehidup semati.
🌻🌻🌻🌻
Akhirnya bang haris sah juga☺️☺️
__ADS_1
Jejak nya jangan lupa😘😘