
Sore hari nya, Brandon kembali menunggu Marsya di parkiran. Tapi sudah hampir satu jam, gadis itu tak kunjung keluar juga.
Dengan hati yang berdebar tak karuan, dia masuk kembali ke dalam kantor dan mencari Marsya di ruangan khusus pegawai.
Tapi saat dia masuk, tak ada siapa pun di dalam.
"Disini gak ada, terus Marsya kemana?" Gumam Brandon, mengedarkan pandangan nya ke segala penjuru ruangan. Hingga mata nya memicing saat melihat serpihan benda berserakan di lantai.
Brandon memungut nya, dan dia semakin yakin kalau terjadi sesuatu pada Marsya. Serpihan itu adalah serpihan ponsel yang tadi dia berikan, terlihat dari warna dan sim card yang sudah terjatuh.
"Kemana kamu, Aca?" Gumam Brandon lagi.
Brandon melangkahkan kaki nya dengan tergesa, dia terus memanggil Marsya ,tapi sia-sia tak ada jawaban, karena pegawai sudah pulang semua.
"Nyari apa Brand?" Tanya Elgar, dia baru saja menyelesaikan file terakhir nya bersama Raka dan Adam.
"Marsya hilang Pak, saya udah nyari kesana kemari, tapi gak ada. Cuma nemu pecahan ponsel." Jawab Brandon, membuat ketiga pria itu membulatkan mata nya.
"Saya hanya takut, wanita yang kemarin mencelakai nya Pak."
"Kita lihat CCTV dulu." Usul Adam, dia pergi ke ruang pengawasan bersama Elgar.
"Bang, gue gak mau gadis gue celaka. Gue harus gimana? Tolongin gue."
"Jangan khawatir Brand, Lu tau Pak El gak bakal diam aja. Lu tau kan dia mafia?" ucap Raka menenangkan.
"Ya tetap aja bang, gue yang bikin dia di sakiti cewek lain. Semua salah gue bang."
"Jangan nyalahin diri sendiri, lebih baik sekarang ikut gue." Ajak Brandon, dia pergi ke ruang pengawasan yang ada di lantai atas, bersebelahan dengan ruangan CEO.
Setelah sampai di sana, Raka dan Brandon masuk ke dalam ruangan. Terlihat Elgar dan Adam sedang berkutat dengan laptop nya.
"Bagaimana pak?"
"Tak ada tanda-tanda mencurigakan disini Brand, kau yakin wanita itu yang melakukan nya?" Tanya Elgar.
"Yakin gak yakin sih pak, soalnya yang hari ini saya gak liat langsung. Tapi kata Marsya, ini bukan pertama kali nya mereka melakukan pembullyan." Jelas Brandon.
Elgar kembali mengerutkan kening nya, dia sudah sering mendapat laporan dari pegawai. Kata nya ada pembully di kantor nya, apa wanita itu yang di maksud para karyawan?
"Mari kita lihat rekaman CCTV di ruangan khusus pegawai." Ucap Brandon, membuat Raka dan Brandon terhenyak.
Sejak kapan ada CCTV di ruangan khusus pegawai?
"Aku sudah lama memasang nya untuk berjaga-jaga, dan ternyata benar aku membutuhkan nya sekarang."
__ADS_1
Elgar bangkit dan mengambil laptop yang lain, hanya dia yang mengetahui akses kata sandi CCTV itu.
Benar saja, rekaman hari ini memperlihatkan Marsya yang sedang duduk di kursi menikmati makan siang nya. Tapi tak lama, datang tiga orang wanita dengan wajah angkuh nya.
Hingga puncak nya, wanita itu kembali menjambak rambut Marsya hingga gadis itu mendongak. Mereka mencekoki gadis itu dengan sebuah minuman langsung dari botol nya, hingga gadis itu tak sadarkan diri.
Brandon mengepalkan tangan nya, rahang nya mengeras, melihat gadis pujaan nya di perlakukan seperti binat*ng.
"Pak, saya mengkhawatirkan keadaan Marsya. Bagaimana ini?" Tanya Brandon, dengan ekspresi cemas nya.
"Saya akan mengerahkan anak buah mafia saya." Ucap Elgar, dia mengambil ponsel di dalam saku jas nya. Menelpon seseorang, dan segera mematikan nya setelah mendapat jawaban.
"Pulang lah dulu, nanti aku kabari." ucap Elgar.
"T-tapi pak.."
"Menurut lah, kekasihmu akan baik-baik saja. Percaya pada ku." Elgar menepuk pundak Brandon.
"Baiklah Pak, jangan lupa segera kabari saya pak."
"Tentu saja."
Brandon pergi bersama Raka, wajah nya kuyu lelah bekerja malah terjadi sesuatu pada gadis pujaan nya.
"Motor lu simpen aja disini, nanti gue suruh anak buah gue bawa pulang."
Raka paham dengan kondisi adik nya itu, jadi dia tak mau membuat Brandon lebih sedih lagi.
🌻
Sampai di rumah, Brandon turun dengan wajah datar nya. Sampai di dalam rumah pun, dia langsung masuk ke dalam kamar nya. Membuat Lita yang sedang duduk di ruang tamu sambil menonton televisi mengerutkan kening nya, tak biasa nya pria itu terlihat murung.
"Mas, Brandon kenapa?"
"Gadis incaran nya hilang yang." Jawab Raka.
"A-apa? Kenapa bisa?"
"Dia di bully gara-gara deket sama Brandon kayak nya." Jawab Raka lagi, mendudukan tubuh nya di samping Lita.
"Masih jaman ya orang tukang bully? Ya ampun, kasihan banget Brandon."
"Pak El udah ngerahin anak buah nya, pasti di temukan."
Di kamar nya, Brandon menatap kosong. Lalu mengusap wajah nya kasar.
__ADS_1
"Marsya, dimana kamu sayang? Maafkan aku."
🌻
Di sebuah hotel, Marsya tergeletak lemah tak sadarkan diri.
Hingga satu jam kemudian datang seorang pria tua, atau lebih tepat nya di panggil om-om.
Dia tersenyum smirk, saat melihat gadis itu masih dengan seragam kerja nya.
Laki-laki itu merangkak menaiki ranjang, membelai wajah cantik Marsya.
"Kasihan sekali nasib mu Baby, kau menjadi penghangat ranjang ku. Teman-teman mu sungguh tega, menjual dirimu padaku."
"Tunggu sebentar, aku akan keluar untuk mencari pakaian ganti untuk mu."
Laki-laki itu pergi dan menutup pintu. Selang beberapa menit, datang lah beberapa pria dengan seragam hitam. Mereka anak buah mafia Elgar.
Mereka membawa Marsya, tapi saat akan keluar melewati pintu, pria yang membeli gadis itu datang dengan paperbag.
"Mau di bawa kemana gadis itu? aku sudah membeli nya dari teman nya, aku bahkan belum memakai nya." Protes pria itu. Kening salah satu anak buah Elgar berkerut heran, wajah pria tua itu seperti pernah melihat nya, tapi entah dimana.
"Bos saya yang akan membayar kerugian anda, saya permisi." Pria itu melenggang pergi membawa Marsya di dalam gendongan nya.
Pria itu terlihat mengepalkan tangan nya, wajah nya memerah karena amarah yang siap meledak, karena gagal menggagahi gadis cantik yang di yakini masih segelan.
"Sialan, aku gagal. Awas saja kalian, berani sekali menipu ku."
Di rumah nya, Brandon mendapatkan pesan dari nomor tak di kenal.
"Marsya sudah kami temukan, dia ada di rumah sakit xxx di ruang 123." isi pesan singkat, yang dia yakini adalah nomor anak buah mafia atasan abang nya itu.
Dia berlari keluar dengan wajah berbinar nya, tapi dia berhenti saat melihat sepasang suami istri yang tengah berpagut di ruang tamu.
"Kayak gak punya kamar, ngamar dong. Ngotorin mata aja." Gerutu Brandon, menutup mata nya. Sontak kedua orang itu menghentikan kegiatan mereka dan Lita segera turun dari pangkuan Suami nya.
"Ahh, sorry Brand. Mau kemana?"
"Rumah sakit, Marsya udah ketemu." Jawab Brandon datar.
"Pake mobil gue aja, tuh kunci nya." Tunjuk Raka pada kunci mobil yang tergeletak di atas meja.
"Gue pergi dulu, lanjutin yang tadi dah."
🌻
__ADS_1
tinggalkan jejak😘