
Setelah selesai dengan kegiatan berendam nya, Raka segera membilas tubuh nya di bilik shower. Dan keluar hanya dengan handuk yang melingkar di pinggang nya.
Senyuman terbit dari bibir nya, saat melihat arena pertempuran mereka semalam sudah di rapihkan.
Dia segera masuk ke ruang ganti, karena jam di nakas sudah menunjukan pukul setengah enam pagi. Lagi-lagi Raka tersenyum simpul, saat melihat pakaian kerja nya sudah menggantung rapi lengkap dengan dasi dan sepatu nya. Siapa lagi kalau bukan Lita lah pelaku nya.
"Kau membuat hari-hari ku berwarna sayang, aku sangat beruntung memiliki mu." gumam Raka, dia segera memakai pakaian nya.
Di lantai bawah, Lita dan Bella sedang memasak sarapan bersama. Terdengar ocehan dari wanita hamil itu, perut nya sudah nampak agak membuncit, karena kehamilan nya sudah memasuki bulan kedua.
"Udah ngerjain Abang belum Bell?" Tanya Lita, di sela kegiatan nya mengaduk masakan di teflon.
"Ngerjain gimana?"
"Ngidam lah." Jawab Lita santai.
"Sejauh ini belum sih, cuma kemaren sempet pengen seblak langganan kita itu loh. Tapi sekarang enggak lagi." Ucap Bella.
"Yaudah lah, syukur kalo ngidam kamu gak ribet. Masih morning sickness gak?" Tanya Lita lagi.
"Dari awal aku hamil, aku nggak ngalamin itu Beb. Cuma pusing aja, sama lemes." Jawab Bella.
"Ponakan aku pinter banget, dia kasian sama mama nya." Ucap Lita sambil mengelus perut Bella lembut.
"Kamu sendiri mau langsung apa nunda dulu?"
"Aku mah sedikasih nya aja, di kasih cepet ya syukur. Tapi aku gak pake pengaman apapun." Jawab Lita, dia mematikan kompor karena masakan nya sudah matang.
"Semoga di kasih cepet ya, biar nanti anak aku ada temen main nya." Goda Bella.
"Doain aja yang terbaik ya beb, aku juga berharap segera punya anak sama Mas Raka."
Ada kesedihan yang di tangkap Bella dari ucapan Lita, entah apa itu.
"Kenapa?"
"Aku cuma merasa gak enak aja, Ibu sudah merestui, tapi ayah Mas Raka terlihat seperti membenci ku Bell. Aku gak tau masalah nya apa." Jawab Lita sendu.
"Yang sabar ya Beb, semua akan indah pada waktu nya." Nasehat Bella.
"Iya, makasih ya. Udah nih, kita tata yuk." Ajak Lita, setelah masakan terakhir nya siap.
Mereka menyajikan makanan hasil masakan nya di meja, mereka terlihat seperti kakak adik yang sesungguhnya.
Tak lama, turun lah Raka dan Haris berbarengan. Haris memutuskan tak mengambil cuti nikah, karena tuntutan pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan.
Bella mengerti dan mengizinkan suami nya bekerja, meski dia akan merasa kesepian, tapi kuliah nya juga tetap berlanjut.
"Memasak apa para istri?" Ucap Haris dengan senyum jahil nya.
__ADS_1
"Ayam balado, sayur caisim, tempe goreng, sama sambel." Jawab Lita.
Mereka pun segera memakan sarapan mereka dengan lahap, tentu nya dengan di layani istri mereka masing-masing.
Dua istri yang masih muda, tapi bisa melayani suami nya dengan baik, pintar memasak di usia nya belum genap dua puluh tahun.
"Kamu kuliah hari ini yang?" Tanya Haris pada Bella.
"Iya Mas, Hari ini ada kelas. Ya kan Lit?"
"Iya bang, cuma dua kelas. paling jam 2 siang kita udah di rumah lagi." Jawab Lita.
"Yaudah, Lit abang titip Bella selama di kampus. Dia sedang hamil muda, jangan biarkan dia bertindak ceroboh." Ucap Haris.
"Iya bang, nanti kalo ada apa-apa Lita pasti telpon abang kok." Jawab Lita santai, sambil mengunyah makanan nya.
🥀
Setelah selesai sarapan, mereka pergi mengantar terlebih dahulu para istri mereka ke kampus. Dan membuat seisi kampus heboh karena Lita dan Bella menjadi dua bersaudara.
"Aku kerja dulu sayang, hati-hati. Jangan melirik laki-laki lain." Ucap Raka dengan posesif.
"Iya Mas, aku udah punya suami tampan gini masa mau lirik yang lain." Goda Lita sambil tersenyum.
"Baiklah ,Mas pergi dulu." Ucap Raka lagi, lalu dia mengecup singkat kening Lita dan segera masuk ke dalam mobil nya karena hari sudah mulai siang.
Setelah kedua mobil pergi, barulah Lita dan Bella masuk ke area kampus sambil berpegangan tangan, seperti biasa.
Mereka menatap Bella dan Lita dengan tatapan sinis, mungkin mereka iri atau cemburu, dan sejenis nya. Tapi sudah di pastikan ini takkan berakhir dengan baik, mereka terlihat tak bersahabat.
Salah satu dari mereka maju, dan berdiri angkuh di hadapan Bella.
"Sebesar apa pesona mu hingga dapat membuat pria sedingin Haris bertekuk lutut?" Ucap Sonia. Ya, Sonia adalah gadis yang dulu pernah dekat dengan Haris. Hanya saja, Haris tak sehangat saat bersama Bella.
Dan Haris tak menganggap hubungan mereka lebih dari teman dekat, tapi itu di salah artikan oleh Sonia yang dari awal naksir pada Kakak Lita itu.
"Kau memberikan keperawaanan mu Bella?"
Tanya Sonia dengan nada mengejek dan tatapan merendahkan nya. Sementara Bella, dia sudah mengepalkan tangan nya.
"Ckk, kau sama saja dengan Lita. Kalian menghalalkan segala cara demi bisa menaklukan pria kaya dan tampan."
"Adik kakak sama-sama Murahan." Bisik Sonia di antara Lita dan Bella.
Lita yang sudah kesal setengah mati, tak menjawab justru melayangkan tangan nya ke arah Sonia.
Plak..
Sonia tak sempat menghindar, dia mendapat tamparan keras dari tangan mungil Lita. Hingga wajah nya memerah, dan terdapat cap lima jari.
__ADS_1
"Berani-beraninya kau menampar ku hah, wanita jalangg." Teriak Sonia.
"Bicara sama siapa? jalaangg kok teriak jallang." Ucap Lita santai. Dia pernah beberapa kali memergoki Sonia keluar masuk hotel bersama om-om berduit dan menaiki mobil mewah.
"Jaga kata-kata mu Arlita." Teriak nya lagi.
Plak ...
Lita menghadiahi nya sebuah tamparan lagi, di pipi kanan nya. Saking keras nya tamparan itu, hingga membuat Sonia terhuyung ke samping.
"Itu pelajaran untuk mulutmu yang tak di sekolahkan!" Ucap Lita tegas.
"Abang ku sangat beruntung bisa memiliki seorang Bella, gadis baik-baik dan berasal dari keluarga yang baik juga. Lalu kau?" Lita menatap penampilan Sonia dari atas hingga bawah.
"Pakaian sexy, bermerk, mobil mewah, tas mahal, semua itu dari mana asal nya Sonia? Kau fikir aku gak tau pekerjaan mu selain kuliah dan tukang pamer hemm?"
"Punya bukti apa kau hah? Menuduh tanpa bukti itu disebut fitnah." Ucap Sonia tanpa ragu.
"Lalu apa kabar kau yang bilang kami sama-sama murahan? Apakah kau punya bukti aku menyerahkan mahkota ku pada Raka, atau Bella pada Bang Haris?" Tanya Lita memojokkan.
Lita mengeluarkan ponsel nya, dia mengscroll poto-poto Sonia saat keluar dan masuk dari hotel bersama Om-om yang berbeda, dia juga menunjukan foto vulgar nya Sonia.
Wajah Sonia memerah, dia sudah salah pilih lawan. Lita tak sebodoh dan selemah yang dia fikirkan, dia sudah berani melawan sekarang.
Sonia berusaha merebut ponsel Lita, tapi dengan cekatan Lita kembali memasukan nya ke dalam tas.
"Jadi sudah tau bagaimana kelakuan Nona Sonia?"
"Kau membuat ku malu Lita, tunggu saja pembalasan ku!"
"Bukan aku yang mempermalukan mu Sonia, kau sendiri yang memilih jalan itu jadi harus terima konsekuensinya. Kau tau kan para pria itu sudah beristri? Lalu kenapa kau memilih menjadi simpanan mereka? apa itu tidak jahat?" Tanya Lita.
"Aku tak menyangka, selama ini aku berteman dengan wanita yang menjijikan."
"Aku tak mau punya teman seorang jallangg."
"Pekerjaan mu menjijikan sekali Sonia, kau membuat ku menyesal telah berteman dengan mu."
Ucap para teman nya, Sonia memang mempunyai satu genk yang terkenal di kampus ,karena suka pamer dan penindas.
Sonia yang sudah sangat terpojok, berjalan cepat keluar dari kerumunan, menjauhi Lita dan Bella.
"Darimana kamu tau semua ini Lit?" Tanya Bella lirih. Tapi Lita hanya mengendikan bahu nya acuh.
"Nanti aku jelaskan ya kak."
Mereka pun segera masuk ke kelas ,karena sebentar lagi kelas akan di mulai.
🌻🌻🌻
__ADS_1
So soan sih mau labrak Lita sama Bella, nah kan kena mental, senjata makan tuan gak tuh? rasain😂
jangan lupa tinggalkan jejak😘