
"Yang mau itu.." Tunjuk Marsya ke pedagang rujak yang mangkal di pinggir jalan.
Saat ini satu keluarga itu tengah dalam perjalanan pulang setelah mengantarkan keberangkatan Hanna dan Mike.
Tapi baru saja setengah perjalanan, Marsya sudah meminta berhenti karena melihat tukang rujak.
"Baiklah, kita berhenti dulu sebentar sambil dinginin mesin." Ucap Brandon, tak ada pilihan lagi kecuali menuruti kemauan ibu hamil itu.
Brandon menghentikan mobil nya di rest area yang berada di dekat pedagang rujak yang di inginkan Marsya.
Marsya turun dari mobil dengan langkah ceria nya, dia sangat senang saat suami nya itu menuruti keinginan nya, dan orang lain pun tak ada yang melarang.
"Pak, mau rujak nya dua ya. Pake jambu air, mangga muda sama belimbing." Ucap Marsya setelah di depan penjual rujak nya.
"Iya neng, lagi hamil muda ya?"
"Hehe iya pak, bumbunya banyakin ya pak tapi jangan pedes-pedes." Ucap Marsya lagi. Bapak penjual rujak pun menganggukan kepala nya mengerti.
Marsya mendudukan bokongg nya di kursi yang tersedia, tak lama Brandon menyusul nya dengan menenteng beberapa botol air mineral di dalam kresek.
"Main kabur aja kalo udah ada mau nya, kamu ini bikin aku celingukan nyariin tau." Ucap Brandon, dia membukakan tutup botol nya dan memberikan nya pada istri tercinta nya.
"Habis nya kamu lama, aku kan mau rujak nya. Gimana kalo ngeces?"
"Iya deh, yang penting kamu happy sayang, tapi hati-hati ya. Kandungan kamu masih rentan, perlu penjagaan extra." Brandon mengusap kepala Marsya dan sesekali menciumi nya.
"Ini rujak pesanan nya neng, ini suaminya?"
"Iya pak.." Jawab Marsya sambil mengambil kap dari tangan penjual rujak nya.
"Wah kalian serasi sekali, pasangan muda yang nampak romantis. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek ya neng."
"Makasih doa nya pak, kalau begitu kami berdua pamit dulu, mau melanjutkan perjalanan." Kali ini Brandon yang menjawab karena Marsya sudah mulai memakan rujak nya dengan lahap. Dia menyodorkan 3 lembar uang merah kepada penjual rujak yang terlihat sudah tua.
"Ini kebanyakan a, cuma 20 ribu aja."
"Ambil aja buat anak istri bapak di rumah, saya pergi dulu." Ucap Brandon dengan senyuman manis nya.
"Terimakasih ya A, semoga rezeki nya lancar, semoga uang yang Aa kasih cepat terganti dengan rezeki yang lebih dari yang Aa kasih ke saya."
__ADS_1
"Aamiin pak, ini buat bapak lagi. Ini buat modal atau buat bapak makan." Ucap Brandon, dia kembali mengeluarkan 10 lembar uang merah. Membuat bapak itu berkaca-kaca, dan sedetik kemudian air mata nya mengalir deras, membanjiri pipi keriput nya.
"A, terimakasih buat kebaikan Aa. Ini sudah lebih dari cukup buat bapak, terimakasih." Tak ada henti nya bapak tua itu mengucapkan terimakasih pada Brandon yang memberi nya rezeki.
Brandon tak tega melihat bapak penjual rujak itu, pakaian nya lusuh, dengan topi yang nampak sudah usang. Batin nya menjerit dan meronta agar dia memberikan sebagian rezeki nya kepada bapak itu.
"Sama-sama ya pak, saya hanya perantara rezeki dari tuhan buat bapak. Sehat selalu ya pak," Ucap Brandon, dia merangkul bapak itu tanpa gengsi atau pun jijik.
"Susah di zaman sekarang nyari orang baik kayak Aa teh, selamat sampai tujuan ya A, hati-hati di jalan. Semoga Aa sama istri sehat selalu, di lancarkan saat persalinan nya nanti. Bapak gak akan lupain kebaikan Aa."
"Aamiin pak, sekali lagi terimakasih doa nya. Saya pamit dulu ya, ini terakhir buat bapak." Brandon menambahkan 5 lembar uang berwarna merah ke dalam saku di kaos lusuh bapak itu.
Bapak itu menepuk pundak Brandon, dia menangis tersedu. Baru kali ini ada orang yang peduli pada nya, di usia senja nya dia masih berjuang untuk menghidupi anak dan istri nya.
Brandon pun mengajak istri nya untuk kembali ke dalam mobil nya, untuk melanjutkan perjalanan.
"Terimakasih ya pak, rujak nya enak." Ucap Marsya, mereka pun pergi dengan bergandengan tangan mesra.
Memang kebaikan tak perlu menunggu waktu dan pada siapa, Brandon membuktikan kebenaran nya. Tiba-tiba saja dia merasa iba dengan bapak penjual rujak itu, di satu sisi lain dia salut dengan nya karena di usia nya yang sudah tua tapi bapak itu masih berdagang untuk memenuhi segala kebutuhan nya, tidak meminta-minta.
"Kenapa beli rujak nya lama banget?" Tanya Ibu Asih, beliau juga ikut mengantarkan Mike karena permintaan dari pria itu.
"Oh baiklah." Ucap Ibu Asih.
"Aku bangga padamu sayang, aku sangat bersyukur karena memiliki suami yang baik dan perhatian seperti dirimu." Marsya memberi senyum termanis nya untuk sang suami.
"Aku juga sangat bersyukur memiliki istri cantik dan.."
"Dan apa yang?" Tanya Marsya penasaran.
"Ganas di ranjang." Bisik Brandon di telinga istri nya, membuat Marsya sebal dan menepuk pelan lengan suami mesoom nya. Apapun pembicaraan nya, pasti kelamaan akan tertuju kesana.
Brandon segera menghidupkan mesin mobil nya dan melanjutkan perjalanan yang masih cukup jauh.
....
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mobil yang Brandon kendarai sampai di rumah nya.
Tapi terlihat ramai, apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang terjadi saat dia pergi ke bandara.
__ADS_1
Seketika pikiran Brandon melayang, memikirkan Papa nya yang dari tadi tak terlihat keluar kamar, dia juga lupa menitipkan papa nya pada Abang nya.
Brandon keluar dari mobil dengan berlari dia segera masuk ke rumah tanpa menghiraukan pandangan aneh dari Raka dan Lita.
"Pa.." Panggil Brandon, dia membuka pelan pintu kamar papa nya. Dapat Brandon lihat, Papa nya baru saja mandi.
"Kenapa Brand, anak bungsu ku? Kamu sudah pulang?" Tanya Papa Roberts.
"Tidak Pa, sudah kok. Papa sudah makan?"
"Sudah tadi sama sup ayam yang di meja." Jawab Papa Roberts, dia sibuk dengan kegiatan nya yaitu mengeringkan rambut nya dengan handuk kecil.
"Baiklah, Brandon keluar dulu." Papa Roberts hanya menganggukan kepala nya. Dia menatap nanar punggung Brandon yang perlahan menghilang di balik pintu, ingin dia menangis mengingat keadaan nya yang tak mungkin pulih kembali, tapi setidaknya dia ingin menikmati saat-saat terakhir nya bersama anak bungsu nya.
"Kenapa lari Brand?" Tanya Raka, setelah melihat Brandon keluar dari kamar papa nya.
"Gapapa, cuma gak enak hati aja tadi lupa gak nitipin papa sama abang. Btw, kenapa abang gak kerja?" Tanya Brandon.
"Cape kerja mulu, lagian ini kan tanggal merah ngapain kerja."
"Lupa gue bang," Ucap Brandon sambil menepuk pelan kening nya.
"Pikun.."
"Biarin, dari pada bucin."
"Siapa yang bucin? Bukan nya lu sama?"
"Sudah lah, kenapa kalian ini selalu berdebat kalo ketemu. Bisa akur gak sih, kayak tom jerry aja." Cetus Lita.
Sontak kedua orang yang sedang beradu argumen itu menghentikan perdebatan nya, bisa bahaya untuk kesejahteraan para junior jika sarang mereka mengamuk.
...
🌻🌻🌻
Apa alurnya masih nyambung? atau udah mulai ngebosenin? Seriusan nanya😁
__ADS_1