Mencintai Adik Sahabatku

Mencintai Adik Sahabatku
Melamar Pekerjaan


__ADS_3

"Mama gak kenapa-napa?" Tanya Lita, sambil mendekati mama Renata.


"Mama baik-baik saja, hanya saja mama tak tenang selama pria itu selalu mengusik Mama." Jawab Mama Renata pelan.


"Mas Raka tak akan diam saja Ma." Ucap Lita.


Mama Renata hanya mengangguk mengiyakan. Tatapan mata nya sendu, belum sembuh luka yang di buat suami nya kemarin, sekarang dia kembali terluka oleh perkataan suami nya.


Laki-laki bejatt yang mengatas namakan dirinya suami, tapi tak pernah bisa menghargai dan menempatkan posisi nya di urutan pertama. Dia selalu di nomor dua kan, mungkin nomor tiga dari wanita malam, pekerjaan dan kesenangan nya sendiri dalam hal minum-minum.


Raka masuk di ikuti Brandon, wajah mereka kembali datar setelah mengerjai ayah nya habis-habisan, hingga dia berlari kocar-kacir.


"Mulai besok aku akan menempatkan anak buahku untuk berjaga di rumah ini, aku tak bisa mengabaikan keselamatan ibu ku sendiri."


"Dia pria brengsekk yang selalu mengganggu ibu ku, bagaimana jika ibu cerai dengan nya?" Usul Raka, membuat Lita melirik nya dengan terkejut.


"I-ibu belum bisa melepaskan ayah mu Raka, aku masih mencintai nya." Jawab Mama Renata.


"Setelah semua yang dia lakukan pada ibu? Ibu masih mau bertahan dengan pria mesoom itu?" Tanya Raka, dia tak mengerti. Terbuat dari apa hati ibu nya itu, kenapa baik sekali?


"Lepaskan Bu, jangan membohongi diri sendiri."


Mama Renata diam, dia tau rasa nya sakit di khianati suami nya sendiri. Di saat dia sakit pun, pria itu tak memperdulikan dirinya dan malah bermain dengan wanita malam, bahkan seringkali mereka bermain di rumah.


Tapi rasa sayang nya terhadap pria itu tak sedikit pun berkurang, dia masih menyayangi pria itu.


"Mas, jangan menuntut ibu untuk melepaskan ayah. Ikatan mereka kuat karena sudah terjalin puluhan tahun, biarkan ibu berfikir sejenak." Ucap Lita.


"Istirahat lah Mam, jangan terlalu di fikirkan ucapan Mas Raka. Selamat malam Mam." Ucap Lita lembut.


Brandon juga masuk ke kamar nya, begitu juga dengan Raka dan Lita.


Saat sampai di kamar, Raka mendudukan tubuh nya di sisi ranjang, menutup wajah nya dengan kedua tangan.


Lita mendekat, dia tau keadaan suami nya sedang kacau. Tapi dia juga tak bisa memaksakan kehendak nya agar Ibu dan ayah nya bercerai.


"Aku tau, Mas ingin yang terbaik untuk Mama. Tapi Mas juga gak boleh egois, biarkan Mama berfikir dulu. Jangan menekan atau menuntut Mama." Ucap Lita pelan, sambil mengusap pundak suami nya.


"Mas gak habis pikir sama Ibu, kenapa dia bisa kuat bertahan dengan pria semacam Farhan? Tukang mabuk, gila kerja, penikmat se*s bebas, tukang kawin juga. Apa bagus nya pria itu di mata Mama."


"Mama pasti punya alasan untuk itu Mas, jadi biarkan Mama dengan keputusan nya. Kita hanya bisa mendukung nya, dan jika ayah menyakiti Mama, kita harus melindungi nya." Ucap Lita. Raka menatap Lita dengan sendu, tak seharusnya Lita terlibat dalam drama keluarga nya.


"Maafkan aku sayang, harus nya kamu tak terlibat dalam masalah keluarga ku."


"Aku tak masalah dengan itu Mas, jangan mengeluh. Kita hadapi semua nya bersama, kita bisa." Ucap Lita.


"Terimakasih sayang, aku sangat beruntung memiliki dirimu. Aku mencintai mu."


"Aku juga mencintaimu Mas, ayo tidur. Besok kamu harus bekerja, aku juga akan pergi ke rumah Bella." Ucap Lita.


"Ngapain ke rumah Bella? kan tadi baru dari sana." Tanya Raka.


"Hehe, kangen sama perut nya." Jawab Lita sambil terkekeh.

__ADS_1


Sontak saja, jawaban Lita membuat Raka langsung memeluk Lita dengan erat.


"Heii, Mas kenapa? Aku baik-baik saja, sungguh."


"Jangan berlagak kuat di hadapan ku sayang, aku tau hati mu sakit." Bantah Raka.


Perkataan Raka membuat Lita kembali merasakan sakit, meski dalam mulut dia berkata begitu, tapi benar kata Raka ada rasa sakit yang begitu menyesakkan.


Lita menangis terisak dalam pelukan Raka.


"Menangislah jika itu membuat mu lebih tenang, jangan membebani diri sendiri."


"Kapan aku hamil Mas?" Tanya Lita di sela tangisan nya.


"Percayalah, moment itu akan datang." Jawab Raka pelan.


"Tapi kapan Mas? sudah setahun lebih sejak kejadian itu, tapi aku tak kunjung hamil juga."


"Mas gak tau sayang, tapi setiap wanita yang punya rahim pasti hamil. Jadi jangan putus asa sayang, percaya lah." Ucap Raka, dia mengusap rambut Lita dengan lembut.


"Apa kita program bayi tabung saja Mas?"


"Tidak, Mas gak setuju. Tunggu saja yang alami sayang." Ucap Raka.


"Tidurlah, jangan berfikiran yang tidak-tidak, aku disini dan aku mencintai mu."


Lita melerai pelukan nya dan mulai berbaring, di temani Raka.


🥀


Raka turun dari kamar dan pergi ke dapur, yang ternyata sudah ada Brandon yang sedang menanak air.


"Ngapain Brand?" Tanya Raka. sambil menepuk bahu Brandon,hingga membuat nya terlonjak kaget.


"Ngagetin aja bang, lagi manasin aer. Mau kopi gak? Biar sekalian." Tawar Brandon.


"Boleh, punya abang gak usah pake gula."


"Pahit dong." Ucap Brandon.


"Iyee, pahit kayak hidup."


"Hidup emang pahit Bang, sampe sekarang aja bokap gue gak nyariin gue, miris banget." ucap Brandon, dia memang sudah mengingat beberapa hal, dan dia tau kalau dia masih punya ayah.


"Sabar lah, disini ada gue kok."


"Nasehatin tuh diri Lu sendiri Bang." Ucap Brandon, sambil meletakan dua cangkir kopi di meja.


"Mama kemana?"


"Di teras, lagi nunggu tukang sayur." Jawab Brandon. Raka hanya ber "Oh" ria.


"Lita mana?"

__ADS_1


"Masih tidur, semalam dia nangis lagi Brand. Gak tega gue." keluh Raka.


"Kenapa lagi? Masalah anak lagi?" Tebak Brandon, dan Raka mengangguk.


"Dia sensitif banget kalo masalah itu Bang. Lu harus nguatin dia, waktu itu pasti datang meski kita gak tau kapan terjadi nya."


"Iya Brand, Lu gak ada niatan kuliah lagi?" Tanya Brandon.


"Gak ah, mendingan gue kerja Bang. Lumayan lah ijazah SMA juga, nilai nya cukup bagus."


"Ikut gue, siap-siap sono. Kebetulan AM group lagi kekurangan receptionist, kali aja Lu cocok." Ucap Raka.


"Wihh oke bang, gue siap-siap dulu. Kali aja gue dapet jodoh juga disana."


"Cepetan, keburu siang." ucap Raka sebelum Brandon menghilang, masuk ke kamar nya.


🥀


Lita turun dari kamar nya, dengan tergesa-gesa. Raka yang melihat itu, segera mendekati Lita takut dia terjatuh.


"Jangan menuruni tangga seperti itu lagi sayang, nanti jatuh."


"Mas kok gak bangunin aku sih?" Tanya Lita, dengan wajah yang di tekuk


"Mas gak tega bangunin nya, ayo sarapan dulu. Mas udah bikin roti lapis selai coklat favorit kamu." Ajak Raka.


Lita segera makan roti buatan suami nya dengan lahap.


Raka menatap intens wajah istri nya, masih sembab karena semalam dia menangis cukup lama hingga akhirnya tertidur.


"Bang, berangkat sekarang?" Tanya Brandon, dengan kemeja dan celana jeans nya.


"Mas berangkat dulu ya sayang, hati-hati di rumah. Mama ada di teras."


"Mas sama Brandon mau kemana gitu? Lu juga, kok penampilan nya rapih gitu." Tanya Lita.


"Brandon mau ngelamar kerja, jadi ikut Mas ke kantor. Kebetulan ada lowongan kerja, lumayan lah kalo dia di terima." Jawab Raka.


"Ohh, good luck ya broo."


"Thanks Lit, gue pergi dulu." Pamit Brandon.


Mereka pun pergi ke kantor AM group, sedangkan di rumah hanya ada Lita dan Mama Renata.


"Sayang, sayuran nya habis jadi Mama gak masak."


"Gapapa Ma, berarti Mas Raka kerja gak sarapan dulu ya?" Tanya Lita.


"Sarapan roti bakar Sayang." Jawab Mama Renata sambil tersenyum.


🥀🥀


Ngebosenin ya? Maafin🙏 Otak author lagi blank nih, butuh pemasukan🤭🤭

__ADS_1


kasih pemasukan buat author dong, dengan like, komen,vote dan follow akun author, tap favorit juga ya, hhee😁


Salam hangat dari Raka&Lita❤️❤️


__ADS_2