Mencintai Adik Sahabatku

Mencintai Adik Sahabatku
Brandon Action


__ADS_3

Sore hari nya, Raka dan Haris sudah stand by di parkiran menunggu kedatangan Brandon.


"Mana sih tuh anak? Lama bener." Keluh Haris, dia sudah tidak sabar untuk pergi ke rumah sakit, melihat kondisi anak dan istri nya.


"Sabar dikit napa? Bentar lagi juga keluar."


Benar saja, tak lama Brandon keluar dengan wajah kuyu nya.


"Ngapain disini bang?" Tanya nya saat melihat Raka di parkiran.


"Nungguin lu lah, sini kunci rumah. Gue tau lu mau pacaran dulu." Ledek Raka, dengan ekspresi datar nya.


"Siapa yang pacaran?"


"Lu lah, gak mungkin kita. Yang jomblo disini kan cuma Elu doang." Haris nimbrung, dengan senyum jahil nya.


"Gak tau aja dia, gadis-gadis di perusahaan kan lagi ngalamin patah hati, iya gak Ris?" Tanya Raka pada Haris.


"Maksudnya apa sih? Kagak ngarti gue." Tanya Brandon dengan wajah polos nya.


"Kagak paham gue, kenapa cowok telat mikir kayak dia jadi inceran." Celetuk Haris.


"Hadeeuhh, jangan bikin gue penasaran dong bang. Napa sih?" Tanya Brandon.


"Kagak ngerasa gitu, kalo satu perusahaan lagi heboh gara-gara Lu bonceng cewek tadi pagi hmm?" Tanya balik Raka.


Brandon terkejut, dari mana abang nya tau dia bonceng cewek tadi pagi? Ahh bisa jadi bahan ledekan nanti.


"Dari mana abang tau?"


"Masih tanya lagi, ya ampun. Kan gue dah bilang, perusahaan lagi rame. Ya gue denger dari temen satu devisi Lu lah." Jawab Raka. Brandon hanya tersenyum canggung, dan menggaruk pelipis nya yang terasa gatal.


"Peringatan dari gue sebagai abang angkat Lu, jangan mainin cewek. Kalo lu suka sama tuh cewek, seriusin!" Ucap Raka tegas.


"Iya bang, yaelah baru bonceng cewek aja jadi masalah gede."


"Masalah nya, Lu itu inceran satu kantor, tau gak?" Tanya Haris.


"Ya kagak lah, mana gue tau.." Jawab Brandon dengan wajah menyebalkan nya.


"Dah lah, yuk ke rumah sakit keburu darah tinggi." Ajak Raka, merangkul pundak Haris.


"Kalo udah pacaran, langsung balik. Jangan keluyuran apalagi balapan liar." Kedua abang somplak nya pun pergi, membuat Brandon menggelengkan kepala nya. Ada-ada saja kelakuan kedua abang angkat nya itu.


"Mana ada balapan liar, dasar abang-abang somplak." Gerutu Brandon.


"Btw Marsya ,kenapa belum keluar juga ya?" Gumam Brandon, padahal semua pekerja sudah hampir pulang semua.


Brandon masuk kembali ke kantor, dan mencari dimana gadis pujaan nya itu.


Hingga terdengar suara gaduh dari arah belakang, dekat pantry.


"Hehh, jangan mentang-mentang Lu deket sama Brandon jadi Lu bisa malas-malasan ya? Kerjain cepet." Ucap salah seorang wanita yang memakai seragam OG juga. Bahkan dengan kasar dia menjambak dan mendorong Marsya.


"T-tapii kata Ibu Marina hari ini saya gak ada tugas lembur." Jawab Marsya.


"Sudah berani menjawab ya? Ohh kau mau melawanku?"

__ADS_1


Brandon mengepalkan tangan nya, dia sangat tidak menyukai pembulian. Dia merogoh saku nya dan memvideokan aksi wanita itu.


"T-tidak Nona, saya akan mengerjakan pekerjaan mu." Ucap Marsya pelan.


Marsya berdiri, tapi dengan sengaja dia mengulurkan kaki nya ,hingga membuat Marsya tersandung dan jatuh. Mereka tertawa puas, melihat wajah Marsya yang mencium keramik.


"Gadis miskin yang mendekati pria kaya agar kecipratan.." Tawa mereka membahana.


"Cukup.. "


Mereka menoleh ke belakang, dan melihat Brandon berdiri dengan gaya angkuh nya.


"Aku tak menyangka, di perusahaan sebesar ini masih ada tukang buly." Ucap Brandon.


"Mari, kita pulang." Brandon memegang tangan Marsya dan membantu nya berdiri.


"Kenapa tidak melawan? Jangan jadi gadis lemah." Ucap Brandon, tapi Marsya hanya diam. Sesekali terdengar isakan kecil dari bibir mungil nya.


"Hentikan drama mu, Marsya. Kami tidak melakukan apapun padamu!" Teriak wanita itu.


"Apa kau fikir aku buta hmm? Aku sudah melihat semua nya, dari awal."


"Ayo pulang Marsya." Ajak Brandon, menarik pelan tangan Marsya dan membawa nya keluar.


Setelah di luar, Brandon membingkai wajah cantik Marsya dengan lembut.


"Kenapa kau ini? Kenapa kau diam saja?" Marsya hanya diam.


"Apa ini pertama kali nya mereka memperlakukan mu seperti ini, Marsya?" Tanya Brandon.


"Jawab aku, jangan hanya diam."


"Jika mereka melakukan hal seperti itu lagi, bilang pada ku."


"Kita pulang sekarang." Putus Brandon, dia kembali menarik tangan Marsya ke arah motor nya, bahkan memasangkan helm nya.


"Peluk." Perintah Brandon.


"T-tapi.."


"Ingat, aku tak suka penolakan." Ucap Brandon tegas, hingga membuat Marsya menuruti keinginan nya.


Sebenarnya Brandon sangat marah, saat melihat gadis pujaan nya di bully oleh teman sepekerjaan nya. Padahal pekerjaan mereka sama, yaitu OG.


"Dimana rumah mu?" Tanya Brandon, setelah setengah perjalanan.


"Di depan belok kanan kak." Jawab Marsya, dia masih memeluk Brandon dengan nyaman.


Hingga setengah jam kemudian, Marsya menghentikan laju motor Brandon, di depan sebuah rumah kecil yang sederhana, bahkan sudah hampir tak layak huni.


"I-ini rumah mu, Marsya?" Tanya Brandon. Marsya menunduk dan mengangguk pelan.


"Iya kak. Mampir?"


"Tentu saja, aku ingin bertemu ibu mu." Jawab Brandon, membuat Marsya terhenyak.


Biasa nya para pria akan langsung pergi setelah tau bagaimana keadaan rumah Marsya, apalagi tau ibu nya yang sakit-sakitan, tapi Brandon? Dia malah sebaliknya.

__ADS_1


"Kenapa? Tak jadi mengajak ku mampir?" Tanya Brandon, melambaikan tangan nya di depan Marsya.


"Eehh, iya kak. Mari" Ajak Marsya, dan Brandon mengekor di belakang nya.


"Ma, Aca pulang." Ucap Marsya di depan pintu, dan masuk setelah membuka sepatu nya.


Brandon masuk ke dalam rumah Marsya, meski terlihat kumuh tapi di dalam nya sangat rapi dan bersih.


Hingga tatapan mata nya tertuju pada wanita lemah yang duduk di kursi, wajah nya sangat pucat, dan tubuh nya yang kurus. Dan Marsya menyalami tangan wanita itu, dan mencium nya dengan takzim.


"Siapa itu nak?" Tanya Asih, Mama Marsya.


"Saya Brandon Bu, teman kerja Marsya di kantor." Jawab Brandon, memperkenalkan diri sendiri.


"Asih, mama nya Marsya." Mereka berjabat tangan.


Tak lama, keluar Marsya dari sebuah lorong yang Brandon yakini, itu adalah dapur. Dengan membawa satu cangkir teh hangat, dan meletakan nya di meja kecil di depan Brandon.


"Maaf ya, di rumah kami hanya ada ini."


"Tidak apa-apa, maaf saya merepotkan." Ucap Brandon sungkan.


"Ahh tidak, hanya secangkir teh." Brandon mengambil teh dan meminum nya perlahan.


Ibu Asih menatap Brandon dengan intens, jarang sekali ada pria yang mau bertamu ke rumah nya, meski di rumah ini ada gadis cantik.


Brandon bercengkrama dengan akrab, hingga lupa waktu. Terpaksa obrolan itu harus terhenti karena dering ponsel di saku Brandon.


"Iya bang?"


"Dimana? Pulang sekarang." Ujar Raka di seberang telepon.


"Yaelah bang, lagi ngapel. Bentar lagi oke?"


"Ohh lagi ngapel ya? Yaudah, jangan malem-malem pulang nya."


"Iya bang, bentar lagi pulang."


Setelah sambungan telepon terputus, Brandon segera pamit ke pada Bu Asih juga mencium tangan nya sopan, membuat Bu Asih tersenyum.


Baru kali ini, pria yang mengaku teman dari putri nya melakukan hal ini.


"Saya pamit dulu, Bu."


"Hati-hati ya Nak.." Brandon hanya mengangguk mengiyakan.


Marsya ikut mengantar sampai ke halaman rumah.


"Aku pulang dulu, baik-baik di rumah ya? Besok aku jemput pagi-pagi ya."


"Gak usah repot-repot kak, aku bisa naik bus." Tolak Marsya.


"Gak repot kok, aku pulang dulu ya. Jangan lupa makan." Ucap Brandon, mengelus puncak kepala Marsya dengan lembut.


Brandon menaiki motor nya, dan melaju meninggalkan rumah sederhana milik gadis pujaan nya.


🌻🌻

__ADS_1


tinggalkan jejak ya, maafin kalo banyak typo🤭


__ADS_2