
Setelah Brandon dan Marsya pergi, tak lama kemudian datanglah Danu bersama Sinta juga Anita.
"Waduh, kok bergerombol kayak ikan ya?" Gumam Raka sambil menggaruk kepala nya, dan sukses mendapat geplakan dari istri nya. Raka meringis dan mengelus lengan nya,
"Selamat pagi, sudah membaik Nak?" Tanya Danu.
"Sudah pah, hanya masih ngilu aja." Jawab Lita lirih.
"Oh ya, perkenalkan ini Sinta istri ayah, ini Anita anak ayah." Ucap Danu memperkenalkan dua sosok wanita yang datang bersama nya.
"Ya, ayah lupa itu Jonathan suami Anita." Danu menunjuk Jo yang masih berdiri di ambang pintu.
"Jo?"
"R-raka, kau disini?" Tanya Jonathan dengan wajah terkejut nya.
"Tentu saja, Lita istri ku."
"Jadi kau anak ayah Danu ya? Ya ampun, tak sangka ternyata kita terikat tali persaudaraan ya." Celetuk Jonathan, membuat wajah Raka masam.
"Kalian sudah saling mengenal?" Tanya Danu heran, mereka terlihat sudah saling mengenal.
"Ya, karena urusan bisnis." Jawab Raka ketus. Danu menghela nafas nya pelan, anak nya belum luluh juga. Raka memang tahan uji.
"Baguslah," Ucap Danu dengan senyum yang di paksakan nya.
"Ngobrol di luar ya Jo, sudah lama sejak terakhir kita bertemu." Ajak Raka, dan Jo mengiyakan.
"Sayang, aku ngobrol dulu sama teman lama ku. Kalau ada apa-apa, panggil saja aku ada di luar." Peringat Raka, Lita hanya menganggukan kepala nya mengiyakan perkataan suami nya.
Raka pun pergi keluar ruangan bersama Jo, menyisakan satu keluarga itu di dalam ruangan.
"Mau makan buah nak?" Tanya Danu, sedangkan Sinta dan Anita hanya berdiri mematung di tempatnya.
Mereka masih syok saat Danu mengatakan kalau dia punya anak lain dari masa lalu nya, ingin rasanya dia marah, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa, anak itu tak bersalah apapun. Yang harus di salahkan disini tetap saja Danu, karena suka menebar benih sembarangan.
"Boleh yah." Jawab Lita, Anita mendekat ke arah brankar Lita.
Danu mengambil buah apel dari parsel yang tadi dia bawa, sedangkan Anita melihat perhatian ayah nya yang tak seperti saat memperlakukan nya, sangat jauh berbeda. Ada rasa iri, tapi dengan cepat dia menepis semua nya, mungkin ini hanya karena mereka baru di pertemukan.
"Kenapa Anita? Ayo sapa kakak ipar mu, ingat Raka adalah kakak mu." ucap Danu tegas saat melihat tatapan mata anak nya.
"Hallo kak ipar.."
"Ahh ya, hallo juga Anita." jawab Lita dengan senyum manis yang terkembang di kedua sudut bibir nya.
"Ya ampun, kakak cantik sekali." Puji Anita, tak dapat di pungkiri bahwa wanita di depan nya sangat cantik, seperti putri.
__ADS_1
"Benarkah? Terimakasih, kamu juga cantik Anita." Balas Lita.
"Mana bayi kakak, aku ingin melihat keponakan ku." Celoteh Anita dengan antusias.
"Dia sedang berjemur bersama neneknya, An." Jawab Lita. Jika Anita sudah bisa menyesuaikan diri dengan situasi ini, berbeda dengan ibu nya, Tante Sinta.
Dia masih merasa canggung dalam situasi ini, situasi baru yang membuat nya cukup kaget setelah tau kenyataan sebenarnya tentang penghianatan suami nya, jauh sebelum mereka mengikat janji suci di hadapan tuhan, bersumpah setia seumur hidup, tapi bahkan sumpah itu sudah ternoda dari awal.
Dia dengan jelas tau kalau ini semua bukan kesalahan Renata atau pun Raka, tapi ini murni kesalahan suami nya sendiri. Jadi dia tak bisa menyalahkan kedua orang baru yang datang dalam hidup nya sekarang.
"Mama, ayo kesini. Kak Lita orang nya ramah lho, kita harus mengakrabkan diri."
"A-ahh ya Anita, mama akan mencoba nya. Ini terasa canggung." Jawab Sinta.
Danu perlahan meletakan piring berisi potongan buah apel yang sudah di kupas ke hadapan menantu nya, dan dengan senang hati Lita memakan nya.
"Terimakasih sudah mendonorkan darah ayah untuk ku kemarin.." Ucap Lita, di sela makan nya.
"Sudahlah, tak perlu di bahas lagi. Sebagai mertua yang baik, itu sudah tugas ayah. Untuk membalas budi karena sudah mendampingi putra ayah pun rasa nya tak sebanding, jadi biarlah."
"Kami saling mencintai yah, aku sudah berjanji demi hidupku akan bersama Mas Raka apapun keadaan nya, suka maupun duka, kesalahan apapun Lita maafkan kecuali perselingkuhan."
"Karena menurut Lita, penghianatan itu kesalahan yang tak termaafkan, itu kesalahan yang sangat fatal."
Degg...
"Kenapa?"
"Ayah ku dulu pernah melakukan hal semacam itu, dan setelah nya hubungan orang tua ku menjadi dingin hingga akhirnya mereka berdua meninggal."
"Kepercayaan adalah sebuah pondasi yang harus di bangun dengan kokoh dalam sebuah hubungan, sekuat apapun kita berusaha bertahan, jika tiang pondasi nya lemah? Tetap saja akan hancur berantakan, ibarat nya sebuah rumah tak memiliki tiang penyangga, apa yang akan terjadi?" Tanya Lita.
"Oleng dong kak.."
"Yap betul, maka dari itu kepercayaan sangat penting dalam membangun sebuah hubungan. Jadi menurut Lita, kesalahan apapun bisa di maafkan kecuali penghianatan."
"Perlu di ketahui, kepercayaan itu ibarat sebuah kertas yang di remas hingga berantakan, lalu kita berusaha memperbaiki nya, sekuat apapun mencoba membuat nya utuh seperti semula, itu mustahil kan? Pasti akan terlihat berantakan, itu berlaku juga pada hati."
"Kepercayaan itu tak seperti riak air saat kita melempar batu, meski pun beriak tapi akan kembali lagi seperti semula, tentu tidak seperti itu." Jelas Lita lagi, membuat Danu lebih tertampar lagi.
Meninggalkan sejenak kecanggungan di dalam ruangan, dua lelaki tampan sedang mengobrol serius di luar ruangan.
"Apa Danu sudah memberitahu tante Sinta kalau aku adalah anak nya, Jo?" Tanya Raka serius.
"Tentu saja, makanya mereka memaksa ikut kemari Ka." Jawab Jonathan.
"Lalu, seperti apa ekspresi tante Sinta setelah tau kalau aku adalah anak dari suaminya?"
__ADS_1
"Dia terkejut Ka, bahkan pingsan malam itu. Jujur aja, gue juga terkejut nya setengah mati. Gue mikir nya gini ya, mana mungkin Lu anak nya bapak mertua gue kan? Tapi hidup selalu penuh kejutan, dan itu terjadi sekarang."
"Anita juga marah besar hari itu Ka, setelah tau kalau ayah nya menghianati ibu nya lagi. Selama ini dia sering menangis dalam diam, karena ya lu tau sendiri mertua gue kayak gimana kelakuan nya kan, sering gunta ganti cewek."
"Tapi setelah di jelaskan lebih detail, Anita luluh dan mau maksa ikut kesini, karena pengen ketemu sama Lu dan istri. Ya gue gak bisa ngelarang, toh dia juga wajib tau kakak nya kan? Cuma waktu itu gue masih mikir mungkin Raka yang laen, bukan Lu."
"Setau gue kan bapak Lu Farhan, bukan Danu." Jelas Jonathan, dia juga pusing sebenarnya harus terlibat dalam drama rumah tangga ini. Tapi mengingat dirinya sangat mencintai istrinya, dia harus tetap kuat.
"Hidup gue udah sulit jangan nambah lagi lah Jo, cukup dah cobaan hidup gue. Capek gue tuh, belum lagi adek gue ngebet kawin."
"Lu punya adek?" Tanya Jo, setau nya Raka adalah anak tunggal.
"Adek angkat, dia yang nyelamatin Lita waktu tragedi dua tahun lalu."
"Kenapa? Sorry, gue kagak tau Ka." Raka melirik ke arah Jonathan, lalu menghembuskan nafas nya perlahan. Sejujurnya dia tak mau mengingat peristiwa itu lagi, tapi Jo juga harus tau.
Raka pun menceritakan semua nya tentang Catherine dan Farhan, secara detail tak ada yang terlewat sedikit pun. Hingga puncak nya, waktu Catherine nekat menabrak Lita tapi di selamatkan oleh Brandon.
"Jadi Brandon tuh adek yang mau nabrak istri lu?" Raka mengangguk.
"Dan lu tau, istri gue lagi hamil muda saat itu." Jonathan menganga mendengar penuturan Raka.
"Whatt??"
"Kecelakaan itu terjadi tepat di hari ulang tahun gue Jo, soalnya dia baru aja buat kado sama Brandon."
"Pria itu menolong istri gue dengan tulus, karena sebelum nya dia cinta banget sama Lita Jo, tapi dia menyerah karena Lita udah milih gue. Awalnya gue gak suka sama tuh cowok, tapi setelah yang dia lakuin buat nolongin istri gue, gue percaya dan malah merasa bersalah karena udah mengabaikan peringatan nya."
"Karena itu gue udah sepakat buat jadiin dia adek angkat gue, Jo. Gue sayang sama dia sekarang, beneran kayak adek gue sendiri. Dia anak yang baik, setelah koma sembilan bulan karena benturan di kepala nya, dia amnesia lama Jo setaunan lebih."
"Tapi lagi-lagi, rasa bersalah tuh selalu dateng. apalagi inget sikap gue yang buruk sama dia," Jelas Raka panjang kali lebar.
"Udah, semua udah terjadi udah berlalu juga. Kedepan nya semoga kejadian kayak gini gak bakalan terulang lagi." Ucap Jonathan, dia mengusap pundak Raka menguatkan. Mengingat kembali hal yang paling menyakitkan tentu tak mudah.
"Bang, di dalam ada siapa? Marsya mau pamit pulang sama kak ipar."
"Ada pria tua sama istri dan anak nya, masuk aja." jawab Raka. Brandon pun menganggukan kepala nya dan masuk perlahan ke dalam ruangan inap kakak ipar nya.
"Itu Brandon?"
"Ya, dia adek tengil gue Jo." Jawab Raka dengan senyum simpul nya.
"Wajahnya berasa gak asing Ka."
🌻🌻
Semoga ada titik terang soal bapak nya Brandon ya☺️
__ADS_1
bab yang cukup panjang, hingga buat jari author tremor🤭 kasih semangat dong, dengan kopi atau bunga gitu, heehee..