Mencintai Adik Sahabatku

Mencintai Adik Sahabatku
Marsya Melahirkan?


__ADS_3

"Mas.. Mas Raka?" Panggil Ibu Asih dari teras rumah.


Raka dan Lita yang baru saja bangun tidur segera menghampiri ibu Asih yang berdiri dengan kaki gemetaran, bahkan di kaki nya terdapat luka yang mengeluarkan darah karena tak memakai alas kaki.


"Lho kenapa bu? Kenapa panik gitu?"


"Tuan Roberts Mas, tolong.."


Tanpa bertanya lagi, Raka yang tau keadaan papa nya Brandon itu segera berlari dengan kencang, di ikuti Lita yang masih setengah mengantuk.


Raka masuk ke dalam kamar dimana beberapa hari ini dia selalu menyempatkan menjenguk papa dari adik tiri nya itu.


Raka melihat pemandangan yang begitu menyayat hati, Brandon masih menangis bersama Marsya dengan saling berpelukan. Dia juga melihat wajah Tuan Roberts sudah memucat dengan bibir yang mengatup rapat.


Raka mendekat dan memeriksa lengan nya. Hilang, denyut nadi nya sudah hilang.


"Brand.." Panggil Raka lirih, dia juga tak kuasa menahan air mata saat menyaksikan adik nya yang begitu dia sayangi menangis tersedu-sedu.


"B-ang.. Pa-pa.." Ucapan nya tersendat karena tangis nya membuat sesenggukan.


"Abang tau, kamu harus kuat, kamu harus ikhlas ya."


"Kemarilah, kamu butuh sandaran.." Raka merentangkan tangannya dan Brandon segera memeluk abang nya itu, menumpahkan segala tangis nya di pundak abang nya.


Lita datang dengan nafas yang ngos-ngosan karena berlari, dia langsung tau begitu melihat Brandon yang memeluk suami nya.


Lita mendekati adik ipar nya, ini pasti hari yang berat untuk Marsya, kehamilan sudah besar, tapi malah tertimpa masalah yang demikian besar nya, kehilangan sosok ayah mertua yang begitu baik.


"Aca.." Panggil Lita, Marsya mendongak dan segera menghambur memeluk kakak ipar nya.


Lita memeluk tubuh berisi adik nya dengan erat, mengusap punggung Marsya yang terguncang naik turun karena tangisan nya.


"Kamu harus tabah sayang, tak pernah ada yang menginginkan kehilangan figur seorang ayah, kamu harus ikhlas Ca.."


"Ma, tolong hubungi Haris dan Mike, juga Papa dan Jonathan." Ucap Raka, sedangkan dia masih berusaha menenangkan tangis Brandon yang semakin menjadi.


Biarlah dia menangis hari ini, fikir Raka.


Dia masih ingat betul kata-kata terakhir Alm. Roberts. Beliau menitipkan Anak dan menantu nya pada nya, secara khusus.


Saat itu Raka sudah tau kalau penyakit yang di derita Roberts sudah di tahap akhir dan tak mungkin dapat di sembuhkan lagi.


Tanpa berfikir lama, Raka segera menyanggupi permintaan Roberts, dia sangat tau kalau ini permintaan terakhir nya.


"Tidak, sebaiknya aku saja. Tolong temani Brandon dan Marsya dulu." Raka melerai pelukan nya dan pergi untuk menelpon Haris.


Tuttt... tutt..


"Hallo, kenapa ka?" suara Haris di seberang sana terdengar tersengal.

__ADS_1


"Lagi main ya? Sorry gue ganggu, lu kesini sekarang."


"Ada apa seh?" Tanya Haris penasaran.


"Bapak nya Brandon meninggal, lu kesini ya.."


"A-apa? Oke gua kesana sekarang sama Bella." jawab Haris, Raka mengiyakan dan segera mematikan sambungan telepon nya.


Lalu selanjutnya, Raka harus menelpon Mike.


"Hallo,"


"Ya Mike, bisakah pulang sekarang?" Tanya Raka dengan suara pelan.


"Aku memang akan pulang, sekarang sedang menunggu pesawat."


"Syukurlah, papa mu menunggu." Ucap Raka lirih, air mata nya kembali menetes. Dia tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Mike saat tau papa nya sudah meninggal.


"Ada apa Raka? Apa papa ku baik-baik saja, jangan membuat ku khawatir. Suara mu seperti orang sedang menangis," Tebak Mike, dan itu benar adanya.


"Maaf Mike, sebaiknya kau segera pulang saja."


"Apa papa ku sudah pergi Raka?" Tanya Mike di seberang sana.


Degg..


Mike bisa menebak nya bahkan sebelum dia memberitahu nya, feeling seorang mafia hebat memang tak di ragukan.


"Baiklah aku akan pulang, tolong aku meminta foto wajah ayahku yang terakhir. Aku tak yakin akan pulang tepat waktu, jadi lakukan saja pemakaman nya, jangan menunggu ku. Kasian Papa." Ucap Mike.


"Baik Mike, aku akan segera mengirimnya." Mike hanya mengiyakan dan dia mematikan ponsel nya, karena pesawat akan segera lepas landas.


...


Di rumah Haris, pria itu segera berpakaian. Sebelumnya pria itu tengah menikmati jatah nya dengan sang istri, tapi sayang saat sedang di tengah-tengah bahkan dia hampir meraih pelepasan nya, tiba-tiba saja Raka menelpon dan memberi kabar buruk.


Nafsuu nya tentu saja hilang begitu saja, dia harus segera pergi ke rumah adik nya, dia sudah bisa membayangkan bagaimana terpukul nya Brandon saat ini.


"Ada apa Mas? Bukan nya kita belum selesai, nanggung banget."


"Kita harus ke rumah Brandon sekarang, dia sedang berduka. Kita lanjutkan nanti saja." Jawab Haris, dia segera memakai pakaian nya.


"Maksud nya? siapa yang meninggal?"


"Tuan Roberts, cepat lah. Berpakaian saja dulu kita bisa mandi di rumah Raka nanti." Ucap Haris terburu-buru.


"Ya ampun, baiklah." Bella juga segera bangkit dan memakai kembali pakaian nya dengan cepat.


Setelah itu mereka pun pergi dengan membawa baby Devanno yang di gendong Ibu nya Bella.

__ADS_1


...


Mike melamun sepanjang perjalanan dari Amerika ke indonesia, pikiran nya berkecamuk. Dia menyesal karena tak menuruti kemauan adik nya agar dia segera pulang, dan mengatakan keadaan papa nya memburuk, tapi dia lebih mementingkan pekerjaan dan malah membuat nya menyesal.


"Mas, jangan sesali apa yang terjadi."


"Aku tak bisa menemani papa di saat terakhir nya sayang, hanya itu yang aku sesali." Jawab Mike, tak terasa air mata nya menetes begitu saja.


Hanna dengan cepat memeluk suami nya, ini juga karena nya. Bukan Mike terlalu sibuk dengan pekerjaan, karena bisa saja dia meluangkan waktu untuk pulang ke negara nya.


Tapi, Mike selalu mengkhawatirkan keadaan nya yang mengalami morning sickness parah setiap pagi nya.


Hanna mengusap punggung Mike dengan lembut, dia tau sebesar apa kesedihan suami nya saat ini.


....


"Sayang.." Ringis Marsya merasakan sakit yang begitu menyiksa di area perut nya.


"Kenapa sayang?" Tanya Brandon, dia baru saja terbangun dari pingsan karena kelelahan menangis sedari tadi.


"S-sakitt sekali."


"Apanya sayang?" Tanya Brandon santai, kesadaran nya belum kembali sempurna.


"Perut ku sakit sekali." Jawab Marsya, keringat membanjiri kening nya.


Brandon yang baru tersadar, segera memeriksa perut istri nya dan dia begitu terkejut setengah mati saat menyaksikan cairan bening yang mengalir dari inti sang istri.


"Kamu pipis sayang?"


"T-tidak.." Jawab Marsya meringis kesakitan.


Tiba-tiba saja Lita masuk ingin memeriksa keadaan sepasang suami istri itu, dia terkejut bukan main saat melihat genangan air yang mengalir dari paha adik nya.


"Mas, Mas Raka.." teriak nya, membuat Brandon dan Marsya malah saling menatap, karena tak tau alasan kakak ipar nya itu berteriak dengan panik.


"Kenapa sayang?"


"Marsya mau melahirkan, lihat ketuban nya sudah pecah." Ucap Lita.


"Air ketuban? Jadi ini air ketuban ya?"


"Astaga, cepat bawa istri mu ke rumah sakit, tak ada lagi waktu. Takut nya bayi nya keburu lahir, cepat." Ucap Raka.


Brandon segera menggendong istri nya dan membawa nya ke rumah sakit, dia melupakan sejenak kesedihan nya atas kehilangan sosok papa nya karena kepanikan saat kakak nya memberi tahu kalau istri nya akan melahirkan sekarang.


...


🌻🌻🌻

__ADS_1


Rasa nya nano-nano ya bang,,😞


__ADS_2