
Saat siang hari, Marsya sudah di perbolehkan pulang karena kondisi nya sudah sehat, dan pusing nya juga sudah hilang.
Brandon berjalan bersampingan dengan Marsya, tangan nya selalu menggenggam erat tangan Marsya. Meski awal nya Marsya menolak, tapi dengan segala bujuk rayu nya akhirnya Marsya mengalah dan membiarkan tangan nya di genggam.
"Aku anterin kamu pulang ya?"
"Pekerjaan aku gimana, kak?" Tanya Marsya.
"Kamu ini, baru aja sehat udah mikirin kerjaan. Pak El tau semua nya kok, jadi jangan khawatir. Kita masuk kerja besok, karena hari ini hari minggu."
"Hari minggu? Harus nya aku jualan kue hari ini."
"Nanti aku bantu jualan ya. Kita pulang aja dulu." Ajak Brandon, Marsya pun mengiyakan.
Saat sampai di parkiran, Marsya celingukan mencari motor matic yang biasa di pakai Brandon. Tapi Brandon malah masuk ke parkiran mobil.
"Lohh kok gak pake motor?" Tanya Marsya.
"Kenapa? Biar bisa peluk gitu?" Goda Brandon, dan sukses membuat Marsya merona. Benar, dia sangat suka memeluk Brandon, terasa nyaman, hangat dan aman.
"Ini mobil bang Raka, kemaren aku kesini pake mobil ini. Motor aku di kantor, soalnya aku gak mood bawa motor setelah tau kamu hilang." Jelas Brandon.
"Masuk lah, kita pulang sayang." Ucap Brandon lagi, karena Marsya hanya mematung di sisi mobil.
"A-aku takut mabuk kak."
"Buka aja jendela nya, ayolah." Bujuk Brandon, dengan ragu Marsya masuk ke dalam mobil, bahkan dia tak bisa memasang sabuk pengaman.
Dengan peka nya, Brandon memasangkan sabuk itu, membuat dada nya berdebar hebat karena posisi nya sangat dekat dengan Marsya, apalagi hembusan nafas Marsya sangat terasa menyapu wajah nya.
Brandon mendekatkan wajah nya, dan mencium kilat pipi kanan Marsya, setelah itu dia menjauhkan wajah nya. Dan menetralkan ekspresi wajah nya.
Sepanjang perjalanan pulang, hanya ada keheningan. Tak ada yang memulai pembicaraan apapun, suasana terasa sangat canggung.
🌻
Mereka sampai di area perumahan kumuh Marsya, para tetangga terlihat berjejer di sisi jalan saat melihat mobil sedan itu melaju pelan.
"Ada apa dengan mereka sayang?" Tanya Brandon, saat melihat tetangga julid Marsya.
"Entahlah, apapun itu pasti akan berakibat buruk. Sebentar lagi pasti gosip besar akan menyebar." Jawab Marsya.
"Gosip apa?"
__ADS_1
"Entahlah, tapi apapun itu aku sudah terbiasa jadi aku akan baik-baik saja." Jawab Marsya, lalu tersenyum manis.
Brandon menghentikan mobil nya di halaman rumah Marsya, Brandon keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk Marsya.
Marsya yang mendapat perlakuan manis dari Brandon, seketika menyunggingkan senyum manis nya. Dia begitu tersanjung dengan perlakuan Brandon, pria itu membuat nya merasa di istimewa kan.
"Kak Aca.." teriak Nia dari ruang tamu, dia berlari memeluk kakak nya.
"Iya Nia, kenapa?"
"Kakak baik-baik saja kan? Kakak tampan bilang, kakak sakit jadi nya gak pulang." Ucap Nia dengan mata yang berkaca-kaca.
Kemarin malam sebelum pergi ke rumah sakit, Brandon datang kesini terlebih dahulu untuk memberitahu tentang Marsya.
"Kakak baik-baik saja, hanya kelelahan. Ayo masuk."
Brandon mengekor di belakang Marsya dan Nia, tapi dia cukup terusik dengan bisikan-bisikan dari mulut tetangga di belakang nya.
Ingin rasa nya dia melabrak para ibu-ibu itu, tapi Marsya melarang nya.
Brandon duduk di kursi yang ada di ruang tamu, dia langsung tersenyum saat ibu Asih menyambut nya dengan ramah.
"Ibu baik?" Tanya Brandon.
"Sebenarnya ada apa dengan Marsya? Dia sakit apa?" Tanya Ibu Asih. Kemarin, Brandon tak menjelaskan apapun tentang keadaan Marsya.
"Marsya pingsan saat bekerja bu, kata dokter dia hanya kelelahan." Jawab Brandon berbohong, dia tak mau membuat ibu Marsya khawatir dan membuat kesehatan nya memburuk.
"Anak itu memang keras kepala, sudah ku bilang jangan terlalu lelah bekerja. Tapi dia tak mendengarkan ibu."
"Marsya gadis yang pekerja keras, Bu." Ucap Brandon.
Tak lama, Marsya keluar dari bilik kecil yang mungkin adalah kamar nya, dengan pakaian santai nya.
"Sudah sore, aku pulang dulu ya. Besok aku akan menjemput mu, jadi jangan pergi sebelum aku kemari."
"Beristirahat lah.." Ucap Brandon.
Marsya hanya mengangguk, dan Brandon keluar dari rumah kecil kumuh itu.
Bahkan saat keluar pun, para tetangga-tetangga Marsya masih berdiri di sisi jalan dan menggosipkan Marsya yang pulang dengan naik mobil mewah.
Brandon berjalan mendekat ke arah ibu-ibu penggosip itu, dia menguping pembicaraan mereka.
__ADS_1
"*Sebenarnya si Marsya itu kerja apa ya? Kemaren pulang nya di anter cowok pake motor, sekarang pake mobil sedan mewah?"
"Jangan-jangan dia jadi wanita malam buat kerja sampingan, yakan?"
"Bisa jadi dong, kalau gak gitu mau dari mana dia punya uang buat beli obat ibu tua yang tukang sakit itu, atau biaya buat adik nya si Sania."
"Kasian ya, cantik-cantik kok jadi PL*."
Mereka menghentikan obrolan itu saat mendengar seseorang berdehem, Brandon menatap wajah ibu-ibu gosip itu dengan tatapan kesal.
"Permisi, apa kalian tidak punya pekerjaan?"
"Oh iya, saya lupa. Kalian memang ibu-ibu tak punya kerjaan, yang bisa nya hanya membicarakan orang lain."
"Saya tanya, apa kalian punya anak gadis? Bagaimana jika yang kalian ucapkan barusan itu berbalik dan terjadi pada anak kalian hmm?" Tak ada yang menjawab, mereka diam seribu bahasa. Hanya sesekali menatap ke arah Brandon.
"Bayangkan, bagaimana rasa nya saat anak gadis kalian di gunjingkan seperti ini? Bahkan kalian membicarakan nya dengan sesuatu yang buruk?"
"Sakit kah? Tolong hargai orang lain, kalian adalah orang tua. Marsya adalah gadis yang baik, dia mau bekerja keras demi keluarga nya."
"Dan tadi kalian bilang apa? Dia jadi wanita malam atau PL? Harus nya sebelum bicara kalian fikir dulu, apa kalian tak memikirkan perasaan Marsya?"
"Aku bukan keluarga Marsya, tapi dia adalah teman ku di kantor. Dan aku tau dia bukan tife gadis yang gila harta, hingga mau mengorbankan masa depan dan kehormatan nya. Sampai sini paham?"
"Usia kalian lebih tua dari ku, tapi ternyata usia tak bisa menjamin suatu ke dewasaan. Menurut ku, dengan membicarakan Marsya di belakang itu adalah sifat yang kekanak-kanakan. Tak malu kah?"
"Remaja yang tak sopan." Ucap salah satu ibu-ibu dengan nada ketus.
"Baik, anggap saja saya tak sopan. Saya juga bukan orang sini, tapi jujur saja sebagai teman dari gadis yang kalian gunjingkan itu saya sangat tersinggung! Sebaiknya, jika tak tau kebenaran nya jangan menggiring opini yang buruk."
"Kalian pernah membayangkan bagaimana hancur nya mental Marsya saat mendengar semua obrolan kalian yang menjatuhkan nya? dengan segala aib, yang bahkan tak di lakukan oleh nya, pernah kah berfikir sampai kesana?"
Mereka diam, menunduk dalam. Kena mental dah tuh, di nasehati remaja yang bahkan usia nya jauh lebih muda dari mereka.
"Lakukan lah pekerjaan yang sekira nya bermanfaat, bukan menggosipkan anak gadis orang. Saya tanya, manfaat nya apa? Tak ada kan?"
"Baiklah, sekian pepatah dari saya. Permisi." Ucap Brandon kesal, dan pergi memasuki mobil nya.
Di zaman seperti ini memang banyak gadis yang mencari uang dengan cara instan, tapi tidak untuk Marsya. Dia lebih memilih bekerja menjadi office girl, pekerjaan yang di pandang rendah oleh sebagian orang.
🌻
Harus punya mental baja sih kalau punya tetangga modelan gitu🙄
__ADS_1
tinggalkan jejak, dan gift ya, kopi aja deh pagi-pagi enak nya ngopi kan?🤭🤭 ngarep😂