
Tak sangka saat jam makan siang, Elgar datang ke ruangan Raka dan bersikap seolah mereka adalah teman, bukan atasan dan bawahan.
"Ku perhatikan beberapa hari ini, kau selalu datang dengan wajah pucat. Kau sakit apa?" Tanya Elgar, setelah duduk berhadapan dengan Raka.
"Saya mengalami kehamilan simpatik, Pak." Jawab Raka, masih berbicara formal.
"Kehamilan simpatik?" Tanya Elgar memastikan, dan Raka hanya mengangguk mengiyakan.
"Kebetulan, aku juga mengalami nya." Ucap Elgar sambil terkekeh.
"Benarkah?"
"Kehamilan pertama dan kedua Amira, aku yang muntah-muntah parah setiap pagi." Jawab Elgar.
"Berarti bukan hanya saya yang mengalami hal semacam itu pak?" Elgar menggeleng, sambil terkekeh lagi.
"Bahkan Adam dan Andi juga mengalami nya, Raka."
"A-apa? Tiga serangkai pernah mengalami morning sickness?" Tanya Raka, dengan segala keterkejutan nya.
"Tentu saja, Siska hamil duluan karena Amira butuh waktu cukup lama untuk mengandung. Dan lucu nya, kami berdua sering bergantian ke kamar mandi dekat dapur, karena pantangan kami sama, aroma kopi."
"Saya juga Pak, saya tak tahan dengan aroma kopi. Padahal biasa nya saya menyukai minuman pahit itu." Ucap Raka.
"Bahkan Adam mengalami gejala morning sickness itu hingga kandungan Siska menginjak usia 6 bulan, dan Amira hamil 4 bulan."
"Bapak sendiri mengalami hal itu sampai Nyonya hamil berapa bulan?" tanya Raka.
"Empat bulan, lebih satu minggu." Jawab Elgar.
"Huuffttt, saya masih harus tersiksa setiap pagi pak." Keluh Raka sambil menghela nafas.
"Semangat ya, kalo kata almarhumah ibu ku. Kalau suami yang mengalami hal seperti itu, tanda nya dia sangat mencintai istri nya."
"Kemarin dokter yang memeriksa saya juga bilang begitu Pak, kalau masalah itu tak perlu di ragukan lagi. Saya bahkan rela melanggar segala perintah ayah saya, hanya demi istri saya." Jawab Raka sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong soal ayah kamu, kemarin saya kesana. Kondisi nya sudah semakin memburuk, kamu tidak berfikir dua kali untuk membawa pria tua itu ke rumah sakit Raka?" Tanya Elgar, meski dia adalah mafia, tapi dia masih mempunyai sedikit iba saat melihat pria tua itu di markas kecil milik Raka.
Apalagi kesalahan Farhan pada nya, bisa di bilang masalah kecil. Meski Elgar masih mengingat hal menyakitkan itu sampai sekarang, bahkan setelah dia mampu berdiri dengan kaki nya sendiri.
Robi pun menjadi pengusaha sukses yang bergerak di bidang pertanian, dia punya perkebunan strawberry di kawasan Lembang. Dan itu di buka untuk umum, sebagai tempat wisata. Meski memang sampai saat ini, pria itu masih betah menyendiri, kata Elgar.
__ADS_1
"Entahlah Pak, saya hanya merasa pelajaran untuk pria itu belum setimpal dengan apa yang sudah dia perbuat. Mulai dari menyakiti Ibu, perselingkuhan, lalu menyakiti Lita, hingga memperlakukan nya bak pembantu saat kami masih di apart, Rasa nya sakit itu masih sangat terasa Pak."
"Bahkan setelah Catherine meminta maaf atas semua kesalahan nya pada kami, tetap saja hati ini belum rela Pak. Catherine hanya korban dari jebakan seorang Farhan." Ucap Raka pelan.
"Aku tau Raka, sampai kapan pun luka itu akan terus basah. Tapi, bagaimana pun dia ayah mu kan? Dia ayah kandung mu."
"Sebenarnya, Farhan bukan lah ayah saya Pak." Jawab Raka sambil tersenyum kecut ke arah Elgar.
Raka sudah tau semua nya dari Mama Renata, apa yang terjadi sebelum nya.
"Maksud mu?" Tanya Elgar, setengah tak percaya. Raka kembali tersenyum kecut.
"Farhan menjual keperawanann Ibu saya kepada pengusaha yang bersedia membayar nya sangat mahal." Jawab Raka.
Elgar yang mendengar jawaban Raka hanya menganga dan membulatkan mata nya, heran dengan otak kriminal pria yang bernama Farhan Calleco itu.
"Tapi siapa sangka, benih yang pria itu tanam di rahim Ibu saya adalah bibit unggulan. Hingga sekali berhubungan, tercetak lah saya."
"Kau yakin Raka?" Tanya Elgar lagi. Dan miris nya, Raka mengangguk mengiyakan.
"Aku sudah melakukan tes DNA, sebelum aku dan Lita menikah. Dan hasil nya Negatif."
"Jadi siapa ayah biologis mu?" Tanya Elgar lagi.
"Maaf, tapi aku begitu terkejut dengan semua penjelasan ini Raka."
"Bapak terkejut? Apalagi saya." Ucap Raka sambil terkekeh pelan.
"Oke, balik lagi ke pembahasan awal. Bagaimana dengan ayah mu? kau akan membiarkan nya membusuk disana? Kaki nya sudah di amputasi, karena luka tembak itu."
"Entahlah, akan saya fikirkan lagi nanti." jawab Raka pelan.
"Baiklah, masalah itu aku tak bisa ikut campur karena ini masalah hati."
Raka mengangguk pelan, dan tersenyum samar.
"Yaudah, saya balik dulu ke ruangan. Semangat, dan selamat bekerja."
"Oh iya, selamat menderita setiap pagi Asisten ku." Ledek Elgar, lalu pergi keluar ruangan Raka. Sebelum melihat wajah masam sekretaris yang merangkap menjadi asisten pribadi nya itu.
"Pak El keliatan puas banget, mimpi apa aku bisa punya atasan kocak gitu ya?"
__ADS_1
"Tapi dia bos impian sih, paket komplit, mana royal banget lagi, ahh fiks ini mah gue beruntung. Mana bisa di ajak curhat lagi, atasan rasa temen." Gumam Raka, sambil terkekeh pelan. Dan kembali melanjutkan pekerjaan yang masih cukup banyak, karena saat Elgar masuk ke ruangan nya, kebetulan dia baru selesai memakan bekal buatan istri nya.
🌻
Sedangkan di lantai bawah, para reception sedang berkumpul dan berbincang.
Brandon juga ada di dalam nya, dia ikut tenggelam dalam obrolan random para karyawan lain.
Saat mata nya tak sengaja melirik gadis manis dengan rambut pendek sebahu nya, terlihat sederhana tapi mampu membuat Brandon tak berkedip saat melihat gadis itu tersenyum hingga mata nya yang sipit tertutup.
"Bar, siapa tuh cewek?" tanya Brandon, pada teman sebelah nya yang bernama Bara.
"Karyawan baru, baru masuk kemaren."
"Di bagian mana?" Tanya Brandon lagi.
"OG." Jawab Bara singkat, sambil membuka kaleng soda.
"Mana ada OG cantik gitu." Gumam Brandon, tapi masih terdengar oleh Bara.
"Ya ada lah, itu bukti nya. Nape Lu? Naksir? Pepet aja."
"Sialan Lu, dah yok lanjut kerja sebelum kena omel Bu Marina." Ucap Brandon, bangkit dari posisi dan melenggang pergi dari ruangan khusus pegawai itu di ikuti Bara.
🌻
Sore hari nya semua karyawan sudah bersiap pulang, juga Raka dan Haris yang sudah menyelesaikan tugas nya.
Raka keluar ruangan nya, bertepatan dengan Haris. Mereka mengadu tos ala anak muda, dan berjalan dengan gaya cool nya.
Saat keluar dari lift, Brandon menyusul setelah bertos ria. Mereka berjalan bak model do catwalk, hingga membuat para gadis berteriak heboh saat ketiga nya melewati mereka.
"Andai aja Pak Raka, sama Pak Haris belum merried, pasti aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan nya." Gumam salah satu wanita.
"Ada adek nya noh."
"Bussett, ogah ah masih kecil. Cocok ama anak gue kali." Sahut nya sambil tertawa.
"Gapapa kali jadi menantu." Ucap ibu-ibu rempong, biang gosip itu dengan tawa yang membahana.
🌻🌻
__ADS_1
jangan lupa jejak nya wehh😁🙏