
Sore hari nya, Brandon sudah stay di parkiran seperti biasa menunggu kekasih nya yang masih menyelesaikan pekerjaan nya.
"Woee, ngapain? Bukan nya udah waktu nya pulang ya, nungguin siapa?" Tanya Amanda, dia juga baru pulang setelah interview kerja.
"Nungguin pacar, keterima kagak lu?"
"Waww seorang Brandon, pria brengsekk sewaktu SMA sudah punya pacar? Kabar yang membuat heboh ini.." Ledek Amanda.
"Diem lu, gue dah tobat kagak pernah gitu lagi."
"Oohh ya sudah, gue pulang duluan." Ucap Amanda, tanpa menjawab pertanyaan Brandon tadi yang menanyakan dia di terima kerja atau tidak,
Tak lama kemudian, Marsya datang dengan langkah buru-buru nya.
"Kak.." Panggil Marsya, karena Brandon melamun hingga tak menyadari kedatangan nya.
"Ehh sayang, sudah selesai? Pulang sekarang atau mau jalan-jalan dulu?" Tanya Brandon.
"Ngelamunin apa coba? atau cewek yang di loby tadi ya?" Tanya balik Marsya ketus.
"Nggak kok sayangku, apaan sih. atau kamu cemburu?"
"Hiss kagak peka.." Sinis Marsya, dia pergi meninggalkan Brandon yang masih termangu dengan posisi nya di parkiran.
Setelah sadar, baru lah dia menyusul Marsya dengan motor nya.
"Laki-laki nyebelin kagak peka. Kamu cemburu ya? Ya jelas aku cemburu, aku kan pacar nya." Gerutu Marsya.
"Ralat ucapan mu sayang, aku tunangan mu." Ucap Brandon dari belakang, dia turun dari motor nya dan mendekati Marsya. Dari tadi dia tau kalau Marsya menggerutu.
Brandon segera menarik tangan Marsya ke taman terdekat, tempat dimana mereka berciuman untuk pertama kali nya waktu itu.
"Ayang, dengarkan aku. Dia bukan siapa-siapa kok, aku hanya mengenal nya saja."
"Tapi dia cantik kan?" Tanya Marsya sinis.
"Setiap perempuan pasti cantik lah, tapi menurutku kamu yang paling cantik."
"Kagak lucu, garing.." Ledek Marsya.
"Sayang, pura-pura kesenangan gitu. Aku belajar gombalan ini dari abang aku loh."
"Wahh, terimakasih sudah menyebut ku cantik." Ucap Marsya dengan ekspresi senang yang di buat-buat.
"Acting nya kagak natural, cut.." Brandon menepukan tangan nya seperti seorang produser yang mengetukan papan sebelum acting di mulai.
Marsya hanya tersenyum simpul, pria dingin itu meleleh jika bersama nya.
"Pulang yuk?" Ajak Marsya.
"Cium dulu, aku udah keluarin segala jurus gombalan aku buat bujuk kamu yang marah."
"Terus kalo kamu minta maaf, tanda merah di leher aku bakal hilang gitu aja? Kagak kan, udah lah aku mau pulang." Ketus Marsya. Dia kembali melangkah meninggalkan Brandon yang masih duduk di kursi taman.
__ADS_1
Brandon berlari menyusul Marsya, dia melihat seperti nya gadis itu masih merajuk.
Meninggalkan sejenak pasangan yang lagi marahan, di sisi lain ada Raka yang sudah kesal setengah mati karena terjebak antrian panjang di warung seblak langganan bos nya.
Dia berkali-kali mengumpat kasar, sudah hampir satu jam berlalu tapi antrian nya masih belum habis juga.
Bahkan ponsel nya sudah berkali-kali berdering panggilan dari istri nya yang menanyakan dia sedang dimana.
"Kenapa kak? Apa buru-buru?" Tanya seorang gadis yang berdiri di depan Raka.
"Iya nih, istri saya pengen kwetiaw kuah tapi antrian nya panjang banget, mana istri saya lagi hamil."
"Maju ke depan kak, biar saya kasih jalan."
"Permisi, tolong pengertian nya ya. Kakak ini istri nya sedang hamil ,dan ingin di dulukan. Gapapa ya?" Ucap gadis itu, dan orang di barisan itu mengangguk mengerti.
"Terimakasih, sebagai pengganti nya saya yang bayarin semua ya.."
Mereka bersorak kegirangan saat mendengar ucapan Raka, berarti makanan gratis.
🌻
Marsya turun dari motor matic Brandon, butuh usaha extra agar Marsya mau naik motor bersama nya tadi.
"Pulang sana." Usir Marsya.
"Gak, mau mampir dulu. Kangen sama Mama." Jawab Brandon santai. Berbeda dengan ekspresi Marsya yang mata nya sudah melotot hampir keluar dari tempat nya.
Brandon malah nyelonong masuk mendahului Marsya yang masih diam di tempat nya, dia menatap punggung lelaki itu dengan kesal. Bagaimana ada pria semenyebalkan dia? Tapi ganteng nya kebangetan.
"Kenapa Ca?" Tanya Ibu Asih.
"Gapapa Ma, hanya hari ini Marsya sial banget ketemu pria paling menyebalkan." Marsya melirik Brandon yang menatap nya dengan tatapan mesoom.
"Siapa?"
"Dia ada di hadapan Mama." Ucap Marsya ketus, lalu pergi ke kamar nya. Menyimpan tas kecil dan mengganti pakaian nya.
Setelah selesai, dia keluar dan pergi ke dapur. Dia tak mau berhadapan dengan pria menyebalkan sekaligus tampan maksimal itu,
Niat hati ingin menghindari Brandon, tapi pria itu begitu tak tau malu dan malah mengintili nya ke dapur.
"Ciee ada yang marah nih.." Marsya hanya melirik sinis ke arah pria itu dan kembali fokus dengan kegiatan nya. Hari ini dia ingin seblak pedas, dan terlihat dari tatapan nya pasti Brandon juga menginginkan makanan itu.
"Napa liat-liat? Mau?" Tanya Marsya ketus.
"Jangan ketus-ketus dong sayang, sama pacar tuh gak baik kalo marah lama-lama."
"Selama tanda ini belum hilang, aku akan tetap jaga jarak dengan mu." Jawab Marsya, tanpa melirik lelaki itu.
"Baiklah, aku akan membelikan mu barang yang bisa menutupi nya sayang."
"Barang itu hanya menutupi, bukan menghilangkan." Ketus Marsya, dia fokus mengaduk mengaduk seblak nya di wajan.
__ADS_1
"Ya setidaknya tanda itu menghilang dari pandangan orang lain sayangku, bagaimana?"
"Tidak! Aku masih punya pemberian kak Lita." Jawab Marsya.
"Lalu harus dengan cara apa agar kamu memaafkan aku sayang?" Tanya Brandon pelan.
"Fikir saja sendiri. Mau berbuat apapun, tanda ini takkan hilang jadi lebih baik menunggu sampai tanda nya menghilang sempurna."
"Ayolah sayang, mana bisa aku menjaga jarak selama itu?" Rengek Brandon.
"Darimana kau tau kalau tanda itu membutuhkan waktu lama untuk hilang?"
"Aku sering melihat tanda itu di leher kakak ipar ku, dan itu membutuhkan waktu seminggu sampai benar-benar hilang." Jelas Brandon lesu.
"Hisss, sudah tau lama hilang kenapa kau membuat nya hmm? Mana banyak banget." Marsya menghentikan sejenak kegiatan nya, dan menguyel-uyel kedua pipi cabi pria itu.
"Ayang sakitt loh.." Ringis Brandon.
"Oke, kali ini aku maafkan. Tapi jangan membuat nya lagi, apalagi tanpa izin ku."
"Jadi kalau aku mau melakukan itu, aku harus izin dulu padamu sayang?" Tanya Brandon dengan wajah konyol nya.
"Tentu saja, karena kamu menjamah tubuhku. Jadi harus izin dulu,"
"Baiklah, kamu milik ku kan?" Tanya Brandon lagi.
"Tidak, diriku hanya milik ku." jawab Marsya
"Tap.."
"Sudahlah, mau seblak gak? Udah mateng nih." Ucap Marsya, dia memindahkan seblak nya ke dalam mangkuk.
"Mau dong, wangi banget yang."
"Yaudah yuk makan, sisain dikit aja buat Nia." Ucap Marsya,
Mereka berdua pun pergi ke ruang tamu, dengan membawa mangkuk berisi seblak masing-masing di tangan nya.
Kuah nya merah merona dengan asap yang masih mengepul, karena baru saja matang.
Marsya meniup-niup seblak nya sebelum melahap nya, tapi ternyata itu suapan untuk kekasih nya, Brandon.
Brandon dengan senang hati menerima suapan dari tangan mungil kekasih nya.
"Bagaimana? apa enak, atau terlalu asin?" Tanya Marsya. Brandon tak menjawab, dia hanya mengacungkan kedua jempol nya.
"Mantul pokok nya, kamu berbakat dalam buat cemilan."
"Yaudah makan sampai habis ya, nanti kalau kurang nambah lagi. Buat Nia nanti aku bikinin lagi." Ucap Marsya semringah, dia sangat senang saat lelaki itu memuji masakan buatan nya.
🌻🌻
udah berapa kali di masakin Brand?😂
__ADS_1
jangan lupa jejak, tap favorit, happy reading❤️