Mencintai Adik Sahabatku

Mencintai Adik Sahabatku
Kepolosan Marsya


__ADS_3

Pagi hari nya, Marsya bangun dengan keadaan yang berantakan. Semalam dia ingat betul, tertidur dengan rapi, kancing nya juga. Tapi sekarang, sudah hampir semua kancing nya terbuka, bahkan sebelah buah dada nya keluar dari braa nya.


"Apa-apaan ini?" Gumam Marsya, dia meraba dada nya, terasa perih.


Marsya bangkit dari posisi nya, dia melihat ada banyak tanda merah di kedua dada nya. Marsya melirik kesal ke arah Brandon yang masih tertidur menelungkup.


"Bangun.." ucap Marsya sinis.


Brandon menggeliat dan berbalik menatap gadis nya yang sudah terbangun dan menatap nya tajam.


"Kenapa sayang?" Tanya Brandon polos, seolah dia tak punya salah apa-apa.


"Apa ini? Ini pasti perbuatan mu kan?" Tanya Marsya balik, dia menunjuk tanda kemerahan yang berjejer rapi di kedua dada nya.


Brandon gelagapan, itu juga kesalahan nya kenapa tak mampu menahan keinginan nya untuk membuat tanda itu,dengan jumlah yang cukup banyak.


Dia menggaruk tengkuk nya yang tak gatal, dia bingung harus menjawab apa? Dia sudah panik tak karuan saat melihat wajah marah gadis cantik nya.


"Jawab aku, ini perbuatan mu kan? Kenapa kau mesoom sekali."


"I-iya sayang, maafkan aku. Aku salah tak bisa menahan keinginan ku, lagian kenapa tidur mu sangat nyenyak hingga tak merasakan kalau aku melakukan ini sayang." jawab Brandon.


"Jangan memutar balikan fakta ya, jelas-jelas kamu yang bersalah disini. Kenapa melakukan hal ini ketika aku tidur?"


"Jadi kamu mau aku melakukan nya saat kamu bangun, begitu?" Goda Brandon. Marsya mendelik sebal ke arah lelaki itu, sedangkan lelaki itu tengah tersenyum smirk menatap nya.


Dengan kesal, Marsya mencubit kedua pipi Brandon dengan kuat hingga memerah.


"Aww... Awww.. sayang ini menyakitkan."


"Ampun sayang, maafkan akuu.." Ringis Brandon, jika kakak ipar nya selalu menjewer telinga nya jika kesal, lain hal nya dengan Marsya ,dia akan mencubit kedua pipi nya sampai memerah.


Marsya melepaskan cubitan nya, dan beralih mencubit lengan Brandon.


"Sayanggg.." Teriak Brandon.


Marsya tersenyum jahil, dia sangat menyukai ekspresi Brandon saat meminta maaf. Terlihat sangat menggemaskan.


"Aku minta maaf sayang, tapi jangan di cubitin sakitt.."


Marsya melepaskan cubitan nya dan pergi ke kamar mandi. Dia tau kamar mandi, karena semalam sebelum tidur dia sempat kebelet.


"Cubitan nya kecil tapi menyakitkan sekali." Gerutu Brandon, kedua pipi nya memerah bekas cubitan, lengan nya juga. Dia mengusap-usap bekas cubitan yang terasa perih.


Marsya keluar dari kamar mandi dengan seragam nya, dia akan berangkat ke kantor dari sini.


Marsya memalingkan wajah nya saat tak sengaja tatapan nya bertemu dengan tatapan mata lelaki nya. Dia marah karena ulah Brandon, selain tanpa izin dia juga bingung bagaimana cara menutupi bekas cup*ng ini.


Brandon heran dengan sikap Marsya, biasa nya gadis itu akan bawel, tapi saat ini dia terlihat pendiam.

__ADS_1


Marsya keluar dari kamar dan menuju dapur, siapa tau kakak ipar nya punya benda yang dapat menyamarkan bekas kemerahan di leher nya.


Marsya melangkah dengan cepat menghampiri kakak ipar nya yang sedang fokus memasak bersama Mama Renata.


"Ehhmm, kakak.." Panggil Marsya pelan.


"Ya Marsya, selamat pagi.. Tidur mu nyenyak?" Tanya Lita, dia menghentikan kegiatan nya sejenak.


"Pagi kembali kakak, sangat nyenyak kak.."


"Ada apa? Kau mau sesuatu?" Tanya Lita lagi.


Marsya mendekat dan membisikan kebutuhan nya sekarang, setelah nya dia menjauhkan kembali wajah nya dan menunjukan beberapa tanda kemerahan yang dia tutupi dengan rambut nya.


"Masih banyak lagi disini kak.." Ucap Marsya menunjuk area dada nya.


"Brandon melakukan nya Sya?" Marsya mengangguk mengiyakan pertanyaan kakak ipar nya.


Lita sempat terhenyak dengan anggukan kepala Marsya, laki-laki memang begitu.


"Adik kakak sama saja, aku punya concealer yang ampuh untuk menutupi tanda itu. Tunggu sebentar." Lita pergi ke kamar nya, dan memberikan sodet ke tangan Marsya.


"Ada apa nak? Apa Brandon melakukan sesuatu padamu?" Tanya Mama Renata.


"Dia memberi tanda kemerahan di leher ku Ma, hanya itu saja tak lebih."


"Sabar ya, laki-laki memang begitu. Lengah sedikit saja, kaum wanita seperti kita pasti habis di terkam."


Mama Renata hanya tersenyum, Marsya memang masih merasa sungkan dan canggung dengan keluarga calon suami nya. Tapi mereka sangat ramah dan baik, tak memandang orang dari segi apa pun.


Tak lama, Lita datang dengan membawa barang yang dia sebut concealer, lalu memberikan nya pada Marsya.


"Apa ini kak?"


"Concealer, kamu ingin menyamarkan tanda itu kan?"


"Cara memakai nya bagaimana?" Tanya Marsya lagi, maklum lah selama ini dia tak pernah mempunyai alat make up, apalagi cara memakai nya.


"Duduklah, aku akan melakukan nya."


Marsya menurut saja, dia duduk di kursi meja makan. Lita menyibak rambut Marsya, dan seketika itu juga mata nya membulat sempurna.


"Astaga si Branded.." Ucap Lita sambil menggelengkan kepala nya. Dia melihat tanda yang berjejer di leher hingga dada Marsya.


Dengan perlahan, Lita mengoleskan concealer itu di tanda yang di buat bibir nakal Brandon.


"Selesaii, untuk menutupi yang di dada mu. Lakukan sendiri."


"Bagaimana kalau habis kak? Apa aku harus mengganti nya?" Tanya Marsya polos.

__ADS_1


"Kalau habis ya aku tinggal beli lagi, udah lah lagi pun itu masih baru. Jangan di fikirkan, pakai saja."


"Terimakasih kak.." Ucap Lita, lalu masuk ke dalam kamar mandi di dekat dapur. Bisa bahaya kalau dia masuk kembali ke kamar Brandon, apalagi jika dia membuka kancing baju nya, bisa-bisa dia di terkam habis tak tersisa.


"Pria itu mulai nakal ya bund.." Gerutu Lita, dia merasa kesal sendiri saat melihat begitu banyak tanda kemerahan yang di buat Brandon di leher Marsya, belum lagi di dada nya. Meski tak melihat nya tapi dia tau dengan pasti, pasti lebih banyak.


"Kenapa yang?" Tanya Raka yang baru saja turun.


"Adek mu tuh, bibir nya kagak bisa di kontrol kayak nya. Dia buat leher Marsya memerah."


"Maksudnya?" Tanya Raka dengan wajah bodohh nya.


"Kamu fikir sendiri."


Raka mengendikan bahu nya acuh, bodo amat lah lagi pun hanya beberapa bulan lagi mereka akan menikah.


Brandon keluar dari kamar nya dengan kemeja dan celana bahan nya, dia juga menenteng jaket di lengan nya.


"Pipi mu kenapa?" Tanya Raka.


"Pasti di tabok sama Marsya tuh, dia kan pria kurang ajar." Ledek Lita dengan ketus.


"Hih, kata siapa di tabok? Bukan di tabok sih, tapi di cubit." Jawab Brandon.


"Ya lu nya yang kurang ajar, rasain.."


"Kakak ipar puas banget ledekin aku ya," Ucap Brandon, mata nya mendelik ke arah kakak ipar nya yang tengah tersenyum jahil.


"Sangat puas.."


Marsya keluar dari kamar mandi, sekarang tak terlihat lagi satu pun tanda memalukan itu. Bahkan dia berani mengikat rambut nya tinggi.


"Bagus gak?" Tanya Lita.


"Bagus banget kak, tersamar sempurna.."


"Bawa aja, aku bisa beli lagi." Ucap Lita.


"Boleh kah?" Lita menganggukan kepala nya. Marsya tersenyum senang dan memasukan concealer yang di berikan Lita ke dalam tas kecil nya.


"Kak, kalau boleh tau harga barang ini berapa?"


"Delapan ratus ribu, Sya." Jawab Lita santai, tapi tidak dengan Marsya yang kaget sambil memegangi dada nya.


"Tenang saja itu masih baru, dan aku hanya memakai nya saat darurat seperti kamu tadi."


"Apa kakak sering mendapat tanda semacam ini?" Tanya Marsya polos.


"Kamu ini polos sekali, tentu saja sering. Apalagi aku sudah punya suami, sudah lupakan aku tak mau merusak kepolosan mu. Ayo sarapan."

__ADS_1


🌻🌻


jangan lupa jejak nya, dan tap favorit. Jangan di unfav dong ya😁 meski pun novel nya garing atau membosankan😞


__ADS_2