
Sepanjang perjalanan Raka tak fokus menyetir, hingga hampir menabrak seekor kucing yang menyeberang jalan.
"Awass Raka.." Teriak Elgar, refleks Raka menginjak rem secara mendadak dan membuat penghuni nya terhuyung ke depan, untung saja mereka memakai sabuk pengaman.
"Kau ini kenapa sih hah? Mau aku mati muda, fokus dong." Gerutu Elgar, dengan wajah kesal nya.
"Maafkan saya pak.." Ucap Raka pelan.
"Jika ada masalah selesaikan, jangan lalai saat bekerja. Fokus, ingat kau membawa CEO perusahaan besar saat ini."
"Baik pak, maafkan saya.."
"Sudah, cepatlah kita harus ke kantor lagi." Ucap Elgar ketus, dia marah seperti nya. Fiks, jika bos besar nya marah sangat menakutkan.
Raka kembali melajukan mobil nya ke perusahaan dengan fokus, dia tak mau di marahi lagi oleh big bos nya.
Sesampai nya di kantor, Elgar mendahului langkah Raka dan segera pergi ke ruangan nya di lantai paling atas, lantai khusus CEO.
Raka juga masuk ke dalam ruangan nya, dia menyandarkan tubuh nya di sandaran kursi kebesaran nya. Fikiran nya menerawang, ada apa mama nya bertemu dengan adik mantan CEO perusahaan ini? Apa hubungan mereka di masa lalu?
"Huhh, sebaiknya aku harus menanyakan nya sendiri pada Mama." Gumam Raka, beberapa kali dia menghela nafas nya kasar.
Raka kembali memfokuskan fikiran nya pada pekerjaan yang menumpuk, menunggu untuk segera di selesaikan. Tapi tetap saja, fikiran nya masih bertanya-tanya tentang apa hubungan Mama Renata dan Danu.
🌻
Di lantai bawah, Brandon masih menikmati makan siang nya bersama teman-teman kekasih nya, dia menjadi akrab dengan teman-teman Marsya.
"Jika ada yang terjadi sama Marsya, kalian harus bilang sama aku ya?"
"Asyiap Kak.." jawab mereka serentak.
Brandon menatap Marsya yang duduk sambil menunduk dalam, sedari tadi dia murung. Entah apa yang terjadi, dia juga tak makan, hanya mengaduk-aduk makanan nya.
"Kamu kenapa sayang? Kamu sakit?" Tanya Brandon.
"Enggak kak, aku gapapa." Jawab Marsya lirih.
"Lalu kenapa? Kamu nggak makan, kalau ada masalah bilang sama aku."
"Aku benar-benar gak papa kok, jangan khawatir." Jawab Marsya.
"Baiklah, jam makan siang sudah habis. Aku kembali kerja dulu, nanti pulang bareng ya." Marsya hanya menganggukan kepala nya mengiyakan.
Brandon pun keluar dari ruangan khusus pegawai itu, tapi saat di loby dia malah bertemu dengan Adi. Pria itu menundukan kepala nya, enggan menatap Brandon.
__ADS_1
"Ada apa dengan pria itu? Kenapa menunduk begitu, tapi apa urusan ku. Biarkan saja, selama dia tak mengganggu kekasih ku." Gumam Brandon, dia meneruskan jalan nya dan segera mengerjakan kembali tugas kantor nya.
🌻
Sore hari, Brandon pulang bersama dengan Marsya. Seperti biasa, lelaki itu akan memperlakukan Marsya dengan sangat istimewa.
Tapi baru saja masuk gang kecil penghubung jalan raya ke rumah Marsya, Brandon melihat ada dua mobil yang terparkir di bahu jalan.
Wajah Marsya memucat, dia tak tau apa yang sedang terjadi pada ibu nya saat ini.
"Kak bisa ngebut? Cepatlah." Perintah Marsya, Brandon sebenarnya ingin bertanya kenapa? Tapi melihat raut ke khawatiran di wajah cantik gadis nya, membuat nya mengurung kan niat nya untuk bertanya lebih banyak, dan memilih menuruti permintaan Marsya.
Hingga 15 menit kemudian, kedua nya sampai. Tapi rumah Marsya sangat ramai dengan kerumunan warga, entah kekacauan apa yang terjadi disini.
Marsya menerobos kerumunan dengan berlari, dan saat Brandon menyusul nya, seketika itu juga mata nya membulat sempurna.
"Lunasi hutang mu, kau bisa berjanji tapi tak pernah menepati. Sampai kapan hah?" Teriak debt kolektor itu, sudah dua minggu ini mereka datang menagih hutang ayah nya.
"Saya berjanji akan melunasi hutang ayah saya, tapi beri saya waktu pak." Ucap Marsya, dia memeluk ibu nya yang sudah tergeletak tak sadarkan diri, karena penyakit nya kambuh.
Para warga tak bisa berbuat apapun, karena tak mau berurusan dengan debt kolektor menakutkan itu.
Pria itu mendekat dan mencengkeram dagu Marsya dengan kuat, hingga membuat Marsya meringis.
"Kau cuma mampu bicara, bagaimana kalau kau bayar semua hutang ayah mu itu dengan tubuh mu, gadis kecil?" Marsya hanya diam, sesekali akan terdengar isakan kecil dari bibir mungil nya.
"Aku tak mau memberikan nya pada mu!" Ucap Marsya dengan nada tinggi, membuat pria itu marah dan menampar pipi mulus Marsya, hingga gadis itu terhuyung ke samping, dan sudut bibir nya berdarah.
"Berani sekali kau meninggikan suara mu di hadapan ku.."
Hingga sedetik kemudian dia memekik kesakitan, karena batu yang cukup besar mengenai kepala yang botak tanpa rambut sedikit pun. Hingga membuat silau, jika terkena cahaya matahari.
Darah mengucur dari kepala nya, batu yang seseorang lempar itu mampu membuat kepala nya terluka, karena lemparan nya sangat kuat.
"Siapa yang berani melemparkan batu ke padaku hah? Kalian mau mati?" Teriak nya dengan penuh kemarahan.
Kemudian muncul lah Brandon dengan memainkan batu di tangan nya.
"Aku! Memang nya kenapa? Apa kau keberatan, aku melempari mu dengan batu?" Tanya Brandon santai.
"Bocah edann, berani sekali kau.." Pria itu berjalan mendekati Brandon, para warga sudah ketar-ketir sendiri takut kalau pria idaman mereka itu terluka.
Tapi tampa di duga, pria itu dengan cepat di tumbangkan oleh Brandon yang notabene nya adalah petarung dan pemegang sabuk hitam bela diri.
Mengalahkan pria semacam ini bukan lah hal yang sulit, dia mampu mengatasi nya bahkan hanya beberapa menit.
__ADS_1
Debt kolektor yang berjumlah 4 orang itu berhasil di kalahkan oleh Brandon, mereka babak belur. Wajah mereka penuh dengan luka lebam dan ada beberapa bagian yang mengeluarkan darah.
"Jangan meremehkan aku, paman. Lembek, berani nya sama perempuan." Sindir Brandon, dengan senyum mengejek nya.
"Jika kalian berani, bawa bos kalian ke hadapan ku besok."
Brandon melenggang ke arah Marsya yang masih menangis sambil memeluk ibu nya,
"Tolong, bawa mertua saya ke rumah sakit." Pinta Brandon.
"Maaf, tapi disini gak ada yang punya mobil." Jawab salah satu warga.
Brandon kembali berjalan mendekat ke arah para debt kolektor yang masih terkapar tak berdaya.
"Pinjam mobil ya paman? Kalian kan yang bikin mertua saya kambuh penyakit nya."
Dengan cepat dia memberikan kunci mobil nya, daripada di hajar bocah imut yang menakutkan.
"Tolong antarkan mertua saya ke rumah sakit, saya akan pulang untuk berganti pakaian dulu." Pinta Brandon pada salah satu warga, dan mereka menuruti nya.
"Aku akan menyusul nanti, kamu pergi dulu. Aku mencintaimu."
"Terimakasih kak." Jawab Marsya lirih, ucapan nya tenggelam dalam tangisan nya.
Warga membopong tubuh ringkih ibu Asih, dan memasukan nya ke dalam mobil lalu melajukan nya ke rumah sakit terdekat.
Brandon pun pergi tanpa menghiraukan para penagih hutang yang masih terkapar di tanah itu. Para warga juga tak ada yang menolong, karena mereka adalah pembuat rusuh di kawasan perumahan ini.
Brandon segera melajukan mobil nya ke arah rumah abang nya dengan kecepatan tinggi, tapi saat tiba di halaman rumah, dia melihat ada mobil asing yang terparkir rapi di halaman rumah abang nya.
Tak mau berasumsi sendiri, dia pun masuk dengan langkah cepat nya. Dia membuka pintu dengan perlahan, dan melihat seorang pria paruh baya yang sedang duduk berhadapan dengan Raka yang terlihat sangat kesal.
"Sudah pulang Brand?" Tanya Raka, ekspresi nya langsung berubah saat menyapa adik nya.
"Sudah.."
Brandon mengingat sesuatu, rasa nya dia pernah melihat wajah pria tua itu.
Hingga ingatan nya tertuju pada suatu kejadian yang membuat emosi nya meledak seketikaa.
"Kau kan pria tua brengsek itu.."
🌻
siapa ya? Terus kejadian apa? tungguin aja di bab selanjutnya, nanti othor up malam🤭 di gantung dulu ya wehh😘
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak❤️