
"Bang.." Panggil seseorang saat Raka masih terduduk bersandar pada sandaran kursi di ruang tunggu.
"Kau kemari?"
"Ya, aku tau dari Bima kalau ayah mu meninggal." Jawab Brandon lirih, meski dia sangat membenci pria itu, tapi mengingat semua kebaikan Raka dia mengesampingkan rasa benci nya itu.
Raka mendongak menatap wajah datar Brandon, dengan tatapan sendu.
"Brand, mau gak Lu maafin semua kesalahan bokap gue ke Lu atau pun ke kakak perempuan Lu?" Tanya Raka, pelan. Bahkan sangat pelan hingga terdengar seperti gumaman.
Tapi telinga Brandon tentu masih berfungsi dengan sangat baik, hingga dia bisa mendengar kata-kata Raka dengan jelas.
"Tentu, aku mau Bang." Jawab Brandon, di iringi senyum kecil di bibir nya.
Raka kembali menatap wajah Brandon, hingga sedetik kemudian dia menangis dalam diam.
"Gue kesini buat mastiin keadaan Lu baik-baik aja, butuh sandaran?" Tawar Brandon, lalu duduk di samping Raka.
Raka menyandar di bahu Brandon, tanpa memperhatikan kondisi ruangan itu yang ramai oleh orang yang berlalu lalang.
"Menangis lah bang, selama itu bisa bikin Lu lega."
Raka menangis terisak di bahu Brandon,bahu nya terguncang. Ada rasa sesak yang tak bisa di jelaskan oleh kata-kata.
"Sesek banget dada gue Brand, gue akuin. Sebelum hal ini terjadi, gue sempat menginginkan kepergian pria itu. Tapi setelah semua terjadi, rasa nya sangat sakit." Ucap Raka, di sela tangisan nya.
"Gue tau bang, Lu tau gue lebih sakit lagi. Saat gue dah inget semua kenangan sama Kak Catherine, saat gue dah sembuh, tapi dia udah gak ada." Ada kesedihan dalam ucapan Brandon.
"Kita harus ikhlas, biar orang yang dah pergi itu tenang bang, cuma itu yang bisa kita lakuin sekarang. Kita mau begimanapun, dia gak akan kembali."
"Jadi, ayo kuatlah. Kita bisa bang." Ucap Brandon, memberi semangat.
__ADS_1
"Thanks ya Brand, gue seneng lu mau maafin bokap gue, thanks juga udah ngasih bahu Lu buat gue bersandar."
"Sama-sama bang, yok kita susulin Lita sama mom." Ajak Brandon, Raka hanya menganggukan kepala nya.
Dia bangkit dan berjalan gontai di ikuti Brandon di belakang.
🌻
Pagi hari nya segera di laksanakan pemakaman untuk mendiang ayah Raka, Farhan Calleco. Semua orang terdekat datang, Haris, Bella, Brandon, bahkan Elgar dan Amira juga datang ke acara pemakaman Farhan.
Lita dan Mama Renata tak henti nya menangis saat melihat jenazah Farhan di timbun tanah, mereka bahkan tak berhenti menangis sejak Farhan di nyatakan meninggal dunia.
"Ikhlaskan suami mu pergi Renata, jangan membebani hidupmu. Kau berhak bahagia." Ucap Mama Bella, mengusap pelan punggung mertua Lita itu, menguatkan nya.
Mama Renata hanya menatap sendu pada Mama Bella, dia hanya merasa sesak.
Berbeda dengan Raka, kesedihan nya tak terungkapkan. Sejak Farhan di rumah sakit, dia tetap diam tak memperdulikan sekitar nya. Sesekali menatap para pelayat dengan ekspresi yang tak bisa di jelaskan.
"Saya baik-baik saja Pak." Jawab Raka.
"Jangan berkata bohong di depan ku, mata mu menjelaskan semua nya." Elgar menepuk pundak asisten sekaligus teman nya itu.
"Maafkan semua kesalahan mendiang ayah saya, Pak."
"Tentu saja, aku tak mau jadi manusia pendendam." Jawab Elgar, tersenyum simpul.
Raka hanya menatap kilat wajah atasan nya, lalu kembali menatap orang-orang yang sedang memadatkan tanah kuburan Farhan.
Setengah jam kemudian, satu persatu pelayat mulai membubarkan diri dan kini hanya tinggal orang terdekat saja.
Raka masih menatap kuburan basah itu, tak ada lagi air mata yang keluar dari mata nya. Sudah cukup kemarin dia menangisi semua nya, sekarang hati nya sudah mulai merelakan kepergian ayah angkat nya itu.
__ADS_1
"Pergilah dengan tenang, Yah. Aku berharap kau mendapatkan tempat yang terbaik di sisi nya, kami sudah mengikhlaskan kepergian dirimu." Batin Raka.
Raka mendekati istri nya yang berjongkok mengusap pusara sang ayah mertua, meski tak pernah dekat, bertemu saja hanya beberapa kali dan berujung tak baik.
Tapi rasa nya tetap sakit, apalagi saat menyaksikan sendiri saat-saat terakhir ayah mertua nya, bahkan dia sempat meminta maaf pada Lita dengan tulus, di moment terakhir yang menyakitkan nya.
"Cukup sayang, biarkan ayah tenang. Dia takkan tenang jika kamu terus menangisi kepergian nya." Ucap Raka, dia merengkuh tubuh mungil Lita ke dalam dekapan nya.
Lita kembali menangis dalam pelukan Raka, rasa nya dia masih belum rela ayah mertua nya pergi secepat itu, bahkan saat hubungan kedua nya belum membaik.
"Sayang, ayolah.." Bujuk Raka.
"Rasa nya sakit Mas."
"Mas tau, tapi Ayah takkan senang melihat menantu nya menangisi dirinya." Ucap Raka. Lita hanya menangguk dan menahan tangisan nya, hanya terdengar isakan kecil dari bibir mungil nya.
Raka mengeratkan pelukan nya pada Lita, meski keadaan hati nya masih belum membaik, tapi dia berusaha kuat, agar Lita juga menguatkan diri.
Mereka semua berdoa untuk kepergian Farhan, masih di iringi dengan isakan-isakan kecil dari Lita dan Mama Renata.
"Maaf, saya terlambat.." Ucap seseorang dari arah belakang, hingga membuat perhatian semua orang teralihkan.
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi yang melekat di tubuh nya, terlihat tampan dan gagah meski sudah terlihat keriput di wajah nya.
Terlihat tidak asing bagi Renata, tapi dia melupakan nama pria itu. Rasa nya dia pernah melihat wajah itu sebelum nya ,tapi dimana?
Saat pria itu mendekat pun, Mama Renata hanya diam mematung. Mengingat-ingat, kira-kira siapa pria paruh baya yang menghadiri pemakaman suami nya, meski terlambat.
🌻🌻
Masih menjadi teka-teki siapa yang datang terlambat itu, kira-kira siapa ya? Terus hubungan nya sama Mama Renata tuh apa? Jawaban nya ada di bab selanjutnya nya, besok ya☺️
__ADS_1
Maaf bab ini pendek, habis di vaksin jadi mau istirahat dulu, babay😘😘