Mencintai Adik Sahabatku

Mencintai Adik Sahabatku
Sebelas Dua Belas


__ADS_3

Di kamar, Raka tengah menikmati pijatan di kepala nya. Jujur saja dia lelah hati dan fikiran, juga fisik. Dia sudah lelah bekerja seharian di kantor, pas pulang ke rumah malah ada biang rusuh yang bikin darah naik.


"Mas.." Panggil Lita.


"Ya sayang, ada apa? Mau makan lagi?"


"Tidak donat coklat yang tadi aja belum habis.". Jawab Lita.


"Lalu kenapa sayang?"


"Tuan Danu datang kesini untuk meminta maaf padamu, apa kamu tidak merasa terlalu kasar pada ayah kandung mu Mas?" Tanya Lita pelan, dia takut suami nya marah.


"Lalu aku harus bagaimana sayang?"


"Memaafkan, mungkin." usul Lita.


"Sudah lama aku memaafkan, tapi tidak untuk melupakan. Jadi biarkan saja, aku tak membutuhkan sosok ayah seperti dia." Jawab Raka datar.


"Mau bagaimana pun dia kan ayah kandung mu, Mas."


"Dengarkan, figur seorang ayah sangat berperan penting dalam pertumbuhan dan pergaulan anak nya, kamu tau itu kan? Aku di besarkan dengan lingkungan yang buruk, tapi meski begitu aku tak terpengaruh dengan pergaulan bebas."


"Walau mungkin dulu aku pemain, tapi aku tidak pernah melakukan hal itu dengan sembarang wanita, selama hidup ku baru dua wanita yang pernah aku sentuh."


"Bagaimana bisa seorang pria yang tak bisa menghargai wanita disebut seorang ayah? Jadi diamlah, jika pun sudah waktu nya aku akan bicara lagi dengan nya." Ucap Raka tegas, berarti keputusan nya tak bisa di ganggu gugat.


Lita diam, seorang ayah memang sangat berpengaruh bagi hidup seorang anak. Para laki-laki harus menjadi contoh yang baik untuk anak dan cucu nya, tapi ini? Tak bisa di jelaskan dengan kata-kata, bagaimana borok nya seorang Danu, yang punya julukan 'player'.


"Hemm, baiklah. Keputusan sepenuh nya ada dirimu Mas, aku tak bisa melarang karena ini tentang hati mu."


"Jangan fikirkan hal lain yang akan membuat mu lelah, fokus pada kehamilan mu. Sebentar lagi dia akan lahir kan?" Tanya Raka, dia mengelus perut buncit istri nya, sesekali juga mengecupi nya.


"Hanya tersisa satu bulan setengah lagi Pah, setelah itu kita bertemu." Jawab Lita menirukan gaya bicara anak kecil yang menggemaskan.


"Berpakaian lah Mas, setelah itu kita turun. Gak enak ada tamu di bawah."


"Kalau Mas gak mau nganggap dia ayah mu, kamu bisa anggap dia tamu yang harus kita hormati." Ucap Lita, dia mengusap pipi Raka dengan lembut.


"Huhh, baiklah. Ini semua demi dirimu, jika menuruti kata hati aku tak mau bertemu pria itu lagi."


"Jangan begitu Mas, gitu-gitu juga kan dia a.."

__ADS_1


"Iya iya sayangku, istri ku yang cantik, yang pandai membujuk, aku pakai baju dulu ya.." Ucap Raka dengan senyum yang di paksakan. Lalu masuk ke ruang ganti, dan memakai pakaian yang sudah Lita siapkan saat dia mandi tadi.


Di Bawah..


Mama Renata menatap Danu dengan tajam, begitu pun Danu.


"Jadi begitu didikan mu? Kau mengajari anak mu sendiri agar membenci ayah nya sendiri." Sinis Danu.


"Hello, kau amnesia ya? Dari dulu kami hidup dengan cara kami sendiri, dan kau? Kau hidup juga dengan cara kau sendiri."


"Aku tak mengajarkan kebencian pada anak ku, jika pun dia membenci mu, itu karena dia kecewa dengan mu, bukan karena aku salah mendidik Raka."


"Jika pun ternyata aku salah mendidik, apa hak dirimu hingga menyalahkan cara mendidik ku? Lalu dimana dirimu, apa kau mendidik nya dengan benar? Ohh lupakan, bahkan kau tak pernah menemui nya sekali pun!" Ucap Mama Renata pedas.


"Itu karena aku tak tau kalau dia anak ku, aku fikir dia anak mu bersama Farhan."


"Ckk, selama dua bulan setelah kau meniduri ku secara paksa, Farhan tak pernah menyentuh ku, hingga aku di nyatakan fositiv hamil, jadi bisa di pastikan itu adalah benih mu yang tumbuh di rahimku." Sindir Mama Renata.


"Mana aku tau, kalian tak memberi tahu ku."


"Karena kau tak mencari tau, setelah puas kau mencampakan aku." Sinis Mama Renata.


"Farhan dan dirimu sama saja bejat nya, sebelas dua belas.." Ucap Raka yang baru turun bersama Lita.


"Farhan menjual kehormatan ibu ku demi uang, dan kau membeli nya karena kau punya uang dan butuh kesenangan, gila bukan?" Raka berjalan angkuh tanpa melirik ke arah Danu.


"Mau makan malam disini? Ohh maaf, mungkin masakan istriku takan cocok di lidah mu, jadi sebaiknya jangan makan disini." Ucap Raka, menawari tapi melarang juga.


Raka pergi ke ruang makan, dan segera makan malam, dengan di layani oleh istri nya.


Raka makan dengan tenang, menikmati setiap suapan masakan istri nya.


Setelah selesai, baru lah dia kembali duduk di sofa ruang tamu dengan bersedekap dada, wajah nya datar dan terlihat tidak bersahabat.


"Apa kau tidak merindukan ku?"


"Tidak." Jawab Raka simple, tanpa melirik orang yang bertanya. Pandangan nya fokus ke depan, menonton televisi.


"Kalau saja bukan karena istriku, aku takkan mau menemui mu lagi." Sinis Raka. Hingga pandangan nya teralihkan oleh suara pintu terbuka.


Adik nya pulang dengan wajah kusut nya, dan juga ada sedikit luka di ujung pelipis kanan nya.

__ADS_1


"Sudah pulang Brand?" Tanya Raka, segera mengubah ekspresi nya.


"Sudah.." Jawab nya singkat, tapi mata nya terus memindai pria yang duduk berhadapan dengan Mama Renata.


Raka terhenyak mendengar ucapan adik nya itu.


"Kau kan pria tua brengsekk itu.." Teriak Brandon sambil menunjuk ke arah Danu.


Brandon pun menjelaskan semua nya dengan detail, Raka mengusap wajah nya kasar. Emosi nya kembali meradang saat mendengar semua cerita Brandon, bahwa ayah nya lah yang membeli Marsya dari teman-teman nya, ralat bukan teman tapi gadis-gadis matre tukang buly.


Flashback off


Brandon keluar dari kamar nya dengan terburu, sejak pulang dia terlihat tak tenang.


"Mau kemana lagi?" Tanya Raka, karena melihat Brandon sudah rapi dengan kemeja dan celana jeans robek di lutut nya.


"Ibu nya Marsya di rawat di rumah sakit bang, gue mau kesana." Jawab Brandon.


"Makan dulu, bawain buat Marsya kasian dia pasti belom makan.." Ucap Lita, Brandon mengangguk dan duduk di sofa sambil menunggu kakak ipar nya mengambilkan makanan untuk di bawa nya.


"Mertua lu sakit apa sih?"


"Penyakit nya kambuh, tadi ada penagih hutang yang dateng nagih hutang bokap nya." Jawab Brandon santai, tapi mata nya terus menatap tajam ke arah Danu yang duduk menunduk dan diam sedari tadi.


"Terus gimana?"


"Ya gue hajar lah, terus nyuruh orang bawa mama nya Marsya ke rumah sakit, gue belom tau gimana keadaan nya sekarang." jawab Brandon.


"Udah berapa kali lu nolongin mereka, Brand?"


"Ada kali tiga.." Jawab nya simpel.


"Btw, bapak lu kagak bisa ngomong ya? Dari tadi diem-diem bae, apa takut sama Lu bang?" Tanya Brandon sinis.


"Bisa kok, gue kagak tau kenapa dia diem terus. Mungkin takut sama Lu kali, soal nya kan ketahuan kelakukan bejat nya." Sindir Raka, Danu hanya melirik sedikit ke arah Raka tanpa berniat menjawab, karena memang itu fakta nya.


🌻🌻


Maafin kalo banyak typo🤭


jangan lupa like,komen,vote dan follow akun author. kasih hadiah juga boleh deng, happy reading❤️

__ADS_1


__ADS_2