
Lita bengong melihat tiga orang dewasa di depan nya, siapa mereka? Kenapa mereka tau apartemen dan tau kalau mereka adalah pengantin baru.
"Siapa yang?" Teriak Raka dari ruang tamu, tapi Lita hanya diam. Dia tak mengenal tiga orang ini.
"Menantu macam apa kau ini, kau tak membiarkan mertua mu ini masuk hah? Malah bengong." Ucap pria paruh baya itu dengan sinis.
"Ahh yaa, silahkan masuk. Mas Raka ada di dalam."
"Tentu saja anak ku ada di dalam." Ucap nya lagi dengan ketus.
Wanita yang cukup muda, menatap Lita dari atas sampai bawah. Sangat sederhana tapi mampu membuat seorang Raka Perwira bertekuk lutut.
Mereka berdua masuk dengan bergandengan tangan, sedangkan ibu paruh baya nya mendekati Lita dan mengusap rambut nya.
"Kamu Lita? Selamat atas pernikahan mu sayang, semoga bahagia selalu dan cepat memberi Mama cucu." Ucap nya sambil tersenyum, dari tiga orang yang datang hanya satu orang saja yang terlihat cukup ramah.
"Mama?" Ucap Lita lirih.
"Ya, aku Mama mertua mu sayang."
"Lalu mereka siapa?" Tanya Lita pelan.
"Mereka ayah Raka dan istri muda nya." Jawab Ibu Renata dengan sendu.
"Jadi apa yang Mas Raka bilang itu semua nya benar? Ayah nya menikah lagi dengan wanita yang lebih muda?" Lita membatin. Miris melihat Ibu dari seorang Raka yang terlihat kurus dan pucat, terlihat sangat tidak terurus.
Lita merangkul nya dan membawa nya masuk ke dalam apartemen. Menyusul sepasang manusia yang sudah masuk terlebih dahulu.
🥀
"Santai sekali hidup mu Raka." Gerutu sang Ayah sambil duduk di depan Raka dengan bertumpang kaki dan Catherine yang menggelayut manja di lengan nya.
Raka menghembuskan nafas nya kasar, sesekali juga dia mengacak rambut nya.
"Kau menjadi pendiam setelah menikah ya? Aku lupa, selamat atas pernikahan kalian."
"Kau bahkan tak mengundang ku, ckkk anak macam apa yang menikah tanpa restu orang tua nya." Ayah Raka menyindir nya. Tapi Raka masih diam tak menjawab sindiran pedas yang keluar dari mulut ayah nya sendiri.
"Kau menikahi wanita yang bahkan tak ada seujung kuku pun jika di bandingkan istri muda ku, Catherine. Selera mu sangat rendah, apa bagus nya gadis itu."
__ADS_1
"Bisakah kau diam hah? Dari tadi mengoceh seperti burung beo." Ucap Raka.
"Kau membandingkan jal*ng mu dengan istri ku hah? Begitu? Kau bilang Lita tak ada seujung kuku bila di banding dia."
"Kau yang buta atau katarak hah? Istri ku jauh lebih terhormat dari jal*ng mu itu, aku laki-laki yang pertama menyentuh istri ku. Sedangkan kau? Kau mendapat barang bekas, milik jal*ng mu itu sudah di masuki oleh para pria penikmat se*s bebas."
"Apa kau tak punya rasa malu membawa gundik mu ke rumah ku? Ahh aku lupa, kau tak punya rasa malu, sama seperti jal*ng mu." Ucap Raka, yang bahkan tak sudi menyebut nama Catherine, dia menyebut nya jal*ng. Bertepatan itu, Lita dan Mama Renata masuk. Dan menyaksikan perdebatan antara ayah dan anak itu.
"Sopan lah sedikit, sekarang dia ibu tirimu bukan jal*ng."
"Ckkk, sekali jal*ng sampai kapan pun tetap jal*ng. Kau lupa? Wanita itu pernah jadi bulan-bulanan warga karena berbuat mesoom di parkiran apartemen ini? Itu menunjukkan bahwa derajat nya sangat rendah." Ucap Raka pedas. Wajah Catherine memerah, entah malu atau marah. Kedua tangan nya terkepal erat, seakan bersiap menyerang.
"Kemari lah sayang." Ucap Raka, dia menyuruh Lita duduk di samping nya.
"Kau memperhatikan cara berjalan nya? Kau tau lah apa yang terjadi." Ucap Raka lagi, tangan nya terulur mengusap puncak kepala Lita.
Sedangkan Lita, gadis itu sudah malu setengah mati. Bagaimana bisa pria itu mengatakan hal yang sangat mesoom di hadapan orang tua nya.
"Anak sialan, sudah menikah tak meminta restu bahkan mengundang. Sekarang malah membanggakan istri nya di hadapan ku." Umpat ayah Raka.
"Aku kan sudah bilang, dengan atau tanpa restu dari mu aku akan tetap menikahi Lita. Hadir atau pun tidak nya dirimu, bagiku sama saja takkan nerubah apapun." Jawab Raka santai, tangan nya masih mengelus kepala Lita dengan lembut.
Renata mengangguk dan mengekor di belakang Lita, sepertinya keangkuhan ibu nya Raka itu perlahan mulai memudar.
"Aku juga lelah, ingin istirahat." Ucap Catherine manja pada Ayah Raka, yang lebih pantas disebut paman nya daripada suami.
"Maaf tapi aku tak menerima gundik disini. Silahkan pergi ke hotel, atau pulang saja ke tempat asalmu." Ucap Raka pedas.
Ayah nya menatap dengan tatapan tajam penuh kemarahan, tapi Raka terlihat santai saja. Toh ini rumah nya, dia bebas menerima atau tidak orang yang ingin menginap di tempat nya.
"Baiklah, lebih baik kita pergi saja."
"Tapi aku ingin disini." Ucap Catherine.
"Oke, silahkan tidur disini tapi bayar empat kali lipat hotel bintang lima, sanggup?" Tawar Raka, dengan seringaian jahat di bibir nya. Membuat Catherine menelan ludah nya kasar.
"Psikopat gila, untung saja aku tak jadi menikah dengan mu." Teriak Catherine.
"Memang, aku psikopat gila kau baru tau?"
__ADS_1
Mereka berdua pun pergi keluar dari apartemen dengan Catherine yang menghentak-hentakan kaki nya kesal karena Raka mengusir nya.
Sedangkan Raka tertawa terbahak-bahak di ruang tengah, dia sangat puas melihat wajah kesal ayah dan gundik nya itu. Berani-beraninya nya membawa wanita lain selain ibu nya ke apartemen milik nya ini.
🥀
Di kamar, Lita menemani Renata yang masih melamun. Begitu banyak pikiran yang memenuhi kepala nya, terlihat dari cara dia menatap suami dan madu nya.
"Ma, mama tak ingin tidur?" Tanya Lita dengan penuh kelembutan.
Renata menggeleng, gadis di depan nya ini sangat lembut pantas saja Raka kekeuh ingin menikah dengan nya.
"Nak, bisakah kamu berjanji untuk tetap ada di samping Raka dalam keadaan apapun?" Tanya Renata dengan tatapan sendu nya.
Lita cukup terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Mama mertua nya itu.
"Sebelum Mama bertanya seperti ini, aku dan Mas Raka sudah berkomitmen untuk tetap bersama dalam keadaan apa pun. Tembok yang kami bangun sudah sangat kokoh, dengan ada nya kepercayaan." Jawab Lita dengan senyum manis nya.
"Mama ingat saat Mama memaksa nya untuk menerima perjodohan dengan Helena, dan berakhir dengan kehancuran Raka. Tapi seakan tak kapok, Mama malah ingin menjodohkan nya lagi dengan Catherine."
"Raka sangat menolak keinginan Mama dan Ayah, karena dia tau semua nya termasuk bagaimana Catherine di luar sana. Hingga ternyata dia hamil anak ayah Raka dan mereka menikah, calon menantu menjadi madu." Ucap Mama Renata tersenyum getir.
"Setiap perbuatan ada sebab dan akibat nya Ma, biarkan saja saat ini mereka berbuat semau mereka. Jangan terlalu di fikirkan, Mama berhak bahagia." Ucap Lita.
"Pantas saja Raka sangat mencintai mu, kamu gadis yang baik dan lembut."
Lita hanya tersenyum ke arah mertua nya itu, dia harus bersikap baik pada mertua nya kan? Meski dari awal dia tau, tak ada yang menginginkan kebersamaan mereka.
Tanpa mereka sadari, interaksi mereka berdua tak luput dari penglihatan Raka yang mengintip di balik pintu, dia tersenyum melihat Ibu nya bisa langsung akrab dengan istri nya.
🌻🌻🌻
tinggalin jejak ya wakk, tap favorit juga❤️❤️
mampir juga di novel ketiga author yaa😘😘😘
__ADS_1