Mencintai Adik Sahabatku

Mencintai Adik Sahabatku
Kemarahan Dani #2


__ADS_3

"Katakan, aku harus memberi nya pelajaran yang seperti apa El, Mira? Rasanya muka ku pergi meninggalkan ku disaat begini, saking malu nya." Ucap Dani, dia masih menutup wajah nya dengan kedua tangan.


"Biarkan saja dia bertanggung jawab dengan semua perbuatan nya Pa, jujur saja aku cukup tercengang. Tapi untung lah, Raka tak meniru kelakuan bejatt bapak nya." Sindir Elgar, sebagai menantu dia juga di bebaskan berpendapat.


"Iya aku akan bertanggung jawab dengan semua nya, Tapi Raka mempersulit nya kak." Ucap Danu, dia baru berani bicara setelah sekian lam hanya diam dan mendengarkan ujaran kebencian dari kakak nya.


"Siapa yang memberi mu hak untuk bicara? Diam lah, pria bejatt yang memalukan. Andai saja Mom masih ada dia pasti akan sangat malu dengan perbuatan mu ini Danu."


"Lagi pun menurut ku bukan salah Raka jika dia mempersulit nya, wajar saja dia tak menganggap mu sebagai ayah nya. Melihat dari kelakuan mu saja, kau tak layak disebut ayah." Sinis Dani. Jujur saja dia sangat terpukul oleh kenyataan kalau ternyata sahabat nya di hamili oleh adik nya sendiri, dan dia baru tau semua nya setelah 27 tahun berlalu? Ya tuhan, dia sangat bersalah karena terlalu acuh dengan kelakuan adik nya yang suka bermain wanita.


"Maafkan aku Renata, aku teman yang buruk tak bisa melindungi mu dari kebejatan adik ku sendiri." Gumam Dani, air mata nya tiba-tiba menetes deras tanpa permisi.


Elgar dan Mira terhenyak, baru kali ini mereka melihat sosok lain dari Papa nya, biasa nya sesakit atau sebesar apa pun masalah, beliau takkan meneteskan air mata nya. Bahkan saat ibu nya meninggal pun, Papa nya hanya diam. Tapi kali ini, dia menangis.


"Kau tak bersalah apapun padaku Dani, berhenti lah menyalahkan diri sendiri." Ucap Mama Renata, sebenarnya dia enggan keluar dari kamar, apalagi setelah tau Danu datang. Dia sangat membenci pria itu.


"Aku gagal menjaga mu Renata, aku sudah berjanji pada mendiang ayah mu agar selalu menjaga mu, tapi lihat lah adik ku sendiri yang sudah menyakiti mu."


"Sudahlah, itu sudah terjadi. Mungkin ini adalah takdir buruk ku Dani, tapi dengan kejadian itu aku punya anak setampan dan sebaik Raka." Jawab Mama Renata.


"Ya, dia sangat jauh berbeda dengan bapak nya. Huh, maafkan aku membuat keributan di rumah mu Raka."


"Tak apa pak, santai saja.." Jawab Raka santai.


Tak lama keluar Marsya dengan Brandon dari dapur, dia menatap Danu dengan tajam. Dia masih marah dengan pria itu karena hampir saja menidurii kekasih nya. Eh! Sekarang mah tunangan nya.


"Korban kedua datang.." Celoteh Haris memperkeruh keadaan. Dia tau semua nya, karena hari itu dia juga sibuk mencari Marsya, bersama anak buah mafia milik Elgar.


Dani menatap dari atas sampai bawah penampilan Marsya, gadis yang sederhana namun tak mampu menghilangkan kecantikan natural nya.

__ADS_1


"Maksud nya dengan korban kedua?" tanya Dani pada Haris.


"Tuan Danu hampir meniduri kekasih nya Raka pak, beliau membeli Marsya dari gadis tukang buly di kantor." Jawab Haris jujur.


Sontak saja Dani kembali terkejut, juga dengan Elgar dia mati-matian menahan emosi nya yang ingin menggetok kepala setengah plontos om nya itu.


"Jadi dia yang membeli Marsya waktu itu? Wah parah ini mah pah, harus di kasih pelajaran."


"Papa tak mau buat keributan lagi, kamu bisa kasih dia pelajaran nanti di rumah." Ucap Dani dengan wajah marah nya, bahkan tatapan mata nya menggelap.


"Baiklah, aku ingin pamit."


"Pergilah dan hati-hati di jalan Dani.." ucap Mama Renata, mereka masih berteman baik. Hanya saja istri nya belum tau kalau teman mereka sudah kembali ke negara ini.


"Pulang lah sialann, pelajaran mu menanti di rumah." Ucap Dani sinis ,dia pergi dengan langkah lebar nya di ikuti Elgar dan Amira.


Danu menatap Raka sekilas, dan pergi mengikuti kakak nya.


"Mas, kamu baik-baik saja?" Tanya Lita.


"Tentu saja baik, memang nya kenapa?"


"Tidak, apa kamu tak sakit melihat ayah mu di perlakukan seperti itu?" Tanya Lita lagi.


"Sakit? Bahkan sakit itu tak seberapa dengan sakit nya perasaan ku di telantarkan Yang, jadi biarkan saja dia mendapat pelajaran yang setimpal dengan perbuatan nya." Jawab Raka, dia memasukan kedua tangan nya ke dalam saku celana bahan nya. Lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


Marsya saling menatap dengan Brandon, dia tak tau apa-apa, tapi tiba-tiba nama nya ikut terseret ke dalam arus yang cukup deras.


"Kamu akan pulang atau menginap disini sayang?" Tanya Brandon.

__ADS_1


"Kalau kamu pengen nya aku pulang atau nginap?"


"Nginep dong, biar bisa pelukan lagi bobo nya." jawab Brandon.


"Hemm, baiklah aku akan menginap saja." Putus Marsya, membuat Brandon senyam-senyum.


Ibu Asih dan Nia sudah lebih dulu di antarkan oleh Haris tadi.


🌻


Malam semakin larut, semua nya sudah pergi ke kamar masing-masing. Tak terkecuali dengan Marsya dan Brandon, dia sedang bermanja-manja dengan calon istri nya.


"Sayang, menurut mu kalau aku warnain rambut kayak Pak El bagus gak?" Tanya Brandon, dia sangat menyukai warna rambut Elgar, abu-abu. Kompakan dengan kedua kakak nya.


"Kamu sih mau di apain juga pasti bagus, emang kamu mau warnain rambut ya?"


"Pengen sih, tapi bingung warna nya." Ucap Brandon, sambil memeluk posesif pinggang ramping Marsya.


"Blonde aja, atau biru tapi yang gelap." usul Marsya.


"Emang ada gitu biru yang gelap?" Tanya Brandon.


"Ada dong, kalau di dalam ruangan keliatan item tapi kalau di luar ruangan bakal jadi warna biru. Bagus banget."


"Nanti aku cat rambut deh, bobok yuk? Ngantuk nih.."


"Yaudah, besok kita harus kerja kan?" Brandon hanya mengangguk dan kembali menduselkan wajah nya di ceruk leher Marsya, menciumi aroma tubuh gadis itu.


🌻🌻

__ADS_1


Pendek lah, buntu nih otak🤭🤭🤭


jangan lupa jejak nya , tap favorit juga ya wehh❤️


__ADS_2