Mencintai Adik Sahabatku

Mencintai Adik Sahabatku
Tak Sanggup Kehilangan Dirimu


__ADS_3

Pagi hari nya, Bella perlahan mulai mengerjapkan mata nya menyesuaikan cahaya yang masuk ke celah jendela ruangan yang dia tempati.


Dia melihat suami nya masih tertidur lelap dengan posisi duduk, dan tangan nya yang saling menggenggam erat.


Bella tersenyum, ternyata suami nya menemani dirinya.


Bella merasakan kering di tenggorokan nya, tapi dia tak tega membangunkan suami nya. Dari raut wajah yang tidur pun Bella tau, dia kelelahan dan kurang istirahat.


Tapi kemudian, terdengar suara pintu di buka perlahan. Kepala Lita menyembul dari luar, dan saat mata nya tak sengaja bertatapan dengan Bella, dia langsung nyengir.


Bella memberi isyarat dengan meletakan satu jari telunjuk nya di depan bibir nya, Lita yang mengerti pun menutup pintu dengan sangat perlahan hingga tak membangunkan Haris.


Lita mendekati Bella yang masih terbaring lemah di brankar rumah sakit. Bella menyentuh tenggorokan nya dan menunjuk air di meja dekat sofa.


Lita mengerti dan langsung mengambil air di meja itu dan memberikan nya pada Bella. Bella segera menerima nya dan meminum nya hingg tandas, tapi karena dia minum dengan terburu-buru, akhirnya dia tersedak hingga Haris yang sedang dalam alam mimpi pun terkejut.


"Sayang sudah bangun." Haris mengucek mata nya, dan bangkit mengecup kening Bella dengan lembut.


"Memang nya aku kenapa? Seingat ku kemarin aku sakit perut dan saat mau di bopong Lita, aku udah gak inget lagi." Jelas Bella.


"Kemaren kakak pingsan, terus di bawa kesini ternyata Kakak pendarahan." Ucap Lita lirih, dia takkan sanggup menjelaskan semua nya secara rinci.


"Perut ku memang masih sakit sampai sekarang, tapi kemarin sakit nya mules melilit, kalo sekarang sakit nya kayak lebih ke ngilu, aku kenapa ya?" Tanya Bella, dia mengusap perut nya yang terasa ngilu memang. Dia belum menyadari bayi nya hilang.


"Kenapa kalian tiba-tiba diam? Kompak banget, aku kenapa?"


Lita dan Haris saling melirik, tapi tak ada yang mau membuka mulut nya sekedar menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


"Heii, aku kenapa? Bayi ku gak papa kan? Dia sehat kan?" Tanya Bella lagi, kali ini nada bicara nya cukup tinggi, hingga membuat Lita terlonjak.


Bella menatap perut datar nya, dia menggelengkan kepala nya.


"Kamu baik-baik saja kan di perut momy nak?" Ucap Bella, seolah perut nya bisa menjawab pertanyaan nya.


"Sayang.. "

__ADS_1


"Jelaskan, aku kenapa?" Tuntut Bella dengan bibir bergetar.


"Kata dokter, kandungan kamu lemah. Karena beban pikiran, janin nya tak bisa bertahan dan terpaksa harus di kuret." Jelas Haris lirih, Bella diam. Air mata nya menetes dengan deras membasahi pipi cabi nya.


"Aku kehilangan nya?"


Lita tak sanggup melihat pemandangan menyakitkan ini, dia memilih keluar dari ruangan itu sebelum tangisan nya pecah.


"Sabar sayang." Ucap Haris, dia memeluk tubuh lemah istri nya. Dia juga merasakan sakit nya kehilangan, meski tak ikut mengandung tapi setiap pagi, anak itu lah yang selalu menyemangati dirinya.


"Maafkan aku lalai dalam menjaga anak kita Mas, aku ibu yang buruk." Ucap Bella, dia terisak dalam dekapan hangat suami nya.


"Ini bukan salah mu, ini takdir yang tak mungkin bisa di ubah sayang. Jangan menyalahkan diri mu, ini sudah terjadi." Ucap Haris, dia mengusap puncak kepala Bella dengan lembut. Menyalurkan kasih sayang yang tak bisa di jelaskan betapa besar nya.


"Tapi aku ibu nya, aku yang mengandung nya, aku yang sangat bersalah disini, aku tak mampu menjaga amanah yang tuhan berikan."


"Sayang, jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Semua kejadian pasti ada hikmah nya, kita harus ikhlas, agar bayi kita juga bahagia di sana."


"Jangan menangis, kuatkan hati mu meski aku tau tak semudah ketika mengatakan nya." Ucap Haris, dia terus memberikan kata-kata motivasi nya pada Bella agar tak merasa putus asa.


"Mas gak membenci aku? Atau marah dengan ku?" Tanya Bella, di sela isakan tangis nya.


"Karena aku tak mampu menjaga anak kita dengan baik." Jawab Bella.


"Takkan ada wanita yang ingin merasakan ini, tak ada yang kuat menerima kehilangan titipan tuhan paling indah, tapi jika takdir sudah berkata demikian, kita bisa apa?"


"Kita hanya manusia biasa sayang, tak bisa menentang takdir yang sudah di tentukan. Jadi kuat dan lebih bersabar lagi, semoga kesedihan yang kita rasakan. Tuhan balas dengan seribu kebahagiaan lagi." Ucap Haris, dia harus optimis, dia harus meyakinkan Bella agar tak menyalahkan diri sendiri.


"Istirahat lah, aku tau kamu lelah sayang."


"Aku takut Mas ninggalin aku, jika aku tidur." Ucap Bella dengan nada manja.


"Mas temani sayang. Mas gak bakal kemana-mana, Mas janji."


"Baiklah, aku ingin tidur sambil di peluk. Boleh?" Tanya Bella, dengan senang hati Haris menganggukan kepala nya.

__ADS_1


Bella di rawat di ruangan VIP, hingga ranjang nya cukup besar dan muat untuk berdua.


Haris memeluk tubuh Bella, Bella pun membalas pelukan itu. Dia menyandarkan kepala nya di dada bidang Haris.


Haris mengelus kepala Bella, dan berkali-kali menghadiahi nya dengan kecupan-kecupan.


🥀


Setengah jam sudah, Haris menemani Bella tidur di ranjang nya. Hingga suara ponsel nya membuat nya terbangun.


"Misi selesai Ris, Lu bisa kasih pelajaran tuh cewek di gudang bekas penggilingan padi di jalan xxx."


Haris tersenyum menyeringai saat membaca isi pesan nya. Dia tak sabar ingin memberikan kenangan yang sangat manis untuk wanita jahat itu.


Hingga satu pesan dari Raka kembali masuk, dan membuat nya lebih senang bukan main.


"Selamat bersenang-senang, sorry man. Anak buah ku sudah membuat kaki dan tangan nya tersayat, karena dia berusaha lari saat anak buah ku menangkap nya"


"Sekalian aja hajar tuh cewek Raka, gue akan seneng kalo gue kesana tuh cewek dah tepar." Balas Haris dengan emosi yang menggebu.


Tingg..


"Anak buah gue paling cuma berani tampar doang, mereka bukan spesialis membunuh cuy." pesan dari Raka.


"Oke lah, lakuin yang terbaik." Balas Haris lagi.


Haris tersenyum misterius, entah sebuah kepuasan atau hanya dendam yang membuat nya ingin menghabisi perempuan sialan itu.


Dia kembali menatap wajah tenang Bella dalam dekapan nya, begitu polos nya hingga membuat nya sering tersakiti.


Entah polos atau terlalu baik, dia bisa membela Lita jika ada yang mengganggu nya, tapi giliran dia di ganggu orang, dia hanya diam.


"Maafkan aku sayang, kamu sudah terlalu sering terluka karena aku. Aku begitu mencintai mu Bella, aku tak sanggup jika harus kehilangan dirimu."


🌻🌻🌻

__ADS_1


Bab ini masih tentang Haris dan Bella ya, cepat sembuh ya Mbak Bella☺️


Tinggalkan jejak dan tap favorit ya, follow akun author juga dong. Happy reading😘😘


__ADS_2