Mencintai Adik Sahabatku

Mencintai Adik Sahabatku
Malaikat Penolong


__ADS_3

Setelah memakan seblak buatan Marsya sampai habis, Brandon pamit pulang. Kebiasaan nya setelah makan pulang, kalau kata Marsya tuh SMP.


"Sayang, aku pulang dulu ya.."


"Hati-hati di jalan ya, besok jemput pagi soalnya Aca masuk pagi." Ucap Marsya.


"Siap, apapun buat kamu. Aku pulang dulu ya sayang."


"Iya.." Marsya melambaikan tangan nya, Brandon berbalik menuju motor nya. Tapi seperti ada yang tertinggal, dengan buru-buru dia kembali berbalik ke arah Marsya yang belum masuk.


"Lho kok balik lagi, apa ada yang kelupaan?" Tanya Marsya heran.


Brandon tak menjawab, dia hanya mendekatkan wajah nya dan mengecup kening Marsya cukup lama, juga dengan kedua pipi dan terakhir bibir nya.


"Vitamin aku kelupaan," Jawab Brandon santai, berbanding terbalik dengan ekspresi Marsya yang memerah karena takut aksi Brandon terciduk oleh tetangga, karena posisi nya di luar rumah.


"Kamu ini nyosor mulu, aku marah lagi mau?"


"Ehh jangan dong, di kecup doang kok gak sampe meninggalkan bekas sayang." Elak Brandon dengan wajah konyol nya.


"Pulang sana." Usir Marsya.


"Iya, makasih vitamin nya." Brandon berbalik lagi, dan kali ini dia benar-benar pergi.


Marsya masuk ke dalam rumah setelah memastikan motor Brandon menghilang dari pandangan nya, tapi baru saja masuk Marsya di kejutkan dengan pandangan adik nya.


"Hayo lohh, kakak habis ngapain dulu?"


"Apaan sih Nia, kakak gak ngapa-ngapain kok. Cuma nganterin kak Brandon ke teras." Jawab Marsya.


"Itu kening nya basah." Ucap Nia dengan senyum jahil nya.


"E-ehh.. heemm ini kejatuhan air, ya kejatuhan air."


"Air dari mana, perasaan enggak hujan kak." Nia semakin gencar menggoda kakak nya.


"Sudah Ni, jangan godain kakak mu terus. Lihat wajah nya sudah memerah, bisa di pastikan dia sebentar lagi pasti meletus kalau kamu goda terus."


"Mama malah meledek Aca sih?" Rengek Marsya dengan manja nya.


"Udah, mandi terus tidur ya, besok kan kamu kerja lagi."


Marsya mengangguk dan pergi ke kamar mandi dengan mengalungkan handuk di leher nya.


🌻


Brandon sampai ke rumah, lagi-lagi dia mendapati mobil sedan hitam yang begitu kinclong.


"Hualah, pasti bakal perang dunia lagi ini mah. Mana cape habis kerja seharian, belum lagi pasti dengerin perdebatan." Keluh Brandon, dia melangkah pelan ke arah rumah. Membuka sepatu nya, dan meletakan nya di rak di luar rumah.

__ADS_1


Brandon membuka pintu dengan perlahan, hingga membuat fokus semua orang teralihkan.


Brandon masuk dengan santai nya, dia hanya tersenyum manis ke arah Abang dan kakak ipar nya, sedangkan pada Danu dia melirik dengan ekor mata nya.


"Mandi, setelah itu makan ya Brand." Ucap Lita.


"Baik kak.." Brandon pergi ke kamar nya, melakukan perintah kakak ipar nya.


"Sebenarnya siapa bocah itu, kenapa kalian terlihat begitu baik pada nya? Sangat berbeda jika padaku." Tanya Danu, meski sering mendapat jawaban pedas tapi dia masih berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan anak kandung nya, meski tanpa sepengetahuan istri dan anak nya.


"Apa urusan nya dengan mu pak Tua?"


"Aku ayah mu, tentu saja aku ingin tau." jawab Danu.


"Lalu setelah kau mengetahui nya kau mau apa?" Danu diam, benar juga. Dia mau apa setelah tau siapa itu Brandon sebenarnya?.


"Perlu aku tekan kan disini, jangan terlalu ikut campur dalam kehidupan ku."


"T-tapi aku ayahmu Raka." Ucap Danu.


"Ya, ayah yang menelantarkan anak nya." Sinis Raka, dia tak pernah bisa bersikap baik pada pria di hadapan nya. Jika dulu memang dia menghormati nya sebagai adik dari CEO perusahaan tempat nya bekerja.


Tapi setelah tau kalau dia ayah kandung nya, membuat Raka malah membenci pria itu, sangat.


"Ohh ayolah, aku tak tau kalau ibumu hamil anak ku. Aku fikir kamu anak nya bersama Farhan,"


Brandon keluar dengan pakaian santai nya, kaos pendek berwarna biru terang dan celana pendek selutut.


"Mau makan sekarang?" Brandon mengangguk.


Lita ingin berdiri tapi dengan cepat Brandon mencegah.


"Kakak mau apa? Menyajikan makan untuk ku? Tidak! duduk lah, lagi pun aku bukan tamu yang harus di layani disini."


"Ohh baiklah, makan yang banyak. Calon pengantin harus sehat." Ucap Lita. Brandon hanya menganggukan kepala nya di iringi senyum manis nya.


Danu menatap punggung Brandon dengan sendu, mereka sangat baik pada orang lain tapi tidak dengan nya. Mungkin Lita iya, dia sering bersikap ramah, tapi tidak dengan Raka.


"Kenapa menatap adik ku seperti itu, iri?"


"Lebih baik kau tau, dia malaikat penolong yang sudah menyelamatkan hidup istriku." Jelas Raka sinis, dia menyedekapkan tangan nya di dada.


"Maksudmu?"


"Itulah akibat tak tau apa-apa. Lita hampir saja mati kalau saja Brandon tak menyelamatkan nya, dia bahkan koma sembilan bulan dan hilang ingatan." Jelas Raka lagi.


"Kau tau sekarang, kenapa aku sangat menyayangi dia kan? Kalau anak itu tak menyelamatkan Lita, entah apa yang terjadi."


"Apa itu nyata?" Tanya Danu, tapi pertanyaan nya justru memancing amarah Raka.

__ADS_1


"Apa kau fikir itu mimpi hah? Lita susah hamil karena perut nya terbentur ke sisi jalan."


"Rasanya itu tak mungkin." Celetuk nya lagi.


"Terserah mau percaya atau tidak, yang jelas aku sudah memberitahu mu."


Danu kembali diam, berdebat dengan Raka pasti takkan ada habis nya.


"Berapa bulan nak?" tanya Danu pada Lita.


"Jalan delapan Pah." Jawab Lita dengan senyum manis nya.


"Jangan memberi senyum mu pada pria seperti dia sayang."


"Kapan kau akan menerima ku Raka?" Tanya Danu,


"Entah lah, biarkan waktu yang menjawabnya."


Di dapur.


Brandon makan dalam keheningan, suara-suara debat tak terdengar di area dapur, jadi dia makan dengan tenang.


Mama Renata datang dengan wajah kesal nya,


"Kenapa sih Mam, itu wajah nya kok di tekuk gitu?" Tanya Brandon.


"Kesel aja, kenapa pria itu datang lagi kesini."


"Ya wajar aja Mam, kan anak nya ada disini." Jawab Brandon, sambil tersenyum.


"Iya tapi Mama kesel Brand, mana kesini selalu terjadi kekacauan, mama pengen tenang. Ini kepala kliyengan dengerin perdebatan dari tadi."


"Sabar ya Mam, terlihat dari sorot mata nya kalau Pak Danu itu orang yang ambisius. Pasti dia akan sering kemari sebelum Bang Raka mengakui nya sebagai ayah." Jawab Brandon.


"Iya juga sih, dari dulu dia selalu terobsesi dengan apa yang jadi milik orang lain."


"Jadi biarin aja, sebaiknya Mam tidur." Ucap Brandon, mama Renata hanya menganggukan kepala nya dan pergi ke kamar nya. Melewati ketiga orang yang sedang berdebat itu tanpa melirik sedikit pun.


"Mama tidur duluan." pamit Mama Renata pada Raka dan Lita.


🌻🌻


Ya ampun danu, suka banget bikin orang darah tinggi😅😂 maaf kalo garing🤭


jangan lupa tinggalkan jejak, tap favorit juga, happy reading😍



ganteng banget, tolonggg😭

__ADS_1


__ADS_2