
Di kantor, Raka sedang kalang kabut setelah mendapat telepon dari salah satu anak buah nya yang mengatakan istri nya di bawa ke rumah sakit, karena ulah Farhan.
"Ris, ikut gue." Ucap Raka, saat membuka pintu ruangan kakak nya.
"Kemana? Lu gak liat, kerjaan gue masih banyak." Tanya Haris, memang pekerjaan nya masih banyak.
"Adek Lu masuk rumah sakit, masa mentingin kerjaan daripada adek lu sendiri." Ucap Raka kesal, Haris terlalu banyak bertanya.
"Hah? Kenapa adek gue? Yaudah cepetan kesana." Haris panik, lalu berjalan tergesa-gesa di ikuti Raka yang sama panik nya.
Mereka berjalan beriringan dengan ekspresi yang tak bisa di tebak, antara panik, cemas dan khawatir.
🌻
Hingga satu jam kemudian mereka sampai di rumah sakit sesuai alamat yang anak buah nya katakan tadi di telpon.
Raka segera turun dari mobil, bahkan saat Haris belum selesai memarkirkan mobil nya, Raka terus berjalan dengan cepat dan mencari dimana ruangan ICU nya.
Setelah cukup lama berkeliling area rumah sakit, akhirnya Raka menemukan Ibu nya yang tengah bersandar di kursi tunggu.
"Bagaimana keadaan Lita ma?" Tanya Raka.
"Dokter sedang memeriksa nya di dalam Raka, bahkan sudah satu jam setengah." Jawab Mama Renata pelan.
"Bagaimana bisa Lita terluka Ma?" Tanya Raka lagi.
Mama Renata pun menceritakan semua nya secara detail, tanpa terlewat sedikit pun. Raka mendengarkan dengan seksama, dan mengepalkan tangan nya dengan geram.
"Orang tua sialan itu, kenapa selalu mengganggu istri ku." Ucap Raka, sambil duduk di samping Mama Renata.
"Bagaimana Lita?" tanya Haris, dengan nafas yang tersengal karena berlari menyusul Raka.
"Dokter masih di dalam, ini semua ulah Farhan itu. Maafkan aku Ris." Ucap Raka sambil menunduk, menyembunyikan kesedihannya.
"Kau tak bersalah apapun, jika ada yang harus di salah kan, ya itu ayah mu sendiri." Jawab Haris, menepuk pundak Raka.
"Hooh, tuh tua bangka kagak ada kapok-kapok nya."
Tiba-tiba saja, pintu ruangan ICU terbuka dan menampilkan dokter Paramitha, yang dulu menangani keguguran Bella.
"Keluarga Nyonya Arlita?"
"Kami dokter.. " Jawab Raka dan Haris bersamaan.
"Tuan Haris?"
"Iya dok, bagaimana adik saya?" Tanya Haris lagi.
"Nyonya Lita adik tuan? Keadaan Nyonya sudah membaik, hanya belum sadarkan diri. Beruntung saja cepat di bawa kesini tuan."
"Kalau tidak, janin yang Nyonya kandung bisa bermasalah." Ucap Dokter Mitha dengan senyuman nya.
"J-janin? Istri saya hamil dok?" Tanya Raka dengan wajah terkejut nya.
__ADS_1
"Tuan belum tau? Nyonya hamil muda Tuan, sekitar dua minggu." Jawab dokter Mita.
"Ris, cubit tangan gue dong. Apa ini mimpi?"
Haris menuruti perintah Raka dan mencubit kuat tangan Raka, hingga dia mengaduh kesakitan.
"Sakitt gilaa."
"Lahh pan elu yang nyuruh, cukk." Jawab Haris santai. Dokter Mita tersenyum simpul melihat adik kakak itu.
"Tadi saya juga terkejut saat suster memanggil saya dengan terburu-buru untuk memeriksa Nyonya Lita, karena beliau tak bisa memastikan prediksi nya salah atau benar. Dan Ternyata benar, Nyonya Lita hamil muda."
"Mohon di jaga ya tuan, kehamilan Nyonya masih rentan karena masih trimester pertama, tak boleh terlalu lelah dan berfikiran berat yang membebankan." Saran dokter Mita.
"Baik dok, terimakasih." Jawab Raka.
"Tuan Haris, apa Nyonya Bella sudah kembali mengandung?" Tanya Dokter Mita.
"Sudah dok, sekarang masuk bulan ke delapan." Jawab Haris.
"Wahh, selamat ya tuan. Semoga saat persalinan nanti berjalan lancar."
"Saya permisi dulu, masih banyak pasien yang menunggu." Pamit dokter Mita.
Setelah dokter Mita pergi, Raka tersenyum dengan ceria. Meski awal nya dia kesini dengan wajah marah nya, tapi sekarang kemarahan itu telah berganti dengan kabar kehamilan istri nya.
"Aku ingin melihat istri ku." Ucap Raka, lalu melenggang masuk ke dalam ruangan Lita yang baru saja di pindahkan ke ruang perawatan.
Haris menggelengkan kepala nya melihat Raka yang seperti anak kecil, begitu juga dengan Mama Renata, sebentar lagi anak nya akan menjadi ayah.
Amarah nya seketika muncul lagi, saat melihat leher Lita yang lebam bekas cekikan Farhan.
Raka mengusap kepala Lita dengan lembut, gadis baik ini harus nya tak mengalami kejadian mengerikan seperti ini.
"Aku merasa bersalah pada mu sayang, ayah ku menyakiti mu. Aku tak tau berapa ribu kata maaf yang harus ku ucapkan pada mu, kamu wanita yang baik dan tulus, tapi Ayah ku tak bisa melihat itu dan di butakan oleh kemarahan dan keegoisan nya."
"Maaf jika bersama ku, kamu harus merasakan sakit sayang." Ucap Raka. Mata nya berkaca-kaca, memancarkan kesedihan yang dalam.
"Mas.. "
"Sayang, kamu sudah bangun? Bagaimana, apa yang sakit?" Tanya Raka.
"Tak ada Mas, hanya sedikit sesak saja. Kenapa menangis?"
"Ayolah, pria ku harus kuat. Aku tak apa-apa." Ucap Lita pelan.
"Bagaimana bisa sayang, ayah ku menyakiti dirimu. Kau menderita bersama ku sayang?" Lita menggeleng pelan, tubuh nya masih lemah. Memang sudah seminggu ini dia selalu merasa lelah dan lemas.
"Aku bahagia dengan mu Mas, kamu tak salah apapun padaku. Aku memutuskan untuk memilih dirimu, berarti aku harus siap dengan segala konsekuensi yang mungkin terjadi, seperti sekarang."
"Jadi ini pilihan ku, aku tak bisa mundur lagi." Ucap Lita, tangan nya terulur mengusap butiran air mata yang mengalir dari kedua mata Raka.
"Kuatlah suami ku, aku bersama mu. Jangan jadi lemah hanya karena aku Mas."
__ADS_1
"Aku akan berusaha sayang.." Jawab Raka, menciumi tangan Lita.
"Mas, aku lemas. Gak tau kenapa semingguan ini bawaan nya lemes terus gampang cape." Keluh Lita.
"Aku gak tau, tapi mungkin itu efek kehamilan muda mu sayang."
"Siapa yang hamil Mas?" Tanya Lita pelan.
"Istriku yang cantik dan baik hati ini, sedang mengandung anak ku. Kamu hamil sayang." Ucap Raka, tersenyum sumringah.
"Jangan bercanda untuk menghibur ku Mas, itu gak lucu."
"Siapa yang bercanda, aku bicara serius sayang. Kamu hamil, kata dokter Mita kamu hamil udah dua minggu." Jelas Raka.
"Apa Mas berbohong?"
"Apa wajah Mas ini terlihat seperti pembohong sayang? Mas mengatakan fakta nya." Ucap Raka.
"Jangan bangunkan aku dari mimpi indah ini Mas, aku tak mau saat aku bangun semua nya kembali menghilang."
"Kamu tak bermimpi sayang, ini nyata. Kamu hamil." Ucap Raka, memeluk Lita dengan erat. Lita juga membalas pelukan Raka dan menangis terisak di pelukan nya.
"Aku tak menyangka, momen ini akan datang juga. Terimakasih sudah bersabar menantikan hal membahagiakan ini Mas." Ucap Lita di sela tangisan nya.
"Sudah, jangan menangis lagi sayang. Mari kita jaga anak kita dengan baik, aku takkan mengulangi kesalahan ku lagi." Ucap Raka, mengusap pelan rambut Lita yang berada dalam pelukan nya.
"Selamat untuk kalian calon ibu, calon ayah, semoga sehat selalu." Ucap Mama Renata.
"Mama.. " Panggil Lita dan merentangkan tangan nya, Mama Renata mengerti dan langsung menyambut pelukan itu.
"Aku bukan wanita mandul kan Ma? Bukti nya sekarang aku hamil." Lirih Lita.
"Kamu tidak mandul sayang, jadi jangan di fikirkan lagi perkataan pria itu."
"Baik Ma. Aku hanya akan fokus menjaga anak ku saja, aku tak mau kehilangan dia untuk kedua kali nya." Ucap Lita.
"Memang nya dia bilang apa?" Tanya Haris.
"Farhan bilang Lita wanita mandul." Jawab Mama Renata.
"A-apa? Sebenarnya apa sih masalah pria tua itu, hingga membenci mu dek?"
"Sudahlah Bang, Lita gapapa kok. Jangan marah." jawab Lita.
"Iya tapi dia menyakiti dirimu, awas saja kalau aku bertemu dengan nya. Ku seret dia di jalan." Ucap Haris, dengan kesal.
"Jangan menyelesaikan masalah dengan emosi Bang."
"Abang mana yang gak emosi, adek nya dia jaga dengan baik, ehhh malah punya mertua kayak orgil." Gerutu Haris.
🌻🌻🌻
Selamat Mbak Lita, bahagia dan sehat selalu ya🤭
__ADS_1
Salam hangat dari author 🌺 tinggalkan jejak dan tap favorit❤️