
Pria itu berjalan mendekat ke arah sofa dimana Brandon dan Marsya duduk, dengan posesif Brandon langsung memeluk pinggang Marsya, bahkan pandangan mata nya tak melunak pada pria itu.
Melihat ke posesifan kekasih nya, Marsya mengulum senyum nya, entah apa yang di fikirkan nya, bahagia atau malu. Hanya Marsya yang tau, tapi sepertinya bahagia ya..
"Ehmm, Marsya bagaimana keadaan ibu mu?" Tanya Adi, ya pria itu adalah Adi.
"Gak punya mata kali ya, kan udah lihat ibu nya Marsya masih belum siuman." Sewot Brandon. Dia semakin mengeratkan pelukan nya di pinggang Marsya.
Marsya merasakan aroma persaingan disini, apalagi melihat Brandon yang terus menatap Adi dengan tajam.
"Benar kak Adi, Mama masih belum siuman." Ucap Marsya membenarkan ucapan Brandon.
"Oh baiklah, aku bawa buah untuk mu dan ibu mu." Adi menunjukan parsel buah yang dia bawa.
"Elah cuma buah doang.." Ketus Brandon, dia menyandarkan kepala nya di pundak Marsya, menunjukan bahwa Gadis cantik ini adalah milik nya. Marsya juga tak menolak, dan malah mengusap rambut Brandon.
Adi mematung melihat pemandangan menyesakan di depan nya, ternyata dia sudah tak memiliki kesempatan lagi. Marsya terlihat sangat menyayangi Brandon, begitu juga dengan lelaki itu. Adi tersenyum kecut dan memalingkan wajah nya, karena air mata nya hampir saja menetes tanpa permisi.
"Baiklah, ada Kak Brandon disini. Aku pulang dulu.."
"Tunggu.." Adi menghentikan langkah nya, dan membalikan tubuh nya.
"Darimana kakak tau kalau ibu ku masuk rumah sakit?" Tanya Marsya, dengan segala rasa ingin tau nya.
"Tadi aku ke rumah mu ingin mampir setelah mengantar paket, tapi rumah nya sepi cuma ada Nia sama tetangga. Nia bilang ibu nya di rumah sakit, jadi aku berfikir kamu disini." Jelas Adi sesuai fakta nya.
"Ohh baiklah, terimakasih sudah menjenguk Mama.."
"Sama-sama, kita kan teman. Aku permisi dulu.." Pamit Adi dan pergi dari ruangan rawat Ibu Asih, menutup pintu nya dengan sangat perlahan.
Brandon menghembuskan nafas lega, dia senang karena pria yang dia anggap pengganggu itu sudah pergi.
"Baguslah pria itu sudah pergi."
"Tak bisakah sedikit bersahabat dengan kak Adi yang?" Tanya Marsya.
"Tidak, dia menginginkan mu. Dan aku takkan rela jika kamu berpaling dari ku."
"Ya ampun kamu ini, sebegitu takut nya kah aku berpaling?"
__ADS_1
"Tentu saja, mendapatkan mu sangat sulit. Kamu sangat sulit di dekati." jawab Brandon, mengingat perjuangan nya untuk Marsya.
"Kak Adi sudah menyatakan perasaan nya sebelum aku resmi dengan mu kak.." Ucap Marsya, yang membuat Brandon tercengang dan menegakkan tubuh nya dari sandaran nyaman nya.
"Whatt? Terus kamu jawab apa?"
"Ya aku cuma bilang aku gak bisa, udah ada orang yang mengisi hati ku." Jawab Marsya.
"Terus gimana?"
Flashback
Adi menemui Marsya di taman saat makan siang, sebelum nya dia sudah sepakat untuk bertemu di taman dekat kantor.
Marsya sudah menunggu dengan gelisah, karena sebentar lagi waktu makan siang akan habis.
Tak lama, terlihat Adi yang berlari ke arah nya. Dia duduk di dekat Marsya, dan mengatur nafas nya yang tersengal karena berlari.
"Maaf aku terlambat menemui mu.." Ucap Adi setelah berhasil mengatur nafas nya.
"Tak apa, jadi langsung ke inti nya saja. Kakak mau bicara apa sama Marsya?" Tanya Marsya, karena pekerjaan nya sudah menunggu.
Adi menghela nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan, sebenarnya dia sudah tau akan jawaban Marsya. Tapi dia tetap ingin mengungkapkan perasaan nya agar lega.
"Tentu saja tidak, sebenarnya ada sih kak? Kayak nya serius banget." Tanya Marsya.
"Dari awal kita bertemu, aku sudah jatuh cinta dengan mu. Aneh memang, baru pertama kali bertemu tapi aku sudah menyukai mu. Tapi jujir saja, hanya dirimu yang mampu membuat hati ku berdebar.."
Marsya melongo mendengar ungkapan perasaan dari Adi, teman sepekerjaan nya. Selama ini dia telah menyalah artikan kebaikan Adi, dan hanya menganggap nya sebatas teman.
"Lalu apa jawaban mu?" Tanya Adi lagi, membuat Marsya bingung. Sejauh ini Adi adalah teman yang baik,
"Kakak harus berjanji, apapun jawaban ku kakak takkan membenci ku?"
"Aku berjanji.." Jawab Adi, dia menautkan jari kelingking nya, berjanji.
"Maaf, tapi sudah ada orang yang mengisi hatiku. Dan seperti nya kakak tau orang nya siapa,"
"Maaf jika jawaban ku mengecewakan, tapi aku tak mau menjalin hubungan hanya karena keterpaksaan." Ungkap Marsya,
__ADS_1
"Ahh iya, aku tak apa Marsya. Semoga bahagia dengan pilihan mu, aku ikut bahagia untuk mu."
"Jangan merasa sungkan dengan ku karena hal ini, aku hanya ingin mengungkapkan nya agar hati ku merasa lega. Setidaknya aku sudah mengungkapkan nya.." Ucap Adi dengan senyuman nya, padahal hati nya menyembunyikan luka yang cukup perih ketika mengetahui gadis yang dia puja ternyata sudah memiliki pria lain.
"Kita masih bisa tetap berteman kan?" Tanya Marsya.
"Ya, tentu saja.."
"Baiklah, aku pergi dulu. Pekerjaan menunggu ku.." Pamit Marsya, lalu pergi dari taman dengan langkah cepat nya.
Adi menatap kepergian Marsya dengan sendu, tapi mau bagaimana pun dia harus menghargai keputusan Marsya, dia tak mungkin memaksa kan kehendak nya.
Dia tersenyum samar, meski hati nya terasa nyeri. Tapi mau bagaimana lagi, dia terlambat satu langkah.
Flashback off
"Ya begitulah yang, hubungan ku dengan kak Adi hanya sebatas teman. Jadi jangan terlalu emosi jika dia disini, dia temanku sayang.."
"Tetap saja pria itu pernah menyukai mu, jadi tak ada alasan bagi ku untuk mencoba ramah dengan pria itu. Jawaban nya, Tidak!" Ucap Brandon, kekeh dengan keputusan nya.
"Ya sudahlah, kamu memang keras kepala. Kepala batu." Ledek Marsya.
"Begini-begini aku ini pacar mu kan? Dan aku tampan." Ucap Brandon dengan percaya diri.
"Jangan terlalu percaya diri, nanti over loh.."
"Mana ada percaya diri yang over yang?" Tanya Brandon.
"Iya, jadi nya gak punya malu. Karena urat nya putus." Ledek Marsya lagi, membuat Brandon mencebikan bibir nya.
Brandon mendekatkan wajah nya pada Marsya, dia tersenyum menyeringai. Marsya tau arti seringaian itu, dan menjauhkan wajah nya. Tapi terlambat, tangan Brandon meraih tengkuk leher Marsya dan segera mencium bibir nya.
Marsya berusaha berontak, karena takut terciduk. Tapi Brandon masih sangat menikmati penyatuan bibir mereka, Brandon masih asik melummat bibir Marsya dengan mesra nya.
Hingga lagi-lagi ciuman mereka harus terganggu karena suara pintu terbuka, Brandon segera melepaskan pagutan bibir nya dan mengatur ekspresi nya agar tak terlihat kaget.
"Hayo loh habis ngapain?"
🌻🌻
__ADS_1
Siapa lagi sih weh, ganggu kesenangan orang aja😂 kasian sama Brandon nya keganggu mulu🤭🤭
jangan lupa kasih semangat nya buat author ya, sama kopi deh🤭🤭 happy reading❤️