Mencintai Adik Sahabatku

Mencintai Adik Sahabatku
Virus Egois


__ADS_3

Di kampus, Lita murung dan itu membuat Bella khawatir dengan keadaan sahabat nya.


" Litt, kenapa?" Tanya Bella.


" Pacar gue pergi ke luar negeri." Jawab Lita lirih.


" Yaelah, gue pikir Lu kenape. Ternyata di tinggal pacar, LDR an nih yeee." Ucap Bella.


" Galau gue Bell, gue dah bucin sama kak Raka. Belum juga sehari gue dah rindu." Ucap Lita.


Bella hanya diam, dia juga tengah berbunga saat ini. Karena kemarin Haris mengungkapkan perasaan nya dan mengajak nya menjalin hubungan.


" Lu sama abang gue gimana?" Tanya Lita, sontak saja Bella yang sedang minum tersedak hingga batuk-batuk.


" Santai aja lagi, Lu minum kayak lagi di kejar sapi aja. Buru-buru banget."


" Gue kaget ******." Jawab Bella ketus.


" Kaget apaan, gue cuma nanya gak ada tuh gue ngagetin Lu." Ucap Lita tak kalah ketus.


" Masalah nya gue lagi ngelamun cukk."


" Ngelamun aje Lu, kesambet entar." Ucap Lita.


" Gimana?" Tanya Lita lagi.


" Kemaren gue di tembak sama Abang Lu Lit." Jawab Bella dengan wajah yang memerah.


" Wihhh, abang gue gercep pisan." Ucap Lita heboh.


" Jangan berisik bisa gak?" Ucap Bella sinis.


" Heehee, sorry. Gue seneng aja sih, dia gak nyia-nyia in kesempatan yang gue kasih."


" Beneran Lita, waktu dia nganterin gue pulang gua ajakkin abang Lu mampir dulu, dia mau. Pas dia mau pulang, dia cium kening gue Lit. Mana mesra banget." Ucap Bella, begitulah dia. Tak pernah merahasiakan apa pun dari Lita.


" Pantesan waktu pulang abang keliatan seneng banget anjimm, itu alesan nya." Ucap Lita lagi.


" Gue gak nyangka sih, malem nya gue gak bisa tidur karena saking shock ya."


" Terus Lu terima abang gue?" Tanya Lita.


" Jelas di terima lah." Jawab Bella dengan pipi yang semakin memerah.


" Gue pikir lu bakal nolak abang gue."


" Lu pikir gue bodoh gitu? Kapan lagi punya pacar ganteng kayak oppa-oppa korea." Ucap Bella terkekeh.

__ADS_1


" Hahaha, iya abang gue emang ganteng. Selamat ya kakak ipar."


" Makasih adik ipar." Jawab Bella.


" Gue harap Lu bisa bahagia in abang gue, gue juga ngarep Lu bakal ada di samping dia apa pun yang terjadi, suka maupun duka. Gue sayang banget sama abang gue." Ucap Lita lirih.


" Gue bakal ada di saat apa pun Lita, gue bukan tife cewek yang saat cowok nya susah terus ninggalin, gue gak seperti itu." Jawab Bella, dia yakin dengan Haris.


" Thanks, gue pegang janji Lu bell." Ucap Lita, mereka berdua pun melanjutkan kegiatan mereka.


🥀


Pukul 8:30, Raka sudah ada di bandara menunggu pesawat lepas landas.


Dia menatap ponsel nya, dimana terdapat foto Lita yang sedang tersenyum.



" Aku semakin yakin untuk memiliki mu, Lita ku." Gumam Raka, dia mengusap foto di dalam layar ponsel nya.


Andai saja dia bisa membawa Lita ke Amerika, pasti takkan ada perpisahan sementara dan membuat Lita sedih.


" Bertahan lah sebentar lagi sayang." gumam Raka, dia menutup mata nya sejenak dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


Tak lama terdengar peringatan bahwa pesawat akan segera take off. Raka pun buru-buru pergi dengan menggeret koper nya.


🥀


" Selamat datang Amerika." Ucap Raka ,dia menghembuskan nafas kasar. Sudah saat nya dia berdebat dengan orang tua nya, sudah biasa jika Raka kesini pasti ada perjodohan dan Raka akan selalu menolak nya.


Raka menaiki taksi yang berjejer di dekat bandara, dan menyebutkan alamat rumah kedua orang tua nya.


Tak butuh waktu lama, karena jarak dari bandara ke rumah orang tua nya hanya cukup menempuh waktu 20 menit.


" Thanks Mr." Ucap Raka, dengan sopan.


" You're welcome, sir." Jawab sang supir, dia pergi setelah mendapatkan imbalan dari jasa mengantar penumpang.


Raka menatap rumah mewah yang berdiri kokoh di depan nya. Karena sudah hampir pagi, Raka memutuskan segera masuk karena udara cukup dingin.


Tak ada sambutan, bahkan rumah ini seperti tak berpenghuni, sepi dan senyap.


Raka tak memusingkan hal itu, dia segera pergi ke kamar nya dan beristirahat, karena selama di pesawat dia tak tidur, dia terus memikirkan Lita.


🥀


Pukul 8 waktu Amerika, Raka di bangunkan dengan suara bising dari luar kamar nya. Perlahan dia mendudukan diri dan melihat ada keributan apa.

__ADS_1


Mata nya membulat saat melihat orang tua nya sedang bertengkar hebat, hingga terjadi aksi main tangan yang di layangkan sang ayah.


" Cukupp! Ada apa ini?" Tanya Raka tegas.


" Kau disini?" tanya sang ayah dengan wajah yang terkejut.


" Iya, kenapa? Kau tak suka?"Tanya Raka balik.


" Bisakah bersikap sopan sedikit dengan ayah mu?"


" Tidak, aku tak suka pria yang kasar dan suka menyakiti perempuan." Jawab Raka dingin, dari dulu ayah nya mempunyai sikap kasar dan arrogan.


Suka mabuk, bermain wanita dan sering main tangan dan korban nya adalah Ibu nya sendiri. Dia sering melihat pipi ibu nya lebam, dan itu akibat di pukuli suami nya.


" Sudah lah, Raka baru saja datang. Biarkan dia istirahat." Ucap Ibu Raka.


" Anak tak tau di untung, pembawa sial." Umpat sang ayah, Raka yang sudah terbiasa dengan umpatan kasar sang Ayah hanya bersikap santai.


Dia sudah kebal dengan hal semacam itu, dia terbiasa dengan kekasaran sang ayah hingga membuat nya menjadi pria yang mandiri dan kuat.


" Nanti kita bicara, Nak. Istirahatlah." ucap Sang Ibu. Mereka berdua pun pergi dari depan kamar Raka.


" Aneh, berantem kok di depan kamar anak nya. Ada-ada saja akal-akalan nya." Gumam Raka, dia tau semua itu hanya akal-akalan kedua orang tua nya. Dia sudah biasa kena prank, dari sejak SMA dan saat di paksa bertunangan dengan Helena.


Raka kembali ke dalam kamar nya, tapi tak kembali tidur. Dia mengecek ponsel dan banyak sekali pesan dan panggilan tak terjawab dari Lita.


" Kenapa aku lupa mengabari nya, pasti dia khawatir sekarang." Gumam Raka, dia segera membalas pesan-pesan dari Lita.


Dia juga mencoba menelpon nya, tapi tak di angkat.


" Mungkin gadis kecilku sudah tidur, kalau di Indonesia pasti sekarang hampir tengah malam." Gumam Raka lagi, dia pun meletakan kembali ponsel nya dan pergi ke kamar mandi.


🥀


Setelah membersihkan diri, Raka keluar dari kamar nya dan menuju ruang makan. Disana sudah menunggu kedua orang tua nya dengan tatapan dingin.


" Dingin banget, gak ada hangat-hangat nya natap anak sendiri." Ucap Raka, dia mendudukan diri di kursi yang cukup jauh dari kedua orang tua nya.


" Kenapa jauh banget?" tanya Sang Ibu.


" Takut ketularan virus egois." Jawab Raka santai.


Ibu dan ayah nya diam, tak bicara apa pun. Mereka hanya fokus dengan sarapan nya, tak ada pelukan kerinduan atau sekedar menanyakan kondisi anak nya. Mereka terlalu datar dan cuek terhadap anak, tapi mereka selalu ikut campur jika itu tentang jodoh.


🌻🌻🌻


__ADS_1


Author baru tau kalau egois itu salah satu virus yang cukup berbahaya🤭🤭


Jangan lupa kasih dukungan dan semangat buat author dengan like, komen, vote dan follow akun author. happy reading ❤️


__ADS_2