
Raka berjalan ke arah pintu dengan raut wajah kesal.
"Permisi Pak, ada berkas kerja sama dengan JM Group."
"Lalu?" Tanya Raka dengan alis yang terangkat.
"Pak El menyuruh saya menyerahkan berkas ini kepada Bapak agar di pelajari terlebih dahulu." Sahut nya sopan.
"Simpan saja di meja." Ucap Raka datar, lalu melenggang pergi mendahului perempuan itu.
Saat masuk ke dalam, dia sempat tertegun sejenak saat melihat siapa yang sedang duduk di sofa ruangan atasan nya.
"Jangan menatap istri ku seperti itu, mau apa kau? Jika sudah selesai cepat keluar." Ucap Raka tegas.
"Maafkan saya Pak, saya permisi." Ucap Perempuan itu, setelah meletakan berkas nya dia langsung keluar dengan ekspresi wajah yang tak dapat di artikan.
"*Rasanya wajah itu familiar, tapi dimana aku pernah melihat nya? Rasa nya tak asing, atau hanya perasaan ku saja?"
"Mungkin hanya perasaan ku saja, aku kan baru pertama kali bertemu wanita itu. Dan dia istri nya Pak Raka? Cantik dan anggun sekali*." Batin perempuan itu, meski hanya sekilas tapi dia tau kalau Lita adalah wanita yang anggun. Padahal asli nya bar-bar, belum tau aja dia😁
🥀
"Sayang, ayo pergi. Pekerjaan ku sudah selesai, kata nya mau nengokin Bella." Ucap Raka, saat Lita malah tertidur. Mungkin karena bosan menunggu suami nya yang fokus mengerjakan tugas nya.
Raka tersenyum, ide jahil nya mode on. Raka mengapit hidung Lita dengan kedua jari nya, hingga Lita kelabakan karena tak bisa bernafas.
Raka segera melepaskan tangan nya, dia tertawa melihat wajah Lita yang memerah karena ulah nya.
"Jahil banget sih, kalo aku mati gimana? Kamu pasti senang, dan nikah lagi." Ucap Lita kesal. Mata nya menatap Raka dengan tajam.
"Ihh gak bakalan mati sayang, cuma gitu doang. Udah ah, ayo pergi."
"Aku masih pusing, gendong ya?" Pinta Lita dengan memasang wajah imut nya.
Tentu nya, seorang Raka takkan mampu menolak keinginan istri kesayangan nya itu. Meski image nya akan turun di mata bawahan nya, tapi itu bukan masalah selama Istri nya bahagia.
Raka berjongkok di depan Lita, dan dengan senang hati dia naik ke punggung Raka. Untung saja dia memakai celana jeans, jadi tak masalah.
"Kau berat juga sayang, gak kepikiran mau diet?" Tanya Raka, setelah keluar dari ruangan nya.
"Enggak, kamu sendiri yang bilang gak usah diet-dietan, Makan yang banyak." Jawab Lita, dia menyandarkan dagu nya di pundak Raka.
"Iya juga sih, kamu keliatan lucu kalau gendut. Apalagi pipi nya yang tembem itu, enak kalo di cubit, kenyal." Ucap Raka sambil terkekeh.
"Kenapa ya, orang-orang tuh suka banget cubit pipi kalo gemes?"
"Gak tau, tapi aku cuma lakuin itu sama kamu doang kok. Cius." Jawab Raka.
"Cius?"
__ADS_1
"Bahasa gaul sayang, serius." Raka menjelaskan arti kata nya.
"Ckkk, ikut-ikutan kayak anak muda. Sadar dong, kamu tuh udah tua."
"Tua apa nya, baru 26 tahun yang. Dewasa kali bukan tua." Elak Raka, tak mau di katai tua.
"Iya suami dewasa ku, ayolah kenapa jalan mu pelan seperti kura-kura?"
"Kalau kamu gak ada di punggung ku, aku gak bakal lelet gini jalan nya istri cantik ku." Jawab Raka.
"Cepetan deh ya, malu diliatin orang lain."
"Kita suami istri, gak ada yang bakal marah ini. Kalo malu, kamu turun dong. Pinggang aku sakit nih." Keluh Raka, padahal sebentar lagi sampai di parkiran kantor.
"Cihh, baru aja gendong sebentar udah encok. Kamu kurang olahraga Mas, jadi nya kaku." Lita berkata dengan kesal, karena harus turun dari gendongan Raka.
"Iya nanti aku olahraga lagi kalo weekend." Jawab Raka, dia segera masuk ke dalam mobil dan memasang seatbelt di tubuh nya.
Sedangkan Lita, dia bersedekap dada dan memasang wajah cemberut yang malah terlihat menggemaskan untuk Raka.
🥀
Singkat nya, mereka sudah sampai di rumah sakit. Lita menenteng kresek berisi donat madu untuk Bella.
"Yang pelan-pelan aja jalan nya, kok cepet banget sih."
"Sambil olahraga Mas." Jawab Lita datar.
"Kamu gak salah, yang salah tukang sate. Yang gerah abang nya ,tapi yang di kipasin malah sate nya." Ucap Lita ketus.
"Jadi nya mau es krim apa sate?" Tanya Raka, dia sudah tau membujuk istri nya itu.
"Dua-dua nya juga boleh, bonus nya nanti aku pijitin."
"Pijit plus-plus." Bisik Lita di telinga Raka, membuat Raka tersenyum nakal saat mendengar bisikan sensual itu.
"Oke nanti sebelum pulang kita mampir dulu." Putus Raka, dia tak mungkin melewatkan kesempatan sebaik ini.
🥀
Raka dan Lita masuk ke dalam ruangan inap Bella dengan perlahan, terlihat Haris sedang membujuk Bella untuk makan, tapi seperti nya Bella menolak nya.
"Kenapa bang?" Tanya Lita.
"Kakak mu susah makan, padahal kan kata dokter harus makan banyak supaya cepet sembuh." Jawab Haris.
"Kak Bella makan ya? Liat nih, Lita bawa apa? Coba tebak." Ucap Lita sambil menunjukan kresek berisi satu kotak donat madu dengan topping yang menggugah selera.
"Donat madu? Ahh mau." Tebak Bella, dia langsung tau. Karena itu adalah makanan favorit nya, jika dia sedang sedih atau marah pasti Lita akan memberikan nya donat madu.
__ADS_1
"Boleh, satu box ini buat kakak. Tapi makan dulu, oke?"
"Oke, ayo suapin aku Mas." Ucap Bella dengan semangat, hingga membuat Haris mengacungkan dua jempol nya pada Lita. Karena sudah berhasil membuat Bella mau makan.
Setelah selesai makan, benar saja Bella langsung mengambil donat dan memakan nya dengan lahap. Hingga topping nya belepotan di sisi bibir nya, Haris dengan telaten mengusap nya dengan tissu.
"Pelan-pelan makan nya kak, gak ada yang minta kok."
"Tumben kamu gak mau Lit?" Tanya Bella, dengan pipi yang menggembung berisi donat.
"Kata Mas Raka harus diet, kata nya aku berat." Jawab Lita, dia melirik Raka dengan sinis.
"Aku becanda kali yang, jangan ambil hati."
"Heh, cewek tuh sensitiv kalo masalah berat badan yee. Lu berani nya ngatain dia berat, ya pasti nyampe hati lah." Gerutu Bella.
"Iya iya kakak ipar."
"Masih sakit aja galak nya minta ampun!" Gumam Raka pelan.
"Gue denger ya Lu ngomong apa, gue tampol baru tau rasa Lu."
"Wanjirr, maaf kakak ipar. Sudah cukup aku merasa terpojok hari ini." Ucap Raka sambil melirik Haris, yang sudah tertawa terbahak-bahak. Saat melihat Raka yang di marahi istri nya.
"Maka nya jadi cowok jangan ngelunjak, gak di kasih jatah malem tau rasa." Ucap Bella lagi.
"Gak bisa gitu dong, itu mah kewajiban istri. Dosa loh kalo nolak, betul gak Ris?" Haris hanya diam saja, dia ngenes jika membahas masalah jatah. karena dirinya harus lama berpuasa.
"Betul juga sih, kunci nya ada di gue ya. Kenapa baru kepikiran, ahh otak gue beku kayak nya."
"Hahaa, ternyata penyakit lola Lu masih suka kambuh ya?" Tanya Bella.
"Kayak nya sih iya, padahal udah lama gak telat mikir."
"Kapan bisa pulang kak?" Tanya Lita.
"Kata dokter Mita, besok juga udah boleh pulang beb."
"Syukurlah, tapi menurut ku jangan kuliah dulu lah. Takut nya nanti kakak kelelahan." Ucap Lita, sekejap saja panggilan Lo Gue itu berganti dengan bahasa formal.
"Aku akal tetap kuliah Beb, Lu tau lah gimana perjuangan ibu ku supaya bisa tetap kuliah. Cuma gak enak aja sih kalo perjuangan dia sia-sia, karena gak tamatin kuliah." Jelas Bella.
"Apapun keputusan nya harus sesuai kesepakatan bersama, sekarang Lu dah nikah Bell. Otomatis tanggung jawab Ibu Lu pindah ke suami Lu, Haris." Ucap Raka nimbrung. Meski sering tak akur, tapi mereka tau waktu dan batasan nya.
"Iya lah, gue gak mungkin ambil keputusan sendiri. Gue bakal ikutin suami gue, meski nanti kalo gue gak di izinin kuliah lagi, gue nurut aja sih." Jawab Bella.
🌻🌻🌻
Jangan lupa tinggalkan jejak ya beb😘 tap favorit juga deh 🤭
__ADS_1
Salam hangat dari Raka&Lita❤️