
Ketiga pria itu sudah kembali ke rumah dengan selamat, sudah beberapa hari ini juga Haris dan Bella menginap di rumah Raka. Karena Bella tak mau pulang, dia ingin selalu dekat dengan Adik ipar nya, Lita.
Baru saja merebahkan tubuh nya di ranjang, bunyi ponsel di saku nya membuat mata nya terbuka lebar.
"Siapa sih? Kenapa mereka tak membiarkan aku istirahat dulu sebentar, aku lelah." Gerutu Raka, lalu bangkit dan merogoh ponsel nya di celana.
"Hallo Bima, ada apa?" Tanya Raka, to the point.
"Keadaan tuan Farhan semakin memburuk bos." Lapor Bima, anak buah Raka yang bertugas di markas kecil tempat Farhan di tahan.
"Bawa ke rumah sakit segera, aku akan kesana nanti."
"Baik tuan, dia juga selalu mengigau menyebut Renata dan Lita Tuan." Ucap Bima lagi.
"Ya, nanti aku akan membawa nya ke rumah sakit juga. Bawa dia cepat." Perintah Raka, dan segera mematikan sambungan telepon nya.
Raka kembali memejamkan mata nya, kenangan-kenangan pahit bersama Farhan kembali berputar dalam ingatan nya.
"Pria itu, tak ada salah nya memberikan nya kesempatan lagi." Gumam Raka, lalu kembali membaringkan tubuh lelah nya.
Lita masuk ke dalam kamar, setelah selesai berbincang dengan Bella dan Haris, juga Brandon.
"Mas, cape ya?" Tanya Lita, naik ke ranjang dan memijat kaki suami nya dengan lembut.
"Ahh, jangan memijat ku sayang. Kamu sedang hamil."
"Lah, terus hubungan nya apa?" Tanya Lita.
"Gak boleh kerja berat."
"Berat dimana nya? Aku gak gendong kamu kan, cuma mijit. Malah masih berat jatah malam kamu." Ledek Lita.
"Hemm, baiklah sayang. Aku memang menyukai pijatan mu." Ucap Raka, memejamkan mata nya menikmati pijatan Lita.
"Kau tau yang? Keadaan Ayah Farhan semakin memburuk."
"Apa Mas membiarkan nya dengan luka tembak di kaki nya saat itu? Kenapa Mas?" Tanya Lita, refleks menghentikan pijatan nya.
"Mas sudah menyuruh Bima membawa nya ke rumah sakit."
"Ahh syukurlah, Mas masih punya hati." Ucap Lita sinis.
"Hati ku terisi penuh oleh dirimu, makanya aku tak mengizinkan siapapun masuk lagi ke dalam hati ku."
"Gombal." Ucap Lita.
__ADS_1
"Sayang, ayah ingin bertemu dengan mu. Apa kamu mau ikut ke rumah sakit bersama ku?" Tanya Raka.
"Tentu saja Mas, aku akan ikut dengan mu." Jawab Lita, tanpa berfikir dua kali.
"Terimakasih, sekarang aku mau mandi dulu. Mau ikut?" Ajak Raka.
"Iss, kita kan mau ke rumah sakit. Kalau mandi bersama nanti lama, jadi mandilah cepat." Ucap Lita, setelah memukul pelan tangan Raka, tapi pria itu malah terkekeh.
"Yaudah, kamu siap-siap aja dulu. Ajak Mama juga ya." Ucap Raka, lalu pergi ke kamar mandi.
🌻
Di ruang tamu, Mama Renata hanya menatap kosong ke depan tanpa berniat melihat ke arah televisi yang menyala, menayangkan film wajib perselingkuhan.
Sudah beberapa hari ini, hati nya berdebar tak karuan, seperti ada sesak yang tertahan. Tapi dia tak tau apa alasan nya.
Tiba-tiba saja ada yang melingkarkan tangan di leher nya, dia sudah tau pelaku nya. Siapa lagi kalau bukan menantu kesayangan nya, Lita.
"Mama melamun terus, gak baik Ma." Ucap Lita, mengecup singkat pipi mertua nya.
"Mama juga gak tau kenapa, sayang. Rasa nya hati mama gak tenang, ada sesak juga." Jawab Mama Renata lirih.
"Oh iya, kata Mas Raka ayah Farhan di bawa ke rumah sakit. Beliau ingin bertemu kita berdua, jadi kita akan pergi setelah Mas Raka selesai mandi."
"Apa ayah mertua mu sakit?" Tanya Mama Renata, dengan wajah cemas nya.
"Rasa nya Mama tak mau bertemu dengan pria itu, sayang." Keluh Mama Renata.
"Kenapa?"
"Rasa nya masih cukup sakit," Jawab Mama Renata.
"Ma, Lita tau rasa sakit itu pasti akan berbekas. Tapi, cobalah berdamai dengan keadaan."
"Entahlah, tapi rasa nya Mama malas." Ucap Mama Renata.
"Ayolah, Mama tak mungkin bisa menolak keinginan ku kan?" Tanya Lita sambil memasang wajah imut nya.
"Baiklah, aku tak bisa menolak dirimu, apalagi dengan wajah menggemaskan itu." Ucap Mama Renata sambil mencubiti pipi gembul Lita.
"Jangan mencubiti adik ku, Mom." Suara Haris terdengar dari luar.
"Ahh ya, maafkan aku. Habis nya adik mu sangat menggemaskan, Ris." Mama Renata terkekeh mendengar peringatan Haris.
Mama Renata pun pergi ke kamar nya untuk bersiap-siap, Haris juga memanggil mertua Lita dengan sebutan Mom, karena itu keinginan Mama Renata sendiri.
__ADS_1
🌻
Satu jam kemudian ,dengan langkah santai mereka bertiga memasuki kawasan rumah sakit. Tak ada raut ke khawatiran di wajah Raka, entahlah dia bahkan tak bersimpati sedikit pun tentang keadaan Ayah nya sebelum dia menjelaskan semua nya.
Bima berdiri menyambut kedatangan Raka dan istri nya, juga ibu nya.
"Bagaimana Farhan?" Tanya Raka datar.
"Sebaiknya Bos masuk dan melihat keadaan nya sendiri." Jawab Bima pelan.
Raka hanya mengangguk dan masuk perlahan ke ruangan itu di ikuti Lita dan Ibu nya.
Raka hanya menatap pria tua yang biasa nya terlihat gagah dan angkuh dengan datar, kini tubuh nya kurus kering, bahkan wajah nya yang biasa nya bersih, kini di tumbuhi jambang yang cukup lebat.
Selama ini, Farhan mengalami penyakit kelaminn yang mematikan hingga membuat alat vitall nya membusuk, dan mengeluarkan bau busuk yang teramat. Mungkin ini adalah karma bagi nya, yang selalu mempermainkan wanita dan terlalu bebas dalam berhubungan badan.
Namun saat ini sudah tak tercium bau itu lagi, karena dokter sudah bersusah payah menangani nya. Meski tak dapat terselamatkan, juga kaki nya yang di amputasi.
"Raka.." Panggil nya lirih.
"Ya, aku disini. Dengan istri mu dan menantu juga." Jawab Raka.
Farhan tersenyum samar, lalu menatap Renata dan Lita bergantian.
"Renata, aku sangat berdosa pada mu. Mungkin tak termaafkan, tapi aku ingin meminta maaf atas segala yang sudah aku perbuat padamu."
"Tak terhitung begitu banyak nya kesalahan yang telah aku lakukan, mungkin luka dalam hati mu takkan pernah sembuh hanya dengan kata maaf yang keluar dari mulut ku."
"Rasa nya hingga ribuan kali aku meminta maaf pun takkan mampu mengubah apapun, aku menyesali perbuatan ku." Ucap Farhan menunduk dalam.
"Penyesalan setelah berpenyakitan, cihh menjijikan. Seandainya tuhan tak memberi peringatan dengan penyakit itu, aku yakin kau takkan pernah mau mengatakan hal semacam ini." Sinis Raka.
"Mungkin saja kau masih suka bersenang-senang dengan wanita malam mu kan? Itu sudah terbiasa bagi mu, kotor." Sindir Raka lagi.
"Mas, jangan begitu. Kasian ayah, lihatlah dia sedang sakit." Cegah Lita, sambil memegang lengan nya.
"Raka memang benar, aku pria yang menjijikan. Aku tak menyangkal itu, karena itu fakta nya." Ucap Farhan tersenyum kecut di akhir kata nya.
Lita hanya menatap sendu ayah mertua nya itu, dia dengan jelas melihat kesedihan dan penyesalan dari sorot mata nya.
Mungkin saja Raka tak menyadari nya atau dia di butakan dengan emosi dan kemarahan pada Farhan.
🌻🌻
Tinggalkan jejak nya ya wehh☺️🙏
__ADS_1
tatapan mu itu mpii, tajam dan menusuk🤭🤭