
Brandon menatap punggung Danu yang perlahan menghilang di belokan, dia tersenyum tipis bahkan orang-orang disana pun tak menyadari nya.
"Aca, kamu pulang saja ya? Kasian kalo disini." Ucap Mama Renata, mengkhawatirkan kondisi gadis itu.
"Tak apa Ma, Aca mau disini aja nungguin kak Lita." Jawab Marsya dengan senyum manis nya.
"Sekalian nemani calon suami ya Sya?" Ledek Haris, membuat kedua pipi Marsya merona.
"Abang, jangan bikin Aca malu dong." Ucap Brandon, dia menyembunyikan wajah Marsya ke dada nya dengan posesif.
"Ckk, abg posesif." Kali ini Elgar yang nyeletuk dari samping Raka, dia duduk bersandar dengan tangan yang menyedekap di dada.
"Ehh ada pak El.." Ucap Brandon berpura-pura tak tau kehadiran sang CEO.
"Ada saya juga.." Ucap Dani, mantan CEO.
"Aduhh, disini banyak orang berpengaruh.." Brandon menggaruk kepala nya yang tiba-tiba saja terasa sangat gatal, setelah melihat tatapan para pria dengan pengaruh tinggi itu.
Sudah tiga jam mereka menunggu, tapi belum ada tanda-tanda kalau dokter akan keluar ruangan. Danu juga sudah duduk dengan menundukan kepala nya, setelah mendonorkan darah nya dia merasa sedikit pusing. Tapi dia bersikeras ingin tetap tinggal, ingin menunggui menantu nya.
Marsya dan Brandon tertidur dengan saling memeluk di kursi tunggu, karena hari memang sudah malam.
Raka masih melamun di tempat nya duduk, dia terbayang senyum manis istri nya ,yang selalu membuat nya bersemangat memulai hari.
Rasa nya sudah cukup cinta mereka teruji, dulu dia juga pernah merasakan sakit seperti ini. Tapi dia tak pernah menyangka kalau situasi seperti ini akan terulang lagi.
Raka menutup wajah nya dengan kedua tangan, dia sangat ingin semua ini cepat berlalu dan istri baik-baik saja, dia berharap semua ini mimpi, tapi sayangnya ini semua nyata.
Hingga Raka mendongakan kepala nya saat mendengar derap langkah dari dalam, di iringi pintu ruangan yang terbuka perlahan.
"Tuan Raka?"
"Ahh iya, saya dokter. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Raka, dia bangkit dari duduk nya.
"Kondisi Nyonya Lita sudah stabil, dia berhasil melewati masa kritis nya.." Ucap dokter itu, membuat senyuman manis terukir di kedua sudut bibir nya.
"Ya tuhan terimakasih, sudah memberikan kembali kesempatan untuk ku. Apa saya bisa melihat keadaan nya?" Tanya Raka antusias.
__ADS_1
"Tentu bisa tuan, hanya saja saat ini Nyonya belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius." Jelas dokter itu.
"Dan jangan terlalu berisik ya tuan." peringat dokter itu sambil tersenyum.
"Baik dok, terimakasih." Dokter hanya mengangguk, dan pergi di ikuti dua suster.
Raka masuk perlahan ke dalam ruang perawatan istri nya, tangis nya hampir saja tak tertahan saat melihat kondisi istri nya. Bahkan dahi nya masih membiru, seperti nya dia terbentur sesuatu sebelum jatuh.
Raka duduk di kursi samping brankar tempat istri nya terbaring lemah, dengan jarum infus di punggung tangan nya. Raka mengambil sebelah tangan nya dan mengecup nya.
"Sayang, apa sudah lebih baik? Maafkan aku, lagi-lagi aku gagal menjaga mu sayang."
"Anak kita sudah lahir dengan selamat, dia sehat dan sempurna. Juga cantik seperti dirimu, bulu mata nya lentik, tapi hidung dan mata nya sangat mirip dengan ku."
"Apa kamu keberatan sayang? Tapi kita membuat nya bersama, jadi mungkin itu tak masalah kan sayang?" Celoteh Raka sendiri, karena istri nya masih belum sadarkan diri.
"Permisi, bagaimana keadaan kak Lita?" Tanya Marsya.
"Sudah stabil, hanya saja belum sadarkan diri karena pengaruh bius nya. Mana Brandon?"
"Kak Brandon sedang tidur kak, baiklah aku permisi dulu. Pasti dia mencari ku jika terbangun." Pamit Marsya, Raka hanya menganggukan kepala nya.
"Darimana sayang?" tanya Brandon, saat Marsya baru saja duduk di samping nya.
"Lihat ke ruangan Kak Lita, keadaan nya sudah stabil cuma belum sadarkan diri karena obat bius."
"Syukurlah, aku tak nyenyak tidur banyak sekali nyamuk disini. Nginep di hotel aja yuk?" Ajak Brandon.
"Nggak, kamu cari kesempatan kan?"
"Kesempatan apa sih yang, orang cuma mau tidur nyenyak aja. Ayo, aku gak bakal macam-macam." Ucap Brandon, dia menarik tangan Marsya agar mengikuti nya. dengan terpaksa Marsya mengikuti langkah Brandon dengan langkah malas nya.
Kebetulan ada penginapan tepat di depan rumah sakit ini, hanya perlu menyeberang jalan raya dan sampai.
"Kak, kamar nya satu ya?" ucap Brandon.
"Berapa jam kak?"
__ADS_1
"Berapa ya? Ini udah jam 11 malem, berarti kalo sampe jam delapan pagi berapa tarif nya kak?" Brandon malah balik tanya, membuat Marsya malu karena mendapat tatapan nakal dari receptionist itu, pasti mereka menyangka kalau sepasang anak manusia ini akan melakukan hal-hal yang tak senonoh.
"Masuk nya satu malam ya kak, 250 ribu."
Brandon mengeluarkan dompet tebal nya, dan segera membayar nya. Setelah mendapat kunci nya, mereka segera pergi ke kamar nya.
Sumpah demi apapun, Marsya malu kuadrat. Apalagi receptionist tadi menatap nya dengan kerlingan nakal.
Brandon segera melepaskan sendal dan jaket nya, lalu berbaring dengan nyaman nya.
Berbeda dengan Marsya, dia pergi ke kamar mandi, menggosok gigi dan mencuci kaki nya, baru lah mengikuti Brandon yang sudah berbaring nyaman dengan memeluk guling.
Sebenarnya dia trauma tidur sekamar dengan lelaki ini, dia masih ingat apa yang terjadi saat mereka tidur bersama saat di rumah abang nya. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Semoga saja tak terjadi apapun kali ini.
Brandon berbalik dan memeluk pinggang Marsya, Marsya sangat terkejut dan berusaha melepaskan lilitan tangan Brandon di pinggang dan perut nya.
"Biarkan seperti ini, aku takkan berbuat macam-macam padamu sayang. Aku nyaman memeluk mu seperti ini, tubuhmu sangat wangi apalagi rambut mu ini." Brandon menduselkan wajah nya di ceruk leher gadis nya, dia mengendus nya.
"Geli sayang, jangan seperti ini."
"Aku takkan macam-macam, percayalah. Tidurlah.." Ucap Brandon, dia malah nyaman dengan posisi menguntungkan nya ini.
"Ckkk, kenapa bisa dia tidur dengan posisi seperti ini? Tolong aku Ma, lelaki pilihan mu ini membuat ku sesak."
Tak lama terdengar deru nafas beraturan dari Brandon, bahkan nafas hangat nya terasa menyapu leher nya.
Marsya menahan geli setengah mati, juga dengan debaran di hati nya yang tak beraturan. Setelah mampu mengendalikan nya, dia pun tertidur dengan tangan Brandon yang melingkari perut rata nya.
🌻
Pagi hari nya, semua orang di buat kalang kabut dengan menghilang nya pasangan baru. Padahal semalam mereka tertidur di ruang tunggu bersama Mama Renata, tapi pagi ini mereka berdua sudah menghilang.
Sedangkan di penginapan, kedua pasangan itu masih bergelung di dalam selimut tebal nya. Mereka masih nyaman berbagi kehangatan, padahal matahari sudah terbit dan menyinari bumi dengan terang.
🌻
Malah ngehotel ini berdua, kenapa sih?🤭🤭
__ADS_1
🌻
Boleh curhat sedikit gak sih? Jadi begini, author lagi pusing mikirin bagaimana menamatkan cerita ini, readers pilih deh tamatin segera atau mengalir aja seperti air? segitu aja curhatan author, maafin kalo cerita ini makin lama makin garing atau malah gak nyambung, tapi author udah usahain yang terbaik☺️🙏 happy reading❤️