
Bu Asma ikut tersenyum melihat senyuman di wajah cantik putrinya. Mereka pun akhirnya melangkah dengan bergandengan tangan menuju tempat Malik dan Flower menunggunya.
"Apa kau ingin makan dulu, Mila? Kebetulan pesawatnya baru berangkat setengah jam lagi." Tawar Flower sambil mengunyah makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
Emila menatap makanan yang saat ini berada di tangan Flower. Roti isi coklat itu terlihat sangat menggoda membuat Emila sangat ingin memakannya. "Aku ingin roti seperti yang kau makan." Jawab Emila jujur.
Flower mengangguk-anggukkan kepalanya lalu menatap pada suaminya yang berdiri tidak jauh darinya. "Malik, tolong belikan kue seperti ini tiga lagi. Emila dan anak-anaknya menginginkannya." Pinta Flower pada Malik.
Malik terbelalak mendengar permintaan istrinya itu yang ingin ia membelikan makanan untuk mantan kekasihnya.
"Malik... ayo." Flower menatap tajam wajah suami datarnya itu.
Mau tidak mau Malik pun akhirnya pergi membelikan roti yang Emila inginkan. Emila yang melihat Malik tidak rela membelikan makanan untuknya pun merasa sungkan.
"Mila, jangan memikirkan wajah datar suamiku, ya. Dia memang seperti itu. Dia bukan tidak senang kepadamu." Flower yang seolah tahu apa yang ada di dalam hati Emila pun memberikan pengertian pada Emila.
"Ya. Aku tidak berpikiran seperti itu." Jawab Emila.
Flower tersenyum mendengarnya. Kemudian ia pun menawarkan makanan yang lain pada Bu Asma. Bu Asma yang merasa tidak enak menolak tawaran Flower akhirnya mengiyakannya.
*
__ADS_1
Tiga puluh lima menit berlalu, akhirnya jadwal keberangkatan pesawat perusahaan Bagaskara pun tiba. Flower dan Malik segera mengajak Emila dan ibunya untuk masuk ke dalam pesawat.
Emila yang sedikit kesusahan menaiki tangga pun dibantu oleh pengawal.
Setelah memastikan Emila masuk ke dalam pesawat barulah Malik dan Flower ikut masuk ke dalam pesawat.
Dug
"Aw..." Emila meringis merasakan tendangan yang cukup kuat dari dalam perutnya.
"Mila, kau tak apa?" Flower nampak cemas melihat Emila yang kesakitan.
Flower tak percaya begitu saja. Ia kembali menanyakan ada apa dengan Emila hingga membuat Emila meringis seperti itu.
"Aku tidak apa-apa, Flow. Perutku hanya sedikit sakit karena anak-anakku terlalu kuat menendang dari dalam perut." Jawab Emila.
Huft
Flower menghembuskan nafas lega. "Apa mungkin anak-anakmu tak rela jika mereka harus pergi dari kota ini meninggalkan daddynya sehingga mereka menendang perutmu dengan kuat?" Tebak Flower.
Emila terdiam. Ia memikirkan apa yang Flower katakan baru saja kepadanya. "Aku rasa tidak. Anak-anakku pasti kesenangan karena sebentar lagi mereka akan tinggal di tempat yang lebih nyaman dan aman untuk kami." Jawab Flower berbeda dengan isi hatinya.
__ADS_1
"Sayang..." Malik yang tidak ingin istrinya terlalu banyak bicara pun memanggil Flower untuk duduk di kursi yang ada di sebelahnya.
Flower yang tidak ingin membantah pun mengiyakan perkataan suaminya itu dengan duduk di sebelah suaminya.
"Jangan terlalu ikut campur dengan urusan hidupnya. Kita cukup membantunya saja." Pesan Malik pada Flower.
"Baiklah." Flower tersenyum lalu mengecup sebelah pipi suaminya.
Malik yang sudah biasa mendapatkan ciuman mendadak dari istrinya hanya diam lalu mengusap kepala istrinya dengan sayang.
Emila dan Bu Asma yang melihat interaksi di antara mereka pun tersenyum satu sama lain.
"Flower benar-benar beruntung ya, Ma." Ucap Emila seraya tersenyum manis.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Emila dan Ar update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Mahasiswaku Suamiku, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1