
"Mamah, bagaimana ini!" Celine nampak panik setelah kepergian Lara dan yang lainnya dari rumahnya.
"Mama juga tidak tahu, Celine." Mama Tiara tak kalah panik. Takut jika apa yang dikatakan Flower itu benar jika sebentar lagi pihak kepolisian akan datang menjemput dirinya untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya.
"Kenapa mereka bisa dengan mudah mendapatkan semua bukti tentang kejahatan kita, Mah. Sebenarnya siapa orang-orang yang dibawa Lara tadi ke rumah kita. Sepertinya mereka bukan orang yang sembarangan karena begitu mudah membongkar semua bukti kejahatan kita!" Seru Celine.
"Mana Mamah tahu, Celine. Mama juga baru sekali melihat wajah mereka!"
Celine dibuat penasaran. Salah satu jalan untuk mencari tahu siapakah orang-orang yang dibawa Lara tadi adalah dengan mencari tahu lewat media sosialnya. Celine segera mengambil ponselnya yang tadi ia letakkan di atas meja. Membuka aplikasi pencarian dan mengetikkan nama Flower di sana.
Glek
Baru saja pencarian terbuka, Celine sudah melihat deretan informasi tentang Flower yang membuatnya meneguk salivanya susah payah.
"Flower Arnold. Anak tunggal dari Tuan William dan Nyonya Rania sekaligus pewaris tunggal dari seluruh kekayaan keluarga William Arnold." Gumam Celine membaca sekilas informasi tentang Flower.
__ADS_1
"Apa?!" Mama Tiara yang mendengarkan ucapan putrinya pun dibuat terkesiap. "Flower Arnold? Jadi dia adalah anak dari Tuan William?" Tanya Mama Tiara tak percaya. Sedikit banyaknya ia mengetahui siapakah William Arnold dan pengaruh kekuasaannya di kotanya.
"Benar, Mah. Nona Flower yang tadi adalah anak dari Tuan William!" Celine segera menunjukkan foto Flower bersama kedua orang tuanya pada Mama Tiara.
Mama Tiara dibuat bungkam. Sulit untuk berkata-kata. Pantas saja sejak awal ia merasa tidak asing dengan wajah Flower. Ternyata Flower adalah bagian dari keluarga Arnold yang sering bermunculan di majalah bisnis.
"Mamah, kenapa kita bodoh sekali tidak bisa mengenali wajahnya!" Celine nampak semakin panik. Ia sudah pernah mendengar bagaimana jadinya jika keluarga Arnold sudah murka. Tidak ada satu pun orang yang bisa lepas dari amukan keluarganya itu.
"Mana Mamah tahu. Lagi pula Mama sudah jarang melihat majalah bisnis sejak papa tirimu itu meninggal!"
Malam itu Mama Tiara dan Celine dibuat tak bisa tidur. Mereka bahkan tak memperdulikan perintah Flower yang meminta agar mengosongkan rumah dari barang-barang milik mereka. Yang ada di dalam pemikiran Mama Tiara dan Celine saat ini adalah kabur dari rumah tersebut tanpa diketahui orang suruhan Malik.
"Mamah, lebih baik sekarang kita siapkan baju-baju kita dan kabur dari sini!" Ajak Celine.
Mama Tiara yang sedang mondar-mandir di dalam kamarnya pun menghentikan pergerakannya. Menatap wajah Celine dengan ekspresi cemas.
__ADS_1
"Tapi apa kita bisa kabur dari sini, Celine? Bukannya Tuan Malik sudah mengatakan jika dia menaruh orang suruhannya di sekitar rumah kita?"
"Mereka pasti belum datang malam ini, Mah. Lagi pula untuk apa mereka menjaga rumah ini malam-malam begini." Jawab Celine asal.
Mama Tiara yang sudah panik pun dibuat percaya dengan perkataan putrinya itu. Kemudian mereka pun segera membereskan barang-barang penting mereka dan memasukkannya ke dalam koper.
Hampir satu jam menghabiskan waktu memilih barang penting yang akan mereka bawa, akhirnya Mana Tiara dan Celine pun segera turun ke lantai bawah berniat kabur dari rumah.
"Kita lewat pintu belakang saja Mah agar lebih aman!" Saran Celine.
Mama Tiara mengangguk membenarkannya. Keduanya pun melangkah ke arah pintu belakang dan keluar dari sana. Namun baru saja satu langkah mereka menginjakkan kaki di luar rumah, seorang pria bertubuh besar dan kekar sudah datang menghampiri mereka.
"Mau kemana kalian?!" Tanyanya dengan wajah sangar tak bersahabat.
***
__ADS_1