Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
S2 - Merasa Curiga


__ADS_3

Lara mengingat-ingat siapa saja nama teman barunya tadi lalu menyebutkannya pada Edgar. Tak lupa Lara juga menyebutkan nama Angga dan salah satu teman prianya yang lain pada Edgar.


Mendengar Lara menyebutkan nama dua orang pria entah mengapa membuat dada Edgar terasa panas. "Baru sehari kuliah saja sudah bisa membuatmu mendapatkan dua orang teman pria sekaligus. Hebat sekali dirimu, ya!" Ucap Edgar dengan tatapan sinis.


"Memangnya kenapa jika saya memiliki teman pria Tuan?" Lara tanpa sadar merubah nama panggilan mereka karena merasa takut dengan kemarahan yang terlihat jelas di wajah Edgar.


"Tidak kenapa-napa." Masih menjawab dengan ketus hingga membuat Lara menyimpulkan jika Edgar tengah marah kepadanya.


Mobil milik Edgar terus melaju menuju apartemen dengan suasana yang berubah hening. Lara yang merasa takut jika Edgar marah kepadanya pun berpikir apakah salah jika dirinya memiliki seorang teman pria.


Beberapa menit telah berlalu, akhirnya mobil milik Edgar sampai di gedung apartemen. Edgar yang merasa tidak enak hati setelah mendengar jawaban Lara tentang teman prianya pun masih memasang mode hening.


"Emh, Kak Edgar. Apa Lara salah jika memiliki teman pria? Sebagai seorang manusia kita kan harus berteman dengan siapa saja tidak boleh pandang bulu." Ucap Lara pelan.

__ADS_1


"Tidak salah. Siapa yang menyalahkan mu memiliki seorang teman pria? Aku juga memiliki seorang teman wanita dan tidak ada yang salah." Jawab Edgar.


Lara merasa lega mendengarnya. Ternyata dugaannya jika Edgar marah kepadanya salah besar.


"Syukurlah kalau begitu." Lara tersenyum manis.


Melihat senyuman di wajah Lara pun lantas saja membuat Edgar menahan geram dalam hati karena ternyata Lara sangat senang jika dibebaskan berteman dengan siapa saja.


"Aku tidak boleh bersikap aneh kepadanya. Dia bisa jadi besar kepala karena menduga aku cemburu melihatnya dekat dengan pria lain." Ucap Edgar dalam hati.


"Oh ya, Kak Edgar. Apa Kak Edgar tidak merasa kerepotan jika terus mengantar jemput aku ke kampus?" Tanya Lara mengingat jarak kampusnya dan rumah sakit Edgar berada di jalan yang tidak searah.


Edgar diam tak langsung menjawab pertanyaan Lara karena kini ada suatu hal yang sedang bersarang di kepalanya.

__ADS_1


"Kalau Kak Edgar merasa kerepotan, lebih baik aku pergi dan pulang kampus menggunakan bus saja. Waktu sekolah dulu aku juga sudah terbiasa pulang dan pergi menggunakan bus." Ucap Lara lagi karena Edgar hanya diam saja.


"Aku akan memikirkannya nanti." Jawab Edgar tak ingin mengambil keputusan secara terburu-buru.


Lara mengangguk mengiyakan perkataan Edgar. Keduanya pun melangkah masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai apartemen mereka berada.


*


Suara notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel milik Lara mengalihkan pandangan Edgar yang sedang duduk di atas sofa ke sumber suara. "Siapa yang mengirimkan pesan kepadanya?" Gumam Edgar merasa penasaran. Ingin melihat pesan apa yang masuk ke dalam ponsel milik Lara rasanya Edgar tak ingin karena takut dikira suami posesif jika Lara memergoki aksinya.


Edgar pun membiarkan saja ponsel Lara tetap berada di atas nakas lalu melanjutkan kegiatannya membalas pesan dari Arkana.


Beberapa menit berlalu, Lara yang sudah selesai membersihkan tubuh dan memakai baju langsung saja melangkah ke arah nakas untuk mengambil ponselnya. Senyuman di wajah Lara pun terkembang melihat sebuah pesan dari nomer baru.

__ADS_1


"Sial, kenapa dia senyum-senyum sendiri begitu? Sebenarnya siapa yang mengirimkan pesan kepadanya?" Ucap Edgar dalam hati merasa penasaran.


***


__ADS_2