
"Kau tidak lupa bukan jika aku selalu mengawasi gerak-gerikmu dari cctv?" Edgar melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat Lara jadi terdiam setelah mendengarnya.
"A-apa Tuan Edgar melihat aku menangis?" Lirih Lara dalam hati.
"Kenapa diam saja. Ayo jawab pertanyaanku." Desak Edgar.
Lara menghela napas dalam lalu menatap Edgar dengan wajah takut. "Maafkan saya, Tuan. Kedua mata saya sembab karena saya baru saja bangun setelah tidur hampir setengah hari." Ucap Lara yang masih saja berusaha menutupi kenyataan yang ada.
Edgar menghela napas panjang setelah mendengar jawaban dari Lara. "Kenapa kau sulit sekali untuk jujur? Aku melihatmu menangis setelah kita pulang dari mall tadi. Bisakah kau menjelaskan hal apa yang membuatmu menangis?" Tekan Edgar.
Kesepuluh jemari Lara saling bertaut. Ia tertunduk dengan wajah yang nampak takut. Melihat itu membuat Edga menjadi bingung sendiri ada apa dengan istrinya itu.
"Saya hanya rindu dengan ayah saya saja, Tuan." Jawaban yang akhirnya Lara berikan tentu saja tak membuat Edgar percaya begitu saja pada Lara.
*
__ADS_1
Setelah selesai menikmati makan malam bersama dengan Lara malam itu, Edgar langsung saja berpamitan pada Lara untuk pergi dari apartemen. Lara yang tidak ingin ikut campur dengan urusan Edgar hanya mengiyakan tanpa berniat ingin bertanya kemana Edgar akan pergi.
"Ingat, jangan berani berniat buruk karena pergerakanmu selalu aku pantau!" Pesan Edgar.
Lara si penurut mengangguk saja. Setelah mendapatkan anggukan kepala dari Lara, Edgar akhirnya melangkah pergi meninggalkan apartemen.
Sebuah klub malam milik Tuan Jacob ternyata menjadi tempat tujuan Edgar saat ini. Malam ini recananya Edgar dan Toni akan bertemu di sana setelah tadi siang membuat janji untuk bertemu.
Masuk ke dalam klub, Edgar sudah disambut dengan tatapan lapar para wanita yang bekerja di dalal klub. Edgar mengangkat tangan ke udara seolah mengusir saat beberapa wanita datang menghampirinya.
Di tengah kebingungannya, sosok Toni pun akhirnya datang. Edgar menyambut kedatangan teman baiknya itu lalu duduk saling berhadapan dengan Toni.
"Bagaimana, apa pernikahannu berjalan dengan baik?" Tanya Toni pada Edgar.
Edgar menyunggingkan senyum. "Tidak akan baik selama aku menikah dengan wanita malam." Jawab Edgar.
__ADS_1
Toni ikut menyunggingkan senyum. "Jadi apa kau tidak ingin menyentuhnya karena dia berasal dari tempat ini?" Tanya Toni.
"Tentu saja. Aku tidak ingin ada keterikatan di antara kami jika aku berani menyentuhhya."
Toni mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh ya, Toni. Kenapa dari yang aku lihat Lara itu sangat polos dan penakut. Dia bahkan mudah menangis entah karena apa." Edgar menceritakan sekilas tentang istrinya yang membuatnya menjadi bingung.
"Dia memang seperti itu. Satu minggu bekerja di sini dia lebih sering menangis. Dan karena tangisannya itu membuatnya lepas dari para pria hidung belang yang berniat menyewanya."
"Apa, maksudnya bagaimana?" Tanya Edgar.
Toni pun menjelaskan maksud perkataannya jika selama hampir satu minggu bekerja di klub milik Tuan Jacok tidak sekali pun ada pria yang jadi menyewa Lara karena melihat Lara yang terus menangis dan melakukan banyak cara agar lepas dari jeratan mereka. Dan hal itu pula lah yang menjadi salah satu faktor Tuan Jacob tidak terlalu berat menjual Lara pada Edgar karena Lara sangat merepotkan menurutnya.
***
__ADS_1