
"Apa, istri?" Ghina terkesiap. Wajahnya nampak terkejut ditandai dengan kedua kelopak mata yang terbuka lebar. "Kau sedang bercanda ya, Ed. Istri apa yang kau maksud saat ini? Bukannya kau belum menikah dan aku belum pernah menghadiri pesta pernikahanmu." Ghina nampak tak percaya dengan pernyataan Edgar.
"Aku sedang tidak bercanda. Aku memang sudah memiliki seorang istri. Dan untuk resepsi pernikahan, kami memang tidak melakukannya. Akad pernikahan kami hanya dihadiri keluarga inti saja."
Ghina semakin terkesiap. Tidak menyangka jika pujaan hatinya ternyata sudah menikah. "Ka-kau... sudah menikah?" Ulangnya terbata dan diangguki Edgar sebagai jawaban.
"Ghina, kalau begitu aku pamit dulu. Ada pasien rawat inap yang harus visit pagi ini."
Ghina hanya mengangguk tanpa suara. Lidahnya terasa kelu untuk berbicara pun dengan jantungnya yang terasa berdetak semakin lemah.
Edgar akhirnya pergi meninggalkan Ghina tanpa rasa bersalah. Ghina yang ditinggalkan oleh Edgar hanya bisa menatap nanar kepergian Edgar dengan sejuta tanya di benaknya tentang siapa wanita beruntung yang sudah menjadi istri dari Edgar Anggara.
__ADS_1
*
Pukul dua siang Edgar baru saja selesai melakukan praktek kontrol pada seluruh pasiennya yang sudah mendaftar hari itu. Edgar yang merasa lapar pun mengajak salah satu pria yang berprofesi sebagai seorang perawat untuk makan di kantin rumah sakit.
Di tengah perjalanan menuju kantin, Edgar mendapatkan panggilan telefon dari nomer yang tidak di kenal. Kening Edgar mengkerut memikirkan siapakah orang yang menelefonnya saat ini. Tidak mungkin yang menelefonnya adalah pasiennya mengingat nomer telefonnya yang saat ini ditelefon adalah nomer pribadi dan tidak semua orang mengetahuinya.
"Kenapa tidak diangkat, Dok?" Pria yang berada di sebelah Edgar bertanya karena Edgar hanya memandangi ponselnya tanpa berniat mengangkatnya.
Edgar meminta perawat yang sedang pergi bersamananya untuk duluan ke kantin lebih dulu karena ia ingin berbicara dengan Malik di sambungan telefon. Setelah kepergian perawat, baru lah Edgar kembali melanjutkan percakapannya dengan Tuan Malik.
"Saya sudah mendapatkan beberapa bukti tentang kecurangan Bu Tiara dalam memalsukan surat wasiat dari orang tua kandung Lara." Informasi yang Malik berikan saat itu membuat Edgar merasa senang karena ternyata sangat mudah bagi seorang Malik untuk membongkar kebohongan Mama Tiara dan Celine.
__ADS_1
"Apa maksud anda pengacara dari Tuan Teguh sudah ikut terlibat dalam kecurangan ini?" Tanya Edgar.
Malik di seberang sana mengiyakannya. Saya masih membutuhkan beberapa bukti lagi untuk membuktikan kecurangan mereka dan keterlibatan satu sama lain. Untuk informasi selanjutnya akan saya kabari pada anda."
Edgar merasa senang dan lega. Ia sangat bersyukur karena Malik sudah mau ikut membantu memecahkan permasalahan keluarga Lara saat ini.
"Baiklah, Tuan. Saya dan istri saya akan berkunjung ke rumah anda nanti malam untuk membahas hal ini lebih lanjut."
"Baik, saya tunggu kehadiran kalian nanti malam." Jawab Malik.
Panggilan telefon keduanya pun terputus setelah tak ada lagi yang ingin mereka bahas. Edgar melukis senyum di wajah tampannya merasa sangat terbantu dengan bantuan yang Malik lakukan. Bayangan wajah Lara pun terlintas di kepalanya. "Dia pasti sangat senang jika mengetahui rumah itu seharusnya menjadi miliknya." Gumam Edgar.
__ADS_1
***