
Kedua bola mata Bu Asma berkaca-kaca setelah mendengarkan perkataan dari putrinya itu. Melihat Emila yang turut berkaca-kaca setelah bercerita kepadanya, Bu Asma pun membawa Emila ke dalam pelukannya. "Mila, Mama mengerti apa yang kau rasakan saat ini. Mama tidak bisa melarangmu untuk tetap pergi. Tapi Mama harap setelah kepergianmu nanti kau bisa membenahi dirimu dan percaya jika kau juga berhak untuk bahagia." Tutur Bu Asma lembut.
Bulir-bulir air mata mulai jatuh membasahi kedua pipi Emila. Entah mengapa semakin dekat waktu kepergiannya maka semakin mudah pula ia merasa bersedih akan pergi dari kehidupan suaminya.
Setelah cukup lama berpelukan melepaskan beban di hati mereka masing-masing, Bu Asma dan Emila pun melepaskan pelukan mereka.
"Ma, Mila sudah mengatur rencana untuk kita dua hari lagi setelah Arkana pergi ke luar kota." Ucap Emila mengingat apa yang tadi ia pikirkan.
"Rencana apa itu, Nak?" Bu Asma nampak penasaran.
Emila pun mengatakan niatnya pada Bu Asma dengan berbisik. Bu Asma yang mendengarkannya pun dibuat terkejut tak percaya jika Emila akan merencanakan kepergiannya di saat Arkana pergi keluar kota.
Mau tidak mau Bu Asma menuruti keinginan putrinya itu. Bu Asma berharap jika keputusan Emil kali ini adalah keputusan yang terbaik untuk Emila dan cucu-cucunya nanti.
__ADS_1
Sementara Arkana yang sedang berada di dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat Edgar bekerja nampak memutar arah kemudinya ke jalan lain setelah ia mendapatkan panggilan telefon dari mertuanya jika Lady tidak mau makan sejak pagi dan hanya mengurung diri di dalam kamar.
Walau merasa kecewa dan marah pada istri pertamanya itu, namun Arkana masih sadar dengan tanggung jawabnya pada Lady yang masih berstatus sebagai istrinya di mata hukum.
Setibanya di depan rumah kedua orang tua Lady, Arkana sudah disambut oleh Mama Miranda di depan pintu. "Arkana, akhirnya kau datang juga, Nak." Ucap Mama Miranda dengan wajah yang nampak cemas.
"Apa Lady belum mau makan juga, Ma?" Tanya Arkana langsung pada inginya.
Kepala Mama Miranda menggeleng. "Mama sudah kembali membujuknya tapi dia tetap tidak mau makan." Jawabnya.
"Arkana?" Melihat kedatangan Arkana membuat Lady mengembangkan senyumannya.
Arkana hanya menatap datar wajah Lady. Ia pun memberikan kode lewat gerakan tangannya agar Lady tidak mendekat kepadanya.
__ADS_1
"Ar, akhirnya kau datang lagi ke sini. Apa kau datang berniat menjemputku kembali dan mencemaskan keadaanku?" Tanya Lady dengan mata yang nampak merah.
"Aku datang bukan karena aku mencemaskanmu atau yang lainnya. Aku datang karena permintaan Mama." Jawab Arkana mematahkan pendapat Lady.
Lady meneteskan air matanya. Wanita itu mengatupkan tangannya di dada sambil menatap sendu wajah Arkana. "Aku mohon maafkan aku, Ar. Aku tahu aku sangat bersalah kepadamu." Pinta Lady menghiba.
"Aku bisa memaafkanmu tapi tidak untuk kembali denganmu. Agh, aku hampir saja lupa jika kau bukan berniat kembali kepadaku tapi kembali pada mantan kekasihmu itu." Arkana menyindir istrinya agar sadar dengan keinginannya saat ini.
Lady terdiam. Memang itulah yang ia harapkan selama ini. Namun setelah kejadian tadi malam entah mengapa ia merasakan hal yang sebaliknya dan merasa sangat bersalah pada Arkana.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Emila dan Ar update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Mahasiswaku Suamiku, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗