
"Oh... seperti itu." Walau sudah mendapatkan jawaban dari Bu Asma jika istri keduanya baik-baik saja namun tetap saja Arkana masih mencemaskan istrinya tersebut sampai ia melihat wajah istri keduanya itu.
Akhirnya pucuk dicinta ulam pun tiba. Emila yang dicemaskan sejak tadi pun datang menghampirinya ke ruang tamu.
"Arkana?" Ucap Emila dengan wajah yang nampak bingung.
"Emila." Arkana menjawab panggilan istrinya itu dengan perasaan lega.
"Kenapa kau ada di sini? Apa kau tidak bekerja?" Tanya Emila.
"Kenapa kau tidak mengangkat telefon dariku sejak malam?" Tanya Arkana balik tanpa menjawab pertanyaan Emila.
Emila dibuat sebal karena Arkana tidak menjawab pertanyaannya justru bertanya kembali kepadanya.
"Memangnya kapan kau menelefonku? Aku tidak tahu." Jawab Emila sedikit ketus.
"Tadi malam dan pagi ini." Jawab Arkana.
Emila dibuat berpikir. Ia pun teringat dengan panggilan video dari Arkana tadi malam. "Tadi malam kau melakukan panggilan video kepadaku?" Tanya Emila.
Arkana mengangguk. "Tapi kau tidak mengangkatnya." Jawabnya.
__ADS_1
"Apa? Jadi kau benar-benar melakukan panggilan video kepadaku?" Emila nampak tak percaya.
"Ya, memangnya kenapa?" Tanya Arkana.
"Aku pikir kau hanya salah pencet saja. Lagi pula bagaimana bisa kau berniat melakukan panggilan video kepadaku? Ada-ada saja." Emila menggelengkan kepalanya merasa tak habis pikir.
"Memangnya kenapa kalau aku melakukan panggilan video kepadamu? Wajar saja bukan jika aku ingin melihat wajah istriku." Jawab Arkana.
Emil menghela nafas panjang. Dari pada berdebat dengan Arkana dengan posisi yang masih berdiri, Emila memilih untuk duduk lebih dulu.
"Lalu tadi pagi kau melakukan panggilan video lagi?" Tanya Emila.
Emila menganggukkan kepalanya. "Aku tidak melihat panggilan telefon darimu. Sejak pagi aku tidak melihat ponselku karena aku sibuk membantu Mama di dapur." Jawab Emila seadanya.
"Oh, seperti itu." Arkana merasa lega mendengar jawaban dari istrinya.
Bu Asma yang mendengarkan perdebatan kecil anak dan menantunya tersenyum merasa lucu karena Emila tidak mengerti jika Arkana sangat perhatian kepadanya hingga mencemaskannya seperti itu.
Setelah cukup berdebat satu sama lain, akhirnya Arkana pun mempertanyakan kebutuhan Emila dan bayi-bayinya.
"Apa stok susu hamilmu masih ada?" Tanya Arkana.
__ADS_1
Emila diam dan berpikir. "Sepertinya masih ada satu kotak lagi." Jawab Emila.
"Lalu kebutuhan lainnya apa masih ada?" Arkana kembali bertanya.
"Masih ada. Jika habis pun aku bisa membelinya di supermarket." Jawab Emila malas.
Arkana menganggukkan kepalanya. "Nanti setelah pulang bekerja aku akan mengantarkan stok susu hamil yang baru untukmu jadi kau tidak perlu repot-repot keluar rumah. Aku juga akan membelikan kebutuhanmu dan Mama yang lainnya." Ucap Arkana.
"Hei, aku bisa membelinya sendiri. Lagi pula saldo di atm yang kau berikan masih ada bahkan bertambah." Protes Emila.
"Diamlah dan menurut pada suamimu. Aku hanya tidak ingin kau kelelahan jika banyak beraktivitas di luar."
Deg
Emila tertegun mendengar perkataan Arkana.
Suami? Ulangnya dalam hati. Kenapa dia bersikap seperti suami sungguhan? Bukankah pernikahan kami hanya pernikahan kontrak yang akan berakhir saat anak kami lahir? Lalu kenapa dia berlebihan seperti ini kepadaku? Tanya Emila dalam hati. Ada perasaan aneh yang Emila rasakan setelah mendengarkan perkataan dari Arkana.
"Mama, saya minta tolong jaga Emila dengan baik ya selama saya tidak ada di dekatnya." Pesan Arkana pada Bu Asma setelah percakapan di antara dirinya dan Emila berakhir dengan diamnya Emila.
***
__ADS_1