Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
Berat melepasnya


__ADS_3

Dua hari tanpa terasa berlalu akhirnya jadwal kepulangan Arkana dan Bu Selvy pun tiba. Emila menutupi rasa sedih di hatinya saat mengantarkan kepergian Arkana dan Bu Selvy ke bandara. Rasanya Emila ingin mengutarakan isi hatinya bahwa ia sedih karena harus berjauhan dari Arkana di saat mereka baru menjalin kedekatan kembali.


Namun apa daya, ia tidak seyakin itu untuk mengutarakannya pada Arkana terlebih saat ini Arkana belum menyelesaikan hubungan rumah tangganya dengan Lady.


"Kabari aku jika kau membutuhkan apa-apa. Aku akan meminta orang untuk membantumu." Ucap Arkana sebelum pergi meninggalkan Emila.


"Kau sudah memberikan dua orang wanita untuk membantu di rumah. Mereka sudah cukup untuk membantuku jika aku membutuhkan sesuatu." Jawab Emila. Kemarin tanpa sepengetahuan Emila, Arkana membawa dua orang wanita yang bertugas sebagai baby sister dan pelayan di rumah. Arkana memang sengaja tidak memberitahu Emila jika ia akan membawa kedua wanita itu karena takut Emila akan menolaknya.


"Bisa saja ada kebutuhan lain yang kau butuhkan dan mereka tidak bisa memenuhinya."


"Kebutuhan apa itu?" Emila nampak bingung.


Melihat kebingungan di wajah Emila membuat Arkana merasa gemas melihatnya. "Seperti merindukan aku mungkin." Bisik Arkana di telinga Emila.


Deg

__ADS_1


Jantung Emila berdebar-debar mendengarnya. Kedua kelopak matanya pun ikut terbuka dengan lebar.


"Kau..." Emila berucap lirih dengan wajah merona. Melihat itu membuat Arkana semakin gemas dan rasanya ingin menggigitnya.


"Arkana, sudah waktunya kita untuk pergi." Bu Selvy memberikan peringatan pada putranya yang nampak asik menggoda istrinya.


Arkana mengembangkan senyum pada Emila. "Aku pergi dulu. Mungkin kita akan terpisah oleh jarak. Tapi percayalah doa-doaku selalu dekat denganmu dan anak-anak kita." Setelah mengatakan hal itu Arkana mengusap kepala Emila dan melangkah pergi meninggalkan Emila bersama Bu Selvy.


Satu tetes air mata jatuh membasahi pipi Emila. Semakin berat saja hatinya melepaskan suaminya itu untuk pergi. "Arkana... cepatlah kembali. Aku dan anak-anak membutuhkanmu." Lirih Emila dengan mata yang semakin mengembun.


*


Bu Asma yang melihatnya terus murung sejak pulang dari bandara mencoba mempertanyakan hal apa yang membuat putrinya itu menjadi murung.


"Mila tidak tahu perasaan apa ini, Mah. Tapi Mila merasa berat berjauhan dari Arkana. Mila selalu terbayang dengan wajahnya." Lirih Emila.

__ADS_1


"Itu karena kau sudah menyimpan rasa untuk suamimu, Mila. Kau membutuhkannya untuk tetap berada di sisimu."


Kedua mata Emila mulai mengembun. Tidak dapat ia pungkiri hatinya kini sudah hampir penuh dengan nama Arkana terlebih setelah melihat perjuangan Arkana untuknya sampai saat ini.


"Kalau rindu telefon saja. Arkana pasti mengangkat telefonmu jika tidak sibuk."


Emila menimbang-nimbang. Rasanya ia masih malu jika harus menghubungi suaminya lebih dulu.


"Ayolah, jangan ragu begitu." Bu Asma kembali meyakinkan Emila.


"Nanti saja, Ma. Arkana sepertinya masih berada di perusahaan sekarang. Kan belum masuk jam pulang kerja." Jawabnya.


Tangan Bu Asma terulur mengelus lengan putrinya. "Terserah kau saja." ucapnya tak ingin ikut campur.


Emila menganggukkan kepalanya. Pandangannya beralih pada kedua anaknya. "Kalian pasti merindukan Daddy juga." Gumamnya yakin. Bagaimana tidak yakin, sejak ditinggalkan Arkana kedua bayinya itu selalu rewel dan baru mau tidur jika sudah mendengar suara Arkana.

__ADS_1


***


__ADS_2