
Lara yang tidak mendengarkan panggilan telefon dari Edgar pun terus saja melanjutkan kegiatannnya membuang sampah ke luar apartemen. Dan tentu saja pergerakan Lara tersebut membuat Edgar menggeram tak tertahankan.
"Lara...!!" Teriak Edgar tertahan melihat sosok istrinya sudah hilang dari balik pintu apartemen sambil membawa plastik berisi sampah. Walau dalam pikiran Edgar Lara dulunya sudah biasa memperlihatkan bentuk tubuhnya pada pria belang yang menyewanya, namun kini Edgar tidak terima jika Lara masih menunjukkannya pada orang-orang mengingat status wanita itu sudah berubah menjadi istrinya saat ini.
Ingin sekali rasanya saat ini Edgar segera pulang ke apartemen dan memberi hukuman pada istri nakalnya itu. Namun hal tersebut tidak mungkin Edgar lakukan mengingat dirinya baru saja sampai di rumah sakit dan tidak mungkin pergi lagi.
Lima belas menit berlalu, Edgar masih setia memantau situasi di apartemen dari rekaman cctv yang terhubung dengan ponselnya. Sosok Lara yang ditunggunya kembali ke apartemen sejak tadi pun akhinya kembali juga. Wanita itu nampak tersenyum ceria masuk ke dalam apartemen.
"Apa dia sesenang itu setelah memamerkan bentuk tubuhnya pada orang-orang?" Gerutu Edgar menatap sebal pada sosok istrinya yang nampak tidak tahu malu keluar tanpa menggunakan bra.
Tok Tok Tok
Suara pintu yang terdengar diketuk dari luar mengalihkan pandangan Edgar dari ponselnya ke sumber suara. Mengetahui siapakah gerangan yang mengetuk pintu ruangannya, Edgar langsung saja meminta orang tersebut untuk masuk.
__ADS_1
"Sudah saatnya visit pada pasien di ruangan mawar, Tuan." Beri tahu seorang perawat pada Edgar.
Edgar mengangguk paham lalu bangkit dari duduknya. Kali ini ia lebih memprioritaskan pekerjaannya dibandingkan dengan melihat kegiatan istri nakalnya di apartemen. Untuk urusan Lara ia akan membereskannya saat istirahat siang nanti.
*
Saat jam istirahat telah tiba. Edgar buru-buru melangkah meninggalkan rumah sakit menuju apartemen untuk menjemput istrinya. Edgar bahkan tak memperdulikan Ghina yang sepertinya ingin mengajaknya berbicara saat mereka bertemu di depan pintu lift.
"Edgar kenapa aneh sekali akhir-akhir ini." Gumam Ghina menatap kepergian Edgar.
"Baik, Tuan. Saya sudah siap menunggu Tuan di apartemen." Jawab Lara diseberang sana.
Tak ada sahutan dari Edgar. Pria itu langsung saja memutuskan sambungan telefon dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemen.
__ADS_1
Tiga puluh menit berlalu, Edgar telah tiba di depan gedung apartemen. Niatnya yang ingin menunggu Lara di luar apartemen saja ia urungkan saat mengingat penampilan Lara saat ini.
"Sial. Aku harus memastikan dia berpakaian dengan benar!" Edgar segera keluar dari dalam mobilnya dan melangkah masuk ke dalam gedung apartemen.
Setibanya di dalam apartemen, dilihatnya Lara baru saja keluar dari dalam kamar menggunakan baju yang tadi pagi digunakan wanita itu.
"Apa kau ingin pergi hanya menggunakan pakaian seperti ini?" Ucap Edgar sedikit berteriak.
Lara mengusap dada merasa terkejut mendengar suara Edgar yang meninggi. "Memangnya ada apa dengan penampilan saya, Tuan?" Tanya Lara terbata.
"Lihatlah kau hanya menggunakan baju tanpa bra. Apa kau ingin menunjukkan bentuk choco chipmu yang tidak seberapa itu pada orang-orang?" Pekik Edgar.
Lara kembali mengusap dada. "Saya tidak memiliki choco chips Tuan. Saya hanya memiliki bola kasti." Jawab Lara.
__ADS_1
***