
Edgar bergerak dengan cepat. Setelah malam itu ia kembali ke apartemen dan memastikan Lara tidur dengan nyaman di dalam kamar, Edgar langsung saja melakukan panggilan telefon pada Arkana. Menceritakan hal apa saja yang dialaminya dan Lara pada saat berada di rumah Lara.
Arkana yang mendengarkan cerita Edgar merasa simpati pada Lara yang kehidupannya terdengar menyedihkan. Bahkan sang ibu tiri dengan tega mengatakannya anak sialan.
"Terkutuk!" Umpat Arkana. Ia merasa tidak terima dengan perlakuan keluarga Lara kepada Lara.
"Aku akan membantumu, Ed. Kau tunggu kabar dariku sampai besok pagi!" Ucap Arkana menggebu-gebu. Walau baru bertemu satu kali dengan Lara, namun Arkana dapat merasakan jika Lara adalah wanita polos nan baik hati.
"Terima kasih, Ar. Aku sangat membutuhkan bantuan darimu saat ini." Ucap Edgar. Ia menyadari sedikit kekurangannya saat ini dalam menangani kasus Lara. Statusnya di kota tersebut tidak terlalu berpengaruh dan Edgar membutuhkan orang-orang berpengaruh yang bisa membantunya lewat Arkan yang memiliki relasi bisnis dimana-mana.
Arkana mengiyakannya. Kali ini sudah saatnya ia membalas kebaikan Edgar padanya saat mencari jejak Emila dulu. Arkana berjanji di dalam hatinya akan membantu Edgar semaksimal mungkin.
"Siapa, Sayang?" Emila yang baru saja selesai menyusui kedua bayi kembarnya menghampiri Arkana di balkon kamar mereka.
__ADS_1
"Sayang." Arkana tersenyum lembut pada istrinya. "Ini, Edgar yang menelefon."
"Edgar? Untuk apa Edgar menelefon malam-malam begini? Tumben sekali?" Wajah Emila nampak bingung.
Arkana lantas saja menceritakan hal yang diceritakan Edgar baru saja. Mendengar cerita Arkana membuat hati Emila terasa sakit seolah merasakan kesakitan Lara saat ini.
"Kejam sekali mereka pada anak yatim piatu seperti Lara." Ucap Emila.
Arkana menghela napas dalam lalu mengangguk sebagai jawaban. "Aku harus membantu Edgar menyelesaikan masalahnya saat ini, Sayang."
Arkana mengangguk mengiyakannya. "Aku akan mencoba meminta tolong pada pengacara terbaik di sana.
"Jangan dulu!" Emila menghentikan niat Arkana. "Aku akan meminta tolong pada Flower. Keluarganya berpengaruh besar di kota itu. Aku rasa dia bisa membantu kita saat ini."
__ADS_1
Arkana merasa mendapat angin segar saat nama Flower disebut. Ia kemudian mengangguk mengiyakan perkataan Emila. "Baik, Sayang. Aku serahkan semuanya kepadamu lebih dulu. Semoga saja Flower bisa membantu kita."
Emila mengangguk lalu berpamitan kembali masuk ke dalam kamar. Ia langsung saja mengirimkan pesan pada Flower.
Flower yang belum tertidur pun lantas saja melakukan panggilan telefon dengan Emila karena merasa penasaran masalah apa yang sedang Emila alami saat ini.
"Mila, aku pikir kau yang sedang berada dalam masalah saat ini." Flower menghembuskan napas lega. Takut sekali dirinya jika ada masalah yang menghampiri Emila lagi.
Emila tersenyum mendengar Flower yang begitu mencemaskannya. "Tidak, Flow. Ini tentang istri Kak Edgar." Jawab Emila lalu menjelaskan permasalahan yang sedang terjadi.
"Oh begitu," Flower di seberang sana mengangguk walau Emila tak dapat melihat pergerakannya. "Baiklah kalau begitu. Aku akan meminta tolong pada Daddyku dan suamiku untuk membantu Edgar. Nanti, aku akan menghubungi Edgar untuk masalah ini."
Senyuman di wajah Emila terkembang. Tidak menyangka Flower langsung mengiyakannya untuk membantunya begitu saja. "Terima kasih, Flow. Kau memang wanita baik."
__ADS_1
***