
Arkana tentu saja dibuat sangat marah dan kecewa melihat sikap istrinya itu. Kemarahan Arkana yang sudah memuncak itu pun membuatnya hampir saja bersikap gegabah ingin menyusul istrinya ke toko kue miliknya jika saja Edgar tidak dengan cepat menasehati dirinya agar tidak bersikap gegabah.
"Kenapa ku melarangku? Aku ingin menghabisi pria badjingan itu!" Umpat Arkana marah pada Edgar dari sambungan telefon yang masih terhubung.
"Aku bilang jangan bersikap gegabah. Jika kau ingin menyerang mereka maka seranglah mereka di saat bukti yang kau dapat sudah cukup banyak dan kuat." Jawab Edgar.
"Apa maksudmu? Rekaman CCTV ini sudah cukup menjadi bukti yang kuat!" Sembur Arkana.
Edgar menggelengkan kepalanya walau Arkana tak akan dapat melihat gelengan kepalanya.
"Itu belum cukup kuat. Kau harus mengumpulkan banyak bukti lagi untuk menyerang mereka. Bukan hanya itu saja, kau juga harus mengatur strategi agar Lady tidak bisa menyangkal atas apa yang kau tuduhkan nantinya."
Arkana terdiam. Ia pun memikirkan perkataan Edgar yang menurutnya benar adanya. Jika ia bersikap terburu-buru itu tidak akan mendapatkan hasil yang baik. "Baiklah, jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanya Arkana sambil menahan emosinya.
Edgar pun segera memberitahu apa yang harus Arkana lakukan saat ini dan seterusnya. Dan yang pasti apa yang disarankan Edgar pada Arkana untuk keberhasilan rencana mereka.
__ADS_1
*
Hari itu Arkana memilih pulang di saat langit sudah gelap. Arkana memilih mengontrol dirinya sebaik mungkin agar tidak diliputi rasa marah saat bertemu dengan istri pertamanya nanti.
Lady yang sudah pulang sejak sore dan menunggu kepulangan Arkana terus mencoba melakukan panggilan telefon pada suaminya itu. Namun usahanya sia-sia karena Arkana tak kunjung mengangkat panggilan telefon darinya.
"Kau harus bisa Arkana." Gumam Arkana sambil menatap ponselnya yang terus berbunyi.
Karena permasalahannya hari ini membuat Arkana jadi tidak fokus bekerja dan melupakan janjinya pada Emila yang ingin membelikan susu dan kebutuhan lain istri keduanya yang sedang mengandung itu.
Setibanya di rumah, senyuman merekah di wajah Lady menyambut kepulangannya. Arkana rasanya sangat muak melihat senyuman itu. Namun sebisa mungkin ia mengontrol dirinya agar bersikap baik-baik saja.
"Aku mencemaskanmu sejak tadi." Ucap Lady setelah Arkana berada di dekatnya.
"Maafkan aku karena aku tidak sempat mengabarimu jika aku pulang malam hari ini." Jawab Arkana dengan wajah menyesal:
__ADS_1
"Ya, tak apa. Aku mengerti. Kau pasti lelah kan? Aku buatkan teh hangat, ya?" Tawar Lady.
Arkana mengiyakannya. Lady pun segera pergi menuju dapur membuatkan teh hangat untuk suaminya itu.
Pandai sekali dirimu bersandiwara. Kau seolah mencintaiku padahal di belakangku kau menduakanku! Ucap Arkana dalam hati.
Arkana mengepalkan kedua tangannya sambil menahan emosi di dadanya yang tidak bisa ia keluarkan saat ini.
Dari pada menunggu Lady membuatkan teh hangat untuknya, Arkana lebih memilih pergi menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.
Setibanya di dalam kamar, Arkana pun segera mengeluarkan ponselnya untuk melihat pesan masuk dari Edgar. Namun bukannya pesan Edgar yang menjadi pusat perhatiannya tapi pesan dari Emila.
Apa kau tidak jadi membelikan susu hamil untukku sore ini? Ucap Arkana dalam hati membaca pesan masuk dari Emila.
***
__ADS_1