Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
S2 - Jangan Berani Kabur!


__ADS_3

Tubuh Mama Tiara terasa bergetar setelah melihat semua bukti yang ditunjukkan oleh Flower dan pengacara yang ia bawa. Terlebih bukti terkuat yang mereka tunjukkan adalah dengan tertangkapnya pengacara mantan suaminya yang pernah ia bayar untuk memalsukan surat wasiat.


Celine pun turut merasakan hal yang sama. Jantungnya kini berdetak begitu cepat pun dengan wajahnya yang nampak pucat seakan tak teraliri darah di sana.


"Saya tidak menyangka jika di dunia ini masih ada orang picik seperti anda, Ibu Tiara. Memalsukan surat wasiat dan menyiksa anak tiri yang sudah baik kepada anda!" Wajah Flower kini nampak sangat tidak bersahabat.


"Bukan hanya itu saja, dia juga sudah menjual Lara pada Tuan Jacob." Tambah Edgar yang nampak sangat geram.


Mama Tiara ingin menyangkal. Ia merasa Edgar tak memiliki bukti kuat untuk itu.


"Saya memiliki rekaman bukti cctv saat anda menjual Lara pada Tuan Jacob serta bukti transaksi pembeliannya!" Ucap Edgar keras.


Mama Tiara terkesiap. Lidahnya terasa kelu untuk berbicara.

__ADS_1


"Siap-siap saja setelah ini giliran anda yang akan mempertanggung jawabkan segala perbuatan anda di kantor polisi!" Ucapan Edgar terdengar tidak main-main. Ia nampak sangat serius saat mengatakannya. Terlebih, Edgar memiliki bukti kuat untuk menjebloskan Mama Tiara ke dalam penjara.


Tanpa diduga Mama Tiara bersimpuh di hadapan mereka. Memohon agar mereka mencabut segala tuntutannya. Tidak dapat Mama Tiara bayangkan bagaimana nasibnya nanti jika harus menginap di sel beberapa tahun lamanya.


Permohonan Mama Tiara sama sekali tidak diacuhkan oleh Flower dan yang lainnya. Mereka hanya menatap Mama Tiara yang bersimpuh tanpa rasa ibu.


"Mamah..." Lara berucap lirih. Tidak dapat ia bohongi jika dirinya merasa iba melihat Mama Tiara yang tengah memohon seperti saat ini.


Lara dibuat bungkam. Memilih diam dari pada harus terkena kemarahan Edgar.


Celien yang melihat tidak ada satu pun yang merasa iba pada sang mama ikut bersimpuh di hadapan mereka. Mengandalkan air mata buayanya berharap mereka dapat iba kepadanya.


"Tunggulah pembalasan yang akan datang kepada kalian sebentar lagi. Dan sebelum waktu pembalasan itu tiba, silahkan kosongkan rumah ini dari barang-barang kalian karena pemilik rumah ini yang sesungguhnya akan kembali tinggal di rumah ini!" Titah Flower tegas.

__ADS_1


Mama Tiara dan Celine menatap wajah Flower dengan tatapan menghiba. Namun bukannya iba, Flower justru merasa kesal melihat mereka yang sangat pandai bersandiwara.


"Dimana tadi wajah angkuh yang kalian perlihatkan kepada kami? Dasar kadal buntung!" Umpat Flower dalam hati.


"Saya mohon Nona Flower, jangan jebloskan saya ke dalam penjara. Saya khilaf, saya sungguh minta maaf atas apa yang sudah saya lakukan pada Lara!" Pinta Mama Tiara.


"Khilaf? Khilaf yang disengaja maksud anda begitu? Setelah sekian lama berbuat jahat pada Lara dan sekarang anda mengatakan khilaf, sungguh lucu!"


Mama Tiara terkesiap. Di dalam hati ia bertanya-tanya siapakah sosok Flower sebenarnya. Kenapa Mama Tiara merasa Flower memiliki pengaruh yang sangat besar hingga bisa membantu Lara memecahkan permasalahan mereka saat ini.


Malik yang sejak awal lebih banyak diam pun akhirnya berdehem. Menatap dingin wajah Mama Tiara. "Saya sudah memerintahkan anak buah saya untuk berjaga di sekitar rumah ini. Jadi jangan sampai kalian berniat untuk kabur karena usaha kalian pasti berujung sia-sia!" Tekan Malik.


***

__ADS_1


__ADS_2