
Edgar akhirnya merasa takut jika apa yang Flower katakan benar adanya jika Lara menganggapnya sebagai pria tidak normal saat ini. Bisa jatuh harga dirinya sebagai pria yang dijuluki gagah dan pemberani jika istrinya saja sudah berpikir dirinya pria tidak normal.
"Edgar, sebelum Lara berpikir terlalu jauh tentangmu lebih baik kau segera melakukan tindakan. Jangan sampai harga dirimu sebagai seorang pria sejati lenyap begitu saja di pemikiran polos Lara." Pesan Flower.
Edgar mengangguk-anggukkan kepalanya seolah patuh dengan apa yang Flower katakan kepadanya.
Pertemuannya siang itu bersama Flower membuahkan sebuah hasil. Yakni jika Lara saat ini sudah berubah menjelma menjadi wanita dewasa bukan lagi wanita polos seperti yang Edgar kenal.
**
Di saat Edgar tengah bertemu dengan Flower membahas tentang sikap mesum Lara semalam, di tempat berbeda yakni di kampus tempat Lara menuntut ilmu, terdengar kegaduhan dari dalam sebuah ruangan dimana Celine datang menemui Lara dan meminta Lara untuk mencabut tuntutannya pada ibunya.
__ADS_1
Lara yang tidak ingin mereka menjadi pusat perhatian orang-orang pun meminta Angga untuk menutup pintu dan meninggalkan Lara, Celine, Angga dan Sherly di sana.
"Lara, aku mohon lepaskan Mama. Jangan buat Mama menderita karena mendekam di dalam penjara." Celine memohon dengan sedikit memaksa. Air matanya berderai menunjukkan jika dirinya sedang kacau saat ini.
Lara sedikitnya merasa tersentuh melihat Celine yang menangis seperti saat ini. Walau Celine sudah berbuat buruk kepadanya selama ini, namun Lara tak menyimpan dendam. Lara bahkan masih memiliki hati nurani pada Celine.
"Maafkan aku, Kak Celine, aku tidak bisa membantumu karena bukan aku yang melaporkan Mama Tiara ke kantor polisi." Lara berucap apa adanya. Sebenarnya di dalam hati kecilnya sangat ingin membantu, namun apa daya, Lara tak kuasa melawan perkataan sang suami yang sudah sejauh ini membela dirinya.
Melihat sikap Celine yang sudah berada di luar kendali membuat Angga maju dan menahan tubuhnya. "Jangan berani macam-macam atau aku akan menyeretmu dari sini!" Ancam Angga.
Celine memberontak. Ia menggoyangkan tubuhnya berharap bisa lepas dari cengkraman Angga. "Lepaskan aku!" Pekiknya keras.
__ADS_1
"Tidak akan. Jika aku melepaskanmu itu sama saja aku membiarkanmu menyakiti Lara!" Sentak Angga.
Celine menangis dengan keras. Tidak ia pedulikan jika dirinya sedang berada di area kampus saat ini. Beberapa teman-temannya pun mungkin saja tengah merekam aksinya saat ini.
"Angga, lepaskan Kak Celine!" Lara meminta. Ia mengerti apa yang Celine lakukan tadi karena wanita itu sangat frustrasi atas apa yang menimpanya saat ini.
"Ku mohon padamu, Lara. Tolong lepaskan Mama. Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain Mama." Celine menangis tersedu-sedu. "Jika Mama dipenjara lalu aku hidup dengan siapa? Hanya Mama yang aku punya dan hanya Mama tempat aku bernaung saat ini."
Kedua bola mata Lara berkaca-kaca mendengarnya. Seandainya saja Celine dan Mama Tiara menyadari kesalahannya sejak jauh hari, mungkin ia masih bisa memaafkan mereka tanpa berniat menyetujui saran suaminya untuk membawa kasus mereka ke jalur hukum.
"Sekali lagi maafkan aku, Kak Celine. Aku tidak bisa membantu. Semoga saja dengan kejadian ini dapat membuat Mama Tiara dan Kak Celine menyadari kesalahan kalian dan mau berubah."
__ADS_1
***