
Lara yang sedang mengaduk masakannya pun menoleh ke sumber suara. "Saya sedang memasak, Tuan." Jawab Lara dengan wajah takut.
Edgar mendekat pada Lara dengan wajah tak bersahabat. "Kau sedang memasak atau sedang berperang di dapurku, hem?!"
"Maafkan saya Tuan karena saya tidak meminta izin lebih dulu kepada anda. Perut saya sudah sangat lapar sejak tadi malam karena anda tidak memberikan makanan sedikit pun kepada saya."
Edgar menghela napas dalam. Ia merutuki kecerobohannya karena lupa memberikan makanan kepada Lara.
Lara pun kembali melanjutkan ceritanya kenapa ia memilih mencoba memasak karena tidak ada suatu makanan pun yang ia dapatkan di dalam dapur.
Edgar yang masih sebal pun menatap pada nasi goreng yang sedang Lara masak saat ini. Keningnya mengkerut dalam melihat betapa merahnya nasi goreng yang dibuat Lara.
"Aku tidak mau tahu, setelah selesai memasak kau bereskan kembali dapurku seperti semula. Dan setelah ini cukup memasak di dapurku karena bisa-bisa dapurku ini menjadi terbakar karena ulahmu!" Titah Edgar.
__ADS_1
Lara mengangguk saja walau tak yakin. Jika selanjutnya Edgar tidak memberikan makanan untuk dirinya, ia tidak akan berpikir panjang untuk kembali memasak seperti saat ini.
Edgar yang sangat kesal melihat kekacauan di dapur pun keluar begitu saja dari dalam dapur sambil mengumpati perbutan Lara.
"Baru sehari dia berada di apartemen sudah membuat dapurku seperti kapal pecah. Bagaimana kalau dia berada di sini satu bulan? Bisa-bisa dapurku jadi abu!" Gerutu Edgar.
Beberapa saat berlalu, Edgar yang kini sedang duduk di ruang tamu memeriksa dokumen yang akan ia bawa ke rumah sakit pun mengalihkan pandangan pada Lara yang sedang melangkah ke arahnya sambil membawa nasi goreng di dalam piring.
Edgar menatap nasi goreng yang bewarna sangat merah itu dengan perasaan takut. Namun jika ia menolaknya, rasanya tidak enak juga pada Lara yang sudah bersusah payah memasak untuk mereka.
"Baiklah, letakkan nasi goreng untukku di atas meja!" Titah Edgar.
Dengan tersenyum Lara meletakkan nasi goreng di hadapan Edgar. "Silahkan dimakan, Tuan." Ucapnya pelan.
__ADS_1
Edgar tak menjawab. Ia meraih piring tersebut dan mencoba memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya. Baru saja nasi goreng tersebut masuk ke dalam mulutnya, Edgar sudah menyemburkannya ke luar.
"Nasi goreng apa ini, kenapa rasanya sangat asin dan pedas!" Ucap Edgar keras lalu meraih air minum di atas meja dan meneguknya hingga tandas.
"Asin dan pedas?" Lara yang ingin membuktikan perkataan Edgar pun mencoba menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Dan tak berbeda jauh dengan Edgar, ia menyemburkan makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya ke luar.
"Apa kau tidak mencoba makanannya lebih dulu di saat kau memasaknya?" Tanya Edgar dan dijawab Lara dengan gelengan kepalanya. "Sebenarnya kau ini bisa masak tidak sih!" Ketus Edgar dengan rasa kesal yang semakin bertambah.
"Ti-tidak, Tuan." Jawab Lara takut dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Perutnya yang sudah sangat lapar dan tidak mungkin bisa diisi dengan makanan yang tidak layak dimakan membuat suasana hatinya jadi buruk mendengar perkataan Edgar.
"Benar-benar menyusahkan. Sekarang begini saja, bawa makanan ini ke belakang dan jangan coba memasak lagi. Untuk sarapan pagimu aku akan memesankannya dari luar!"
***
__ADS_1