Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
S2 - Nasib Buruk Lara


__ADS_3

Edgar menatap Lara yang tengah menikmati makanan dengan sangat lahap. Istrinya itu terlihat sangat menikmati makanannya tanpa perduli jika ada dirinya di dekatnya. Edgar yang juga merasakan lapar pun akhirnya menikmati makanannya sendiri dan sesekali menatap pada Lara.


"Kenyangnya..." Lara mengusap-usap perutnya yang terasa penuh oleh makanan.


"Mau tambah?" Tawar Edgar.


Wajah Lara nampak malu-malu. "Tidak mau tambah, Tuan. Tapi kalau boleh saya bungkus bawa pulang saja."


Edgar tak bersuara. Ia memilih bangkit dari duduknya dan memesan kembali makanan untuk Lara. Melihat gerak-gerik Edgar membuat Lara mengulas senyum. Ia merasa senang karena sosok suaminya itu sangat persis dengan sang ayah yang dulunya suka membelikan makanan untuk dirinya bawa pulang.


"Sudah. Ayo kita pulang." Ajak Edgar.


Lara mengiyakannya. Keduanya pun melangkah meninggalkan restoran dengan Lara memegang paper bag barang belanjaan sementara Edgar memegang plastik berisikan makanan.

__ADS_1


Saat tengah melangkah melewati deretan restoran yang lainnya, Lara menghentikan langkah saat matanya menangkap sosok seorang wanita yang tidak asing di matanya. Wanita itu nampak tengah menikmati makanan dengan beberapa orang teman di dekatnya.


"Ada apa?" Tanya Edgar pada Lara. Ia mengikuti arah pandangan Lara hingga akhirnya pandangannya jatuh pada sosok wanita cantik yang sedang makan di dalam restoran.


"Tidak apa-apa, Tuan." Setelah menjawab, Lara melangkah terburu-buru meninggalkan depan restoran.


Edgar menatap bingung sosok istrinya yang ketakutan seperti melihat setan. "Siapa yang kau lihat tadi?" Tanya Edgar.


Lara tak menjawab. Ia hanya menggeleng sebagai jawaban.


Selama berada di dalam perjalanan menuju apartemen, Lara nampak diam dengan pandangan kosong. Entah apa yang wanita itu pikirkan. Yang jelas wajahnya kini menyiratkan kesedihan.


Tiba di apartemen, Edgar langsung saja berpamitan kembali ke rumah sakit. Lara pun mengiyakannya lalu menutup pintu apartemen setelah kepergian Edgar.

__ADS_1


"Kak Celine, dia nampak bahagia bersama teman-temannya tanpa perduli dengan nasibku saat ini." Lirih Lara mengingat sosok kakak tirinya yang ia lihat di mall tadi.


Lara menjatuhkan bokong di atas sofa dengan pandangan yang nampak kosong. Bayangan masa kecilnya bersama Celine terlintas di dalam benaknya. Bagaimana kakak tirinya itu begitu baik kepadanya begitu pula dengan ibu tirinya. Hingga pada akhirnya kebaikan itu sirna begitu saja setelah sosok sang ayah pergi meninggalkannya selama-lamanya.


"Mereka nampak baik-baik saja setelah menjualku pada Tuan Jacob." Lirih Lara mengingat nasib buruknya yang saat itu dijual oleh ibu tirinya pada Tuan Jacob sang pemilik klub.


Tanpa terasa setetes air mata jatuh membasahi kedua pipi Lara. Masih teringat jelas di benak Lara bagaimana takutnya ia saat itu saat pertama kalinya menginjakkan kaki di klub milik Tuan Jacob.


Segala permohonan Lara agar ibunya mengurungkan niat untuk menjualnya tidak diperdulikan oleh sang ibu. Wanita paruh baya itu justru semakin menggebu-gebu untuk menjualnya hingga akhirnya tersenyum senang saat satu koper uang sudah berada di tangannya.


"Ibu, Kak Celine, kenapa kalian tega pada Lara. Bukankah selama ini Lara sudah berusaha menjadi anak yang baik. Lara juga tidak pernah meminta hal yang macam-macam setelah kepergian ayah. Tapi kenapa kalian jahat pada Lara? Hiks..." gadis muda itu akhirnya menangis tersedu-sedu memikirkan nasibnya yang buruk setelah kepergian sang ayah.


***

__ADS_1


Berikan gift dan vote dulu yuk sebelum lanjutšŸ¤—


__ADS_2