
Pukul lima pagi, Lara pun akhirnya terbangun dari tidur panjangnya. Kedua kelopak matanya yang baru saja terbuka berkedip-kedip mengamati ruangan yang saat ini sedang ia tempati.
"Kamar siapa ini, kenapa aku bisa ada di sini?" Gumam Lara. Pandangannya pun mengedar mencari sebuah petunjuk hingga akhirnya pandangannya jatuh pada sebuah sosok yang sedang tidur meringkuk di atas sofa.
"Tuan Edgar!" Gumam Lara dengan kedua kelopak mata terbuka sempurna. Rasa kantuk yang masih ia rasakan tadi pun akhirnya hilang sepenuhnya. "Apa saat ini aku sedang berada di kamar Tuan Edgar?" Ucap Lara kemudian dengan wajah berubah pias. Ia masih mengingat dengan jelas bentuk kamar yang ia tempati semalam dan jelas saja kamar yang sedang ia tempati saat ini bukanlah kamarnya.
Dengan gerakan pelan tapi pasti, Lara turun dari atas ranjang. Ia melangkah pelan ke arah pintu kamar untuk keluar dari dalam kamar. Lara menghembuskan napas lega setelah berada di luar kamar.
"Syukurlah bukan Tuan Edgar yang bangun lebih dulu. Dia bisa marah besar jika terbangun melihat aku menempati ranjangnya." Lara mengusap-usap dadanya. Lara pun mulai berpikir bagaimana caranya ia bisa berada di kamar milik Edgar karena seingatnya tadi malam ia masih berada di dalam mobil Edgar dan tidak tahu lagi apa yang terjadi setelahnya.
Lara pun mengusir pertanyaan yang bersarang di dalam benaknya dengan berpikir hal lain. "Aku harus melakukan apa ya pagi ini? Memasak sudah jelas tidak boleh. Apa aku membersihkan apartemen ini saja?" Tanya Lara. Sedikit banyaknya ia masih merasa sadar diri jika dirinya harus membantu pekerjaan di apartemen Edgar mengingat statusnya saat ini dan Edgar sudah memberikan tempat tinggal yang nyaman untuk dirinya.
__ADS_1
"Baiklah, aku membersihkan apartemen saja. Untuk sarapan, semoga saja Tuan Edgar berbaik hati membelikan sarapan lagi untukku." Putus Lara kemudian. Sebelum membersihkan dan membereskan apartemen Edgar, Lara memilih mencuci wajahnya dan menggosok gigi lebih dulu di dalam kamar tamu yang kemarin di tempati olehnya.
*
Tak berselang lama setelah Lara terbangun dari tidurnya, Edgar pun ikut terjaga. Dilihatnya ke arah ranjang dimana Lara sudah tidak lagi berada di sana. Menyadari jika istrinya sudah pergi meninggalkan kamar, Edgar pun segera bangkit dari pembaringannya.
"Aku harus melihat apa yang dia lakukan pagi ini sebelum dia membuat kekacauan seperti hari kemarin." Gumam Edgar.
"Tuan Edgar, anda sudah bangun?" Lara mencoba tersenyum saat menatap wajah Edgar walau dalam hati ia merasa takut akan dimarahi lagi oleh pria itu.
Edgar tak menjawab. "Kau sedang melakukan apa?" Tanyanya balik.
__ADS_1
"I-ini, saya sedang beres-beres, Tuan. Maaf hanya ini yang bisa saya bantu dan mohon jangan marahi saya." Ucap Lara dengan suara bergetar menahan takut.
Dahi Edgar mengkerut dalam mendengar perkataan Lara. Siapa juga yang ingin memarahi Lara setelah wanita itu membantu membersihkan dan membereskan apartemennya pagi-pagi begini.
"Lanjutkan pekerjaanmu. Aku akan membuatkan sarapan untuk kita." Ucap Edgar.
Kedua kelopak mata Lara berkedip-kedip mendengar perkataan Edgar. "Membuat sarapan untuk kita? Apa Tuan pandai memasak?" Tanya Lara.
"Pertanyaan yang tidak harus dijawab. Jika aku tidak pandai memasak lantas kenapa aku ingin membuat sarapan untuk kita?" Tanya Edgar datar. Dan tanpa menunggu jawaban dari Lara, Edgar pun melangkah begitu saja ke arah dapur.
"Tuan Edgar, dia baik sekali ingin membuatkan sarapan untukku. Apa aku bisa menganggapnya sebagai pengganti ayah karena dulu saat ayah masih ada ayah suka membuatkan sarapan untukku." Gumam Lara.
__ADS_1
***